MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Kamis, 15 Agustus 2019 11:08
900 Hektare Lahan di Kalsel Sudah Terbakar
BERJIBAKU: Petugas memadamkan api di Jalan Gubernur Syarkawi, Landasan Ulin, Selasa( 13/8). | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARBARU - Panasnya cuaca dalam dua bulan terakhir membuat karhutla rentan terjadi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel mencatat, hingga kini sudah 931 hektare lahan yang terbakar selama 2019.

Kepala BPBD Kalsel Wahyuddin mengatakan, berdasarkan catatan mereka, lahan paling luas terbakar berada di Tanah Laut dengan luasan sekitar 176 hektare. Disusul Tapin; 162 hektare, Balangan; 142 hektare dan Banjarbaru; 98 hektare.

"Selain di empat daerah itu, karhutla juga sering terjadi di Kabupaten Banjar. Total lahan yang terbakar di sana sudah 53 hektare," katanya.

Dia mengungkapkan, semenjak cuaca panas dalam dua bulan terakhir karhutla hampir terjadi setiap hari. "Saban hari ada dua sampai tiga titik kami temukan," ungkapnya.

Selasa tadi misalnya, Satgas Karhutla, dibuat kelimpungan dengan munculnya titik api di Jalan Gubernur Syarkawi, Landasan Ulin. Setidaknya, mereka memerlukan waktu hingga ber jam-jam untuk memadamkan api yang melalap lahan gambut yang ada di sana. "Kami harus mengerahkan heli water bombing untuk memadamkan api di sana," ucap pria yang akrab disapa Ujud ini.

Kepala Posko Operasi Karhutla Intan Polda Kalsel AKP Husnil Mubarok saat berada di lokasi kebakaran mengungkapkan, api yang melalap lahan di Jalan Gubernur Syarkawi muncul sejak pukul 13.30 Wita. Namun, hingga 15.30 Wita belum juga bisa dipadamkan.

"Anginnya sangat kencang, sehingga api cepat menjalar. Belum lagi yang terbakar adalah lahan gambut jadi sulit dipadamkan," ungkapnya.

Usaha pemadaman sendiri dilakukan oleh satgas gabungan, mulai dari TNI, polisi, BPBD, Manggala Agni hingga BPK setempat. "Perlu heli untuk memadamkan kebakaran lahan seluas ini," beber Husnil.

Ditambahkannya, lahan yang terbakar diprediksi lebih dari satu hektare. "Luasnya terus bertambah, lantaran derasnya angin," tambahnya.

Hal senada disampaikan anggota Brimob Kalsel, Barada Naibaho saat ikut berjibaku memadamkan api di sana. Dia menuturkan, awalnya lahan yang terbakar hanya sedikit akan tetapi apinya cepat membesar dan menjalar akibat derasnya angin.

"Padahal di lokasi ada air, tapi kami tetap saja keteteran untuk menghalau api supaya tidak merembet," paparnya.

---
Sementara itu, dalam dua hari terakhir, hujan tiba-tiba mengguyur sejumlah wilayah di Kalsel. Setelah sebelumnya hampir satu bulan tidak ada hujan, lantaran musim kemarau.

Turunnya hujan pun menimbulkan pertanyaan, apa gerangan penyebabnya? Ada yang menduga air yang turun dari langit merupakan hujan buatan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan. Adapula yang mengira, hujan pertanda musim basah segera tiba.

Saat dikonfirmasi, Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor, Bayu Kencana Putra menepis semua dugaan itu. Dia menjelaskan, hujan ringan hingga sedang yang terjadi di wilayah Kalsel bagian Utara dan Barat dikarenakan kelembaban yang cukup basah di lapisan atas. Serta adanya potensi konvektif dari faktor lokal, dengan nilai indeks labilitas atmosfer sedang.

"Jadi bukan hujan buatan ataupun karena musim mau berubah," jelasnya.

Dia menambahkan, musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan. Sebab, ada sejumlah fenomena alam yang bisa menyebabkan turunnya hujan. "Kecuali kalau akumulasi curah hujan lebih dari 50 mm per dasarian, baru bisa disebut sebagai musim hujan," tambahnya.

Hujan yang turun dalam dua hari terakhir, menurutnya tidak memicu adanya angin kencang ataupun petir. Sebab, hujan terjadi karena disebabkan oleh faktor lokal. "Yang bisa menimbulkan cuaca ekstrem faktornya biasanya dari MJO atau ada sirkulasi di sekitar wilayah Kalimantan," ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Seksi Pengolahan Data pada BMKG Kalsel Stasiun Klimatologi Klas I Banjarbaru, Miftahul Munir membenarkan jika hujan turun bukan berarti musim akan berganti. Karena, sebagian besar wilayah Kalsel justru diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus-September.

"Puncak kemarau tahun ini juga kemungkinan lebih panas dari tahun lalu," bebernya.

Dia menjelaskan, berdasarkan data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), 2019 akan menjadi tahun terpanas peringkat tiga semenjak dilakukan pencatatan pada 1880. "Jadi bukan terpanas dalam sejarah dunia. Melainkan, terpanas peringkat ketiga," jelasnya.

Lanjutnya, berdasarkan catatan NOAA sejak 1880, cuaca terpanas dalam hitungan tahun terjadi pada 2016. Sedangkan, terpanas kedua pada 2017. "Tapi kalau hitungan bulan, Juni 2019 tadi menjadi Juni terpanas semenjak 1880," ucapnya.

Cuaca panas sendiri menurutnya bukan hanya dipengaruhi oleh adanya El Nino. Akan tetapi, dikarenakan tren global warming. "Kalau hanya El Nino, mungkin bisa menyebabkan sebagian besar Indonesia panas. Tetapi di negara lain, seperti Amerika malah bisa terjadi hujan di atas rata-rata," ujarnya.

Untuk tahun ini, Munir menyebut kemungkinan terjadi El Nino ringan atau moderate. Akan tetapi, dampaknya belum terasa lantaran suhu muka laut di Indonesia masih panas. "Pengaruhnya masih terhambat, karena tingginya suhu muka laut Indonesia," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 10:54

Teroris Berpotensi Masuk ke Kalsel, TNI-Polri dan Pemda Gelar Apel Kesiapsiagaan

Suara ledakan berulang kali terdengar di Lapangan Mako Satuan Brimob…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:50

SDM Jadi Fokus Pembangunan Kalsel 2020

BANJARMASIN – Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RPBD) Pemprov…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:46

LOWONGAN CPNS: Kalsel Siapkan 1.900 Kursi

BANJARMASIN – Pemerintah menyediakan 100 ribu kursi untuk calon pegawai…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:40

Kaltim Kandidat Ibukota Indonesia, Jokowi: Masih Tunggu Kajian Lagi

BANJARMASIN – Meski Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:37

Tunggu Usulan Ketua DPRD Sementara

BANJARMASIN - Pemenang pileg April tadi bakal dilantik 9 September…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:28

Jabatan Berakhir, Mobil Dinas Anggota Dewan Ditarik

BANJARMASIN - Masa jabatan anggota DPRD Kalsel akan berakhir. Semua…

Jumat, 23 Agustus 2019 10:15

Banjarmasin Segera Punya Bus Trans, Target Beroperasi: Tahun 2020

BANJARMASIN – Bus Trans Banjarmasin mulai diwujudkan. Namun, bertahap. Dinas…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:49
SMK PP Negeri Banjarbaru

PWMP 2019, SMKPP N Banjarbaru Bentuk 15 Kelompok Baru

Banjarbaru - Program Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian (PWMP) SMK-PP Negeri…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:29

Demo Mahasiswa UIN: Ini Universitas, Bukan Pasar!

BANJARMASIN – Demo dilakukan puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN)…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:27

Putar Balik Makin Jauh, U-Turn VDP dan PJR Bakal Ditutup

BANJARBARU - Arus lalu lintas (lalin) di Kota Banjarbaru kian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*