MANAGED BY:
SELASA
17 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 19 Agustus 2019 09:07
Maraknya Bisnis Akar Bajakah Bikin Khawatir Walhi Kalsel
Pegunungan Meratus

PROKAL.CO, BANJARBARU - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalsel sedang was-was dengan maraknya transaksi niaga bajakah. Yakni, akar yang disebut-sebut bisa menyembuhkan penyakit kanker.

Pasalnya, Direktur Eksekutif Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono mengatakan, jika jual beli bajakah semakin tinggi dikhawatirkan eksploitasinya pun bertambah besar. Hal itu tentu berdampak buruk terhadap lingkungan.

"Sesuatu yang diambil secara besar-besaran tentu akan berdampak terhadap lingkungan, karena keberadaannya tidak lestari lagi," katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Eksploitasi akar sendiri dikhawatirkan hingga merambah ke Pegunungan Meratus, karena dia menyebut di sana juga ada jenis tanaman liar yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku farmakope herbal. Seperti, matoa, jualing, bilaran tapah, racun ayam, dan mundar.

"Tanaman-tanaman itu memiliki senyawa antioksidan untuk pengobatan kanker, jantung, dan sebagainya," sebutnya.

Untuk itu, sebelum eksploitasi akar-akaran obat tak terkendali dia berharap seluruh pihak terkait segera mengantisipasinya. "Harus ada aturan untuk mengambil akar obat, sehingga orang tidak bisa sembarangan jika ingin mengambilnya di hutan," harapnya.

Salah satu aturan yang bisa diterapkan untuk menjaga akar obat menurutnya ialah, harus ada batasan dan prasyarat dalam mengambil akar bajakah. "Aturan itu bisa dalam bentuk peraturan desa atau memaksimalkan hukum adat," ujarnya.

Kisworo juga mengungkapkan, untuk menjaga obat herbal di hutan agar tetap lestari harus ada upaya untuk membudidayakannya. Sehingga, di dalam hutan tidak habis. "Kalau tanaman pasti bisa dibudidayakan, seperti halnya anggrek, sekarang yang di hutan tidak lagi diambil sebab sudah bisa dibudidayakan," ungkapnya.

Selain itu, menurutnya setiap akar yang diperjualbelikan juga harus ada hasil medisnya. Sebab, tidak semua akar bisa untuk obat. "Hasil medis harus ada untuk memastikan akar yang dijual, bukan sembarang akar. Ini harus jadi perhatian masyarakat Kalsel," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 15:26
Pemkab Balangan

Ansharuddin Roads To Kampung

PARINGIN – Sebagai bagian dari penyerapan aspirasi dan pelayanan kepada…

Senin, 16 September 2019 15:11
PT Arutmin Indonesia

Arutmin Bagikan Seragam Tahfiz Nurul Iman

TANAH LAUT - PT Arutmin Indonesia Tambang Kintap melakukan penyerahan…

Senin, 16 September 2019 12:18

Sekcam pun Ingin Maju Pilwali Banjarbaru, 8 Orang Sudah Ambil Formulir ke PDIP

BANJARBARU - DPC PDI Perjuangan Banjarbaru kemarin telah menutup proses…

Senin, 16 September 2019 10:49

Lawan Karhutla: Suntik Tanah Gambut, Sebarkan Fatwa MUI

BANJARBARU – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan berkomitmen melawan kebakaran…

Senin, 16 September 2019 10:45

Pemprov Kalsel Kembali Dianugerahi WTN Wiratama

JAKARTA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan kembali menerima Anugerah Wahana…

Senin, 16 September 2019 10:34

Di Kalsel, 3 Kapolres Berganti

BANJARMASIN - Gerbong mutasi di Polda Kalsel dan jajaran Polres…

Senin, 16 September 2019 10:01

Wakapolres Batola Ikut Mutasi

MARABAHAN - Mutasi merupakan kejadian biasa dan berguna untuk penyegaran. Pernyataan tersebut…

Senin, 16 September 2019 09:50

Dishut Kalsel Gelar Salat Istisqa

BANJARBARU - Kalsel saat ini sedang memerlukan hujan, untuk mengurangi…

Senin, 16 September 2019 09:45

Sudah Beberapa Hari, Belum Ada Keputusan Resmi, Heli Masih Diperiksa KNKT

BANJARBARU - Dua hari sudah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT)…

Senin, 16 September 2019 09:38
Pemko Banjarbaru

Tiga Tahun Berturut-Turut Raih Penghargaan WTN

BANJARBARU - Kota Banjarbaru tahun ini kembali meraih Penghargaan Wahana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*