MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 28 Juli 2019 06:44
Mengadang Hadangan di Kalang Rawa, Seekor Betina Rp25 Juta
BERBARIS: Kerbau rawa di Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, bersiap turun dari kalang (kandang) yang berdiri di atas perairan rawa. | Foto : Juniansyah untuk Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, AMUNTAI - Inilah Kalimantan Selatan dengan kisah eksotismenya yang menawan. Hamparan rawa yang membentang di tiga kabupaten menyajikan pemadangan unik. Kisah hadangan yang menjadi tradisi dan simbol status sosial masyarakat rawa. 

Eksotisme Kalimantan Selatan sebagai daerah rawa sangat identik dengan ternak kerbau rawa. Hewan yang memiliki nama latin babulus bubalis carabanesis atau lebih populer disebut warga setempat hadangan, memiliki keunikan dibandingkan kerbau yang hidup di darat.  Ciri utama hadangan adalah kemampuannya berenang di air yang dalam, bahkan di rawa yang dipenuhi semak belukar.

Menjelang matahari terbit kerbau-kerbau ini dilepasliarkan dari kandangnya yang biasa disebut kalang. Kandang atau kalang ini dibuat di tengah rawa. Menjelang matahari terbenam kerbau ini digiring atau kadang dengan sendirinya berenang masuk ke dalam kalang. 

Sebaran hewan yang memiliki tanduk cukup panjang ini berada di tiga kabupaten yang disatukan oleh kawasan rawa, yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) populasi ternak kerbau rawa tersebar di tujuh desa di Kecamatan Paminggir yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah.

Tujuh desa itu adalah Paminggir, Paminggir Seberang, Pal Batu, Ambahai, Sapala, Tampakang, dan Bararawa. Data yang diperoleh Radar Banjarmasin di Bagian Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten HSU, dalam dua tahun terakhir jumlah kerbau rawa mengalami penurunan populasi. Sebelumnya berjumlah 9.342 ekor menjadi jadi 7.415 ekor atau berkurang sekitar 1.927 ekor.

Mengapa populasi ternak kerbau rawa di Hulu Sungai Utara menurun? Ancaman peternak kerbau bukan masalah perkebunan sawit. Sampai saat ini di Kecamatan Paminggir belum ada perkebunan sawit. Ancaman nyata kerbau perenang tersebut yakni musim dan parasit atau penyakit cacing hati. 

"Penurunan jumlah lebih disebabkan faktor musim. Saat hujan semua lokasi untuk merumput atau kumpai terendam air bahkan larut. Banyak hewan ternak yang mati kelaparan atau dijual pemilik agar menghindari kerugian," sebut Kabid Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten HSU Akhmad Rijani. Saat menghadapi musim hujan itulah banyak kerbau rawa terserang penyakit cacing hati hingga menyebabkan kematian. 

"Saat ini banyak kerbau sudah mulai bunting dan beranak hingga populasi kembali bertambah mencapai 8.600 ekor," ujarnya. Bahkan, lanjutnya, bagi masyarakat Paminggir, memiliki kerbau rawa menjadi simbol strata sosial warga. Semakin banyak memiliki kerbau, semakin tinggi strata sosialnya dan dianggap mampu secara ekonomi.

Sementara saat musim kemarau justru lokasi merumput kerbau rawa semakin luas. Karena air rawa menyusut dan tumbuhan kumpai bisa tumbuh subur. Meski lokasi berkubang kerbau berkurang, tapi masih ada sungai yang menjadi alternatif. "Daerah ini luar biasa. Saat daerah lain kekeringan, HSU malah produktif. Kerbau bunting begitu juga petani lahan rawa panen raya. Jadi kerbau rawa masih menjadi bagian kearifan lokal warga Paminggir. Jadi, kerbau rawa masih jauh dari kepunahan," paparnya. 

Gempuran ternak baru berupa sarang walet juga diyakini Rijani tak menjadi ancaman bagi eksistensi kerbau rawa. H Fahri, peternak kerbau rawa di Desa Tampakang mengaku membangun gedung walet bukan untuk meninggalkan ternak kerbau."Kerbau ternak jalan, peluang walet juga diambil. Jadi kerbau tetap menjadi ternak kebanggaan turun temurun orang tua kami," katanya.

Kalau di Kabupaten Hulu Sungai Utara beternak kerbau rawa dianggap kebanggaan, maka di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, beternak kerbau rawa dianggap cukup menjanjikan. Selain biaya pemeliharaannya yang relatif rendah, kerbau rawa memiliki harga jual yang cukup tinggi. Hal itu pula yang membuat masyarakat tertarik untuk memelihara hewan berbadan besar juga bertanduk itu.

Di kabupaten yang memiliki julukan Bumi Muraka (Mufakat Rakat dan Seiya Sekata) ini, ada tiga kawasan yang terkenal sebagai sentra peternak kerbau rawa. Yakni masyarakat di Desa Sungai Buluh, Desa Rantau Bujur dan Desa Mantaas. Semua desa tersebut berada di Kecamatan Labuan Amas Utara (LAU).

Kepala Desa Mantaas, Mahyuni, mengungkapkan dari catatan di tahun 2018 lalu sedikitnya ada 21 peternak. Jumlah itu kian bertambah seiring dengan banyaknya permintaan konsumen terhadap hewan tersebut. Terlebih, karena sistem penggemukan dan peternakan yang dilakukan oleh masyarakat setempat.

Jumlah kerbau yang diternak bervariatif. Untuk satu orang peternak saja bisa memelihara sedikitnya 20 kerbau betina dan 5 kerbau jantan. Ada juga yang memelihara sampai 50 kerbau, ungkapnya. Dalam setahun umumnya peternak bisa menghasilkan 10 hingga 15 kerbau. 

Kerbau rawa yang dihasilkan dijual dengan harga yang bervariatif pula. Sebagai contoh, seekor betina besar yang disebut warga kerbau parinduan harganya bisa mencapai Rp25 juta. Jangan heran bila peternak cukup gampang untuk bisa memiliki sebuah mobil, ungkapnya sambil terkekeh. Umumnya permintaan konsumen terhadap kerbau meningkat menjelang hari raya kurban dan maulid.

Hal senada juga diungkapkan Kepala Desa Sungai Buluh, M Ramli. Dia mengatakan, populasi kerbau rawa di Kabupaten HST hingga kini masih bisa terjaga. Meski begitu, bukan berarti selalu berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah peternak. Tiap tahun populasinya bisa dikatakan berkurang. Lebih banyak kerbau yang dipotong atau dijual dibandingkan jumlah yang lahir. Belum termasuk terkena virus penyakit, tuntasnya.

di Kabupaten HST ternak kerbau rawa berkumpul rawa Awang Landas. Akses hanya bisa dilalui dengan menggunakan perahu. Jarak ke lokasi bisa ditempuh dalam waktu satu jam perjalanan. Namun, bila musim kemarau seperti sekarang,  menuju ke kawasan tersebut bisa memakan waktu dua jam perjalanan. Bukan tanpa alasan mengapa waktu tempuh menjadi panjang. Gulma yang berkumpul dan kerap merintangi perjalanan membuat laju perahu terhambat. 

Di Kabupaten HSS kerbau rawa banyak dibudidayakan di Nagara atau Kecamatan Daha. Ada dua Kecamatan Daha yang menjadi sentra ternak kerbau rawa, yaitu Kecamatan Daha Utara dan Daha Barat. 

Kasi Pembibitan dan Produksi Dinas Pertanian HSS, Sahuri menjelaskan bahwa kerbau rawa di Kecamatan Daha Barat terdapat di Desa Bajayau Lama. Sedangkan di Kecamatan Daha Utara terdapat di empat desa, yaitu Desa Pandak Daun, Hakurung, Paharangan dan Taluk Haur. Saat ini populasinya ada sekitar seribu ekor.

Kecamatan Daha Barat ada dua kelompok dengan populasi sekitar 300 ekor dan di empat desa di Kecamatan Daha Utara ada tujuh kelompok dengan populasi kerbaunya sekitar 700 ekor, rincinya. (mar/war/shn/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 Oktober 2019 10:04

Minat ke Pesantren Bertambah, Tapi Santri Masih Sulit Kuliah Negeri

Seluruh Pondok Pesantren (Ponpes) memperingati Hari Santri Nasional (HSN) kemarin…

Selasa, 22 Oktober 2019 12:12

Kisah Dibalik Gerakan Gerobak Amal: Ajak Teman Beramal Lewat Medsos

Namanya Gerobak Amal. Menyediakan makanan gratis, dari nasi kotak sampai…

Kamis, 17 Oktober 2019 11:52

TERUNGKAP..! Dari Pengidap AIDS di Banjarbaru: Banyak Pria Suka Pria Secara Rahasia

HIV/AIDS di Banjarbaru setiap tahunnya selalu merenggut nyawa. Jumlah kasusnya…

Rabu, 16 Oktober 2019 14:29

Pontang-Panting Rumah Sakit Pikirkan Skema Pembiayaan BPJS

Tunggakan klaim BPJS Kesehatan memusingkan banyak rumah sakit di Indonesia.…

Selasa, 15 Oktober 2019 13:03

Ofisial, Pelatih, dan Panitia Baku Hantam di Kejuaraan Karate

Keinginan Lemkari Kabupaten Banjar untuk menyelenggarakan kejuaraan karate bergengsi untuk…

Senin, 14 Oktober 2019 12:25

Berbincang dengan Kolektor Oeang Tempo Doeloe

Banting tulang siang dan malam demi Rupiah. Gali lubang lalu…

Minggu, 13 Oktober 2019 07:21

Lantunkan Ayat dengan Jari: Sudah Bisa Khatam, Ingin Terus Dalami Kitab Suci

Memiliki keterbatasan, bukan berarti kehilangan semangat. Buktinya, puluhan anggota persatuan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:01

Gratiskan Honor untuk Safrah Amal, Bila Tak Manggung Jualan Es Keliling

Banua kehilangan satu lagi seniman gaek yang konsisten di jalurnya,…

Selasa, 08 Oktober 2019 10:20

Kalayangan Pagat, Grup Band yang Kampanyekan #SaveMeratus

Melalui dua lagu berjudul Merakus dan Rimba Terakhir, band bergenre…

Selasa, 08 Oktober 2019 09:48

Pengakuan Sang Penikam Ayah Tiri: Sakit Hati Melihat Ibu Disakiti

Sang penikam ayah tiri, Arafiq (22) telah dijebloskan ke sel…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*