MANAGED BY:
SELASA
22 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Jumat, 02 Agustus 2019 10:52
Percaya atau Tidak, Urang Miskin di Banua Berkurang, Menurut Data BPS
KEHIDUPAN BAWAH JEMBATAN: Petugas Satpol PP Kota Banjarmasin membongkar gubuk tak layak yang dibangun di kolong Jembatan Antasari, (14/3). Keberadaan warga di bawah jembatan masih menunjukkan adanya orang miskin di perkotaan. | DOK/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARMASIN – Percayakah Anda dengan angka dan data? Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel, Kamis (1/8), merilis angka kemiskinan di Banua. Percaya atau tidak, berdasarkan data terakhir BPS, penduduk miskin di Kalsel pada periode September 2018 hingga Maret 2019 berkurang sekitar 2.530 orang.

Dengan perbandingan pada September 2018, BPS Kalsel mencatat warga miskin di Banua berjumlah 195.010 ribu. Sedangkan, Maret 2019 turun menjadi 192.048 ribu orang.

Angka tersebut menempatkan tingkat kemiskinan di Kalsel menjadi yang terendah di regional Kalimantan, dengan persentase 4,55 dari total penduduk.

Sementara, tingkat kemiskinan tertinggi terjadi di Kalbar yaitu sebesar 7,49 persen. Kepala BPS Kalsel Diah Utami melalui Kabid Statistik Sosial Agnes Widiastuti mengatakan, untuk mengukur angka kemiskinan mereka melihat dari pemenuhan kebutuhan dasar penduduk.

"Dengan pendekatan ini, kemiskinan dilihat dari ketidakmampuan sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran," katanya.

Dijelaskannya, metode pengukuran yang dilakukan menghitung Garis Kemiskinan (GK) penduduk, yang terdiri dari dua komponen; Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM).

"Penghitungan garis kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan," ujarnya. Agnes mengungkapkan, jika penduduk memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, maka dikategorikan sebagai warga miskin.

"Garis kemiskinan di Kalimantan Selatan sendiri  sebesar Rp457.222 perkapita per bulan," ungkapnya.

Dilihat dari pengukuran yang mereka lakukan, dia menjelaskan banyak faktor yang memengaruhi menurun dan meningkatnya jumlah penduduk miskin di Kalsel. Di antaranya, kondisi harga sejumlah komoditi. Seperti, karet, sawit dan gabah.

"Berkebun dan bertani masih menjadi pekerjaan utama di desa, sehingga turun dan naiknya harga komoditi yang dihasilkan tentu akan mempengaruhi penghasilan mereka," ujarnya.

Hal senada disampaikan pengamat sosial dan kebijakan publik dari Universitas Lambung Mangkurat, Nurul Azkar. Dia mengungkapkan, yang memengaruhi angka kemiskinan ialah pendapatan sehari-hari yang dihasilkan penduduk.

"Kalau banyak penduduk berpenghasilan minim, maka angka kemiskinan akan naik. Sebaliknya, kalau penghasilan maksimal maka angka kemiskinan turun," ungkapnya. 

Dia menuturkan, biasanya kesulitan seringkali dihadapi masyarakat di desa dalam meningkatkan penghasilan. Lantaran sebagian besar masyarakat hanya berprofesi sebagai petani.

"Ketika harga jual hasil kebun dan sawah turun, maka penghasilan mereka juga turun. Ini harus ada peran dari pemerintah, bagaimana agar harga jual petani tak menurun," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu membentuk lembaga sejenis Bulog untuk menampung hasil-hasil perdesaan yang berkaitan dengan ekonomi global. Seperti karet dan sawit.

"Jika harga hasil desa murah, Bulog daerah ini bertugas untuk menampungnya. Dan ketika harga naik dilepas saja ke pasar. Dengan begitu penghasilan petani tetap stabil," ujarnya.

Namun untuk hasil pertanian yang cepat rusak, seperti lombok, tomat dan singkong. Dia menyarankan sebaiknya masyarakat membudayakan mengonsumsi makanan berbahan dasar hasil petani. Tentu saja agar penghasilan mereka tidak turun.

"Mari kita tinggalkan budaya makanan cepat saji berbahan dasar non pertanian lokal," pungkasnya. (ris/tof/ema)


BACA JUGA

Kamis, 29 Agustus 2019 11:01

Progres Pembangunan Restoran Terapung Lamban, Bisakah Kejar Target Sebelum Peresmian Hari Jadi Banjarmasin?

BANJARMASIN – Restoran Terapung yang sedang dibangun di tepi Siring…

Sabtu, 03 Agustus 2019 11:25

Proyek Jembatan Sungai Lulut Belum Bisa Dimulai, Padahal Jembatan Darurat Sudah Dibangun, Ternyata Gara-gara ini

BANJARMASIN - Memasuki, proyek pembangunan tiga jembatan di kawasan Sungai…

Jumat, 02 Agustus 2019 10:52

Percaya atau Tidak, Urang Miskin di Banua Berkurang, Menurut Data BPS

BANJARMASIN – Percayakah Anda dengan angka dan data? Badan Pusat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*