MANAGED BY:
SELASA
15 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 04 Agustus 2019 18:08
Gelaran Perdana yang Mempesona, Tamu Datang dari Luar Kalsel

Menari Bersama di Tradisi Mesiwah Pare Gumboh Dayak Deyah

MENARI BERSAMA: Para penari membaur bersama pengunjung hingga mengajaknya menari bersama.

PROKAL.CO, Satu persatu pengunjung ditarik masuk ke dalam lapangan. Membaur bersama para penari. Meski dengan gerakan patah-patah, pengunjung dengan semangat ikut menari. Malam itu,  bukan hanya milik Dayak Deyah tapi juga milik para pengunjung yang hadir.

 

WAHYU RAMADHAN, Balangan 

 

Jauh dari keriuhan pusat kota, warga Desa Liyu dan Gunung Riut, sukses membuat pengunjung terkesima. Mereka yang datang, tak hanya dijamu dengan aneka makanan dan minuman. Tapi, juga diajak menari, hingga menyaksikan khidmatnya ritual adat.

Baik laki-laki maupun perempuan. Tua, muda, hingga anak-anak, tumpah ruah di ruas jalan Desa Liyu. Masing-masing dari mereka, memegang obor yang menyala. Tak ketinggalan juga mengangkut hasil panen. Mulai dari berbagai jenis beras, sayur, buah-buahan, telur, ayam, berikut pernak-pernik yang diperlukan untuk keperluan ritual.

Mereka yang semula berkumpul, mulai berjalan perlahan, sembari mengarak barang bawaan hingga ke panggung terbuka yang disulap menjadi Balai (baca: tempat pusat ritual adat digelar) yang letaknya tak jauh dari titik kumpul perarakan. Arak-arakan yang dilakukan oleh Masyarakat Adat Dayak Deyah Kabupaten Balangan, pada Jumat (26/7) malam, itu menandai dimulainya rangkaian acara Tradisi Mesiwah Pare Gumboh atau Syukuran Pesta Panen Bersama, yang berlangsung hingga Minggu (28/7).

Di Balai yang bentuknya persegi panjang itu, sudah duduk Kepala Adat Dayak Deyah setempat, Ali Ancin. Mengenakan rompi dan penutup kepala yang terbuat dari kulit kayu, serta kalung dari gigi serta taring hewan, dia duduk bersila, satu saf bersama dengan para Balian. Menunggu warga yang mengarak segala bahan ritual, untuk kemudian diletakkan ke hadapan mereka. Balian sendiri dalam kepercayaan Masyarakat Adat Dayak, bertugas menghubungkan dunia bawah dengan dunia atas. Termasuk, urusan dengan roh manusia yang telah meninggal.

Sesampainya di Balai, satu persatu warga, meletakkan barang bawaannya. Perlahan, Ali Ancin bersama dengan Balian lainnya mulai merapal mantra dengan nyaring. Mantra pertama, dirapalkan dengan menggunakan bahasa Banjar. Mantra selanjutnya, dirapalkan dengan berbahasa Dayak Deyah.

Samar-samar, penulis menangkap apa yang dirapalkan. Mulai dari ucapan selamat datang, puja puji, ungkapan syukur dan terima kasih, hingga doa-doa permohonan yang di antaranya agar segala marabahaya dienyahkan dari kedua desa yang menggelar pesta. Semua itu, dilakukan sekitar hampir satu jam.

Selesai merapal mantra, maka selesai pula prosesi pertama dalam gelaran Mesiwah Pare Gumboh. Ke depan atau di hari selanjutnya, barang bawaan berupa hasil panen beserta pernak-perniknya itu, diolah menjadi masakan jadi untuk kemudian disajikan kepada arwah para leluhur dan dibagikan kepada warga setempat atau pengunjung yang ingin ikut mencicipi bersama.

Tiga alat musik yakni Lumba, Agung, dan Kalangkupak, menyentak nyaring malam itu. Tabuhan dan ketukan ketiga alat musik tadi, menyatu menjadi alunan nada etnik yang nyaman didengar. Bersamaan dengan itu, para penari yang terdiri dari anak-anak dengan mengenakan kostum adat, berjejer di lapangan. Tepat di depan Balai. Dengan gerakan sederhana nan apik, mereka menampilkan ragam tarian, seirama dengan alunan nada.

Keseruan itu datang silih berganti. Kali ini, tidak hanya anak-anak. Beberapa pemuda dan orang tua turut menampilkan kebolehannya. Mereka, menari sembari mengarahkan jilatan api obor yang menyala ke sekujur pergelangan tangan hingga badan. Tak terbakar, hanya meninggalkan bekas hitam coreng di beberapa bagian tubuh penari.

Selang beberapa waktu, seperti yang disampaikan sebelumnya, malam itu satu persatu pengunjung juga ditarik oleh para penari untuk masuk ke lapangan membaur bersama. Hasilnya, meski dengan gerakan yang kaku, pengunjung pun tumpah ruah ikut menari di lapangan. Malam itu, hingga berakhirnya rangkaian acara Mesiwah Pare Gumboh, bukan hanya milik Dayak Deyah di Kabupaten Balangan. Melainkan, juga milik para pengunjung yang berhadir. Itulah keinginan warganya, agar semua yang hadir turut berbahagia dan merasakan manfaatnya.

Tradisi Mesiwah Pare Gumboh Dayak Deyah Kabupaten Balangan, yang digelar tahun ini di Desa Liyu, merupakan acara syukuran terbesar yang pernah digelar. Kepala Adat Dayak Deyah setempat, Ali Ancin, menuturkan bahwa sebelumnya tradisi ini dilaksanakan oleh masing-masing warga Adat Dayak Deyah.

Melihat hasil panen tahun ini melimpah, maka diputuskan agar pelaksanaan tradisi dilakukan bersama dan secara besar-besaran," ungkapnya.

Rencana tersebut, lantas mendapatkan dukungan dari seluruh pihak terkait. Termasuk pemerintah setempat. Gelaran ini, dipandang tak hanya sekadar acara seremonial belaka. Melainkan, juga untuk melestarikan budaya lokal, sekaligus menjadi ajang promosi berbagai adat budaya serta kesenian Dayak Deyah Kabupaten Balangan.

Seluruh persiapan hingga selesai acara, dilakukan bersama-sama atau gotong royong," ungkapnya. Dia menambahkan, gelaran ini juga pertamakalinya dilaksanakan dengan dipertontonkan kepada seluruh pengunjung, langsung dari prosesi awal berupa arak-arakan.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Desa Liyu, Riduansyah, tak menyangka bahwa kegiatan tersebut bakal menarik perhatian banyak orang. Pengunjung tak hanya datang dari Provinsi Kalsel, melainkan juga dari luar daerah yakni dari Pulau Jawa.

Padahal desa ini terletak cukup jauh dari pusat ibu kota Kalsel. Melihat antusias masyarakat serta pengunjung seperti ini, kami yakin bakal bisa menggelar kegiatan seperti ini tiap tahunnya," ucapnya.

Desa Liyu, Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, tak lebih dari 332 kilometer dari Kota Banjarmasin. Bila ditempuh dengan kendaraan roda empat, untuk sampai ke desa tersebut, memakan waktu sekira 9 jam perjalanan.

Sepanjang perjalanan menuju Desa Liyu, Anda bakal ditemani dengan deretan perkebunan karet, lahan pertanian, di kiri kanan jalan. Tak ketinggalan, panorama alam berupa pegunungan. Akses jalan menuju Desa Liyu, cukup terbilang mulus beraspal. Meskipun sebagian jalannya, tampak berlubang, tak menjadi kendala berarti.

Lelah diperjalanan terbayar. Ini gelaran perdana tapi mempesona. Selain seni tradisinya, sambutan masyarakat terhadap pengunjung juga patut diacungi jempol. Sebagai contoh, kita tak perlu khawatir mencari tempat menginap karena masyarakatnya menyediakan rumah bagi para pengunjung yang ingin menginap," tuntas Maya, pengunjung asal Jakarta.(by/ran)


BACA JUGA

Selasa, 15 Oktober 2019 13:03

Ofisial, Pelatih, dan Panitia Baku Hantam di Kejuaraan Karate

Keinginan Lemkari Kabupaten Banjar untuk menyelenggarakan kejuaraan karate bergengsi untuk…

Senin, 14 Oktober 2019 12:25

Berbincang dengan Kolektor Oeang Tempo Doeloe

Banting tulang siang dan malam demi Rupiah. Gali lubang lalu…

Minggu, 13 Oktober 2019 07:21

Lantunkan Ayat dengan Jari: Sudah Bisa Khatam, Ingin Terus Dalami Kitab Suci

Memiliki keterbatasan, bukan berarti kehilangan semangat. Buktinya, puluhan anggota persatuan…

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:01

Gratiskan Honor untuk Safrah Amal, Bila Tak Manggung Jualan Es Keliling

Banua kehilangan satu lagi seniman gaek yang konsisten di jalurnya,…

Selasa, 08 Oktober 2019 10:20

Kalayangan Pagat, Grup Band yang Kampanyekan #SaveMeratus

Melalui dua lagu berjudul Merakus dan Rimba Terakhir, band bergenre…

Selasa, 08 Oktober 2019 09:48

Pengakuan Sang Penikam Ayah Tiri: Sakit Hati Melihat Ibu Disakiti

Sang penikam ayah tiri, Arafiq (22) telah dijebloskan ke sel…

Senin, 07 Oktober 2019 13:01

Melihat Cara PDAM-PDAM se-Banua Bertahan dari Krisis Air di Musim Kemarau

Musim kemarau membuat semua daerah di banua dilanda kekeringan. Warga…

Sabtu, 05 Oktober 2019 12:22

Bangkai Kapal Perang Belanda Onrust di Sungai Barito Timbul

Bangkai Kapal Perang Belanda Onrust yang tenggelam tahun 1859, timbul…

Kamis, 03 Oktober 2019 12:24

Wamena Kerusuhan, Bagaimana Nasib Mahasiswa Papua di Kalsel?

Kerusuhan di Wamena membuat kekhawatiran warganya yang berada di perantauan,…

Senin, 30 September 2019 12:10

Kisah Dadang Dian Hendiana, Mengawal Pengembangan Bandara

Kemegahan terminal baru Bandara Syamsudin Noor kini telah terlihat. Kurang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*