MANAGED BY:
SABTU
04 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 19 Agustus 2019 10:25
Melihat Kemeriahan Pegunungan Meratus di Hari Kemerdekaan

Tak Ada yang Menang, Tak Ada yang Kalah

PATRIOTISME MERATUS: Warga hunjur Meratus turun ke Desa Kiyu setelah menggelar peringatan 17 Agustus 2019. Dan (Kiri) Massapura, 54 tahun, menyanyi diiringi seruling. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Jauh dari kota, nun di pegunungan Meratus, warga Dayak memperingati hari kemerdekaan. Terselip pesan untuk mengakhiri pertambangan di kawasan Meratus.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

“Sudah minum obat, tapi kepalaku masih sakit. Semoga masih bisa menyanyi,” ungkap Massapura, 54 tahun, warga Desa Kiyu.

Siang itu, dia tampil dengan mengenakan kebaya lengan panjang berwarna krem. Rambut panjangnya yang sebagian kini tampak memutih, diikatnya dengan rapi, menjuntai ke belakang.

Riuh, tepuk tangan terdengar ketika Massapura maju ke depan Balai Adat, kemudian diserahi mikrofon oleh salah satu panitia.

Diiringi tiupan seruling, perempuan yang sudah memiliki tujuh cucu, itu mulai menyanyi. Suaranya serak, lemah dan datar, sesekali terdengar melengking. Khas suara orang tua yang sudah berumur.

Menyanyikan lagu berbahasa Dayak, judulnya Saluang Patik. Sebagian liriknya menceritakan tentang puja puji kekaguman seorang lelaki yang menyukai seorang perempuan.

Tak sampai lima menit, lagu yang dibawakannya pun selesai. Riuh tepuk tangan warga kembali terdengar.

Tak berapa lama, panitia lomba HUT ke 74 RI pun langsung memberikannya bingkisan hadiah, bersama dengan tiga peserta menyanyi lainnya. Dalam lomba menyanyi kali ini, tak ada yang menang, tak ada pula yang kalah. Yang penting, bersedia maju dan menyanyi.

“Sakit kepala masih terasa. Tapi tak apa-apa, yang penting saya bisa ikut lomba dan memeriahkan HUT RI,” tuturnya.

Itulah, satu di antara beberapa lomba yang digelar pada 17 Agustus 2019, di Desa Kiyu, Kecamatan Batang Alai Timur (BAT), Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Sebelumnya, di pagi hari, ratusan warga terlebih dahulu mengikuti rangkaian upacara serta pengibaran Bendera Merah Putih di Lapangan Danau Canting. Ini adalah kawasan dibangunnya Perumahan komunitas adat terpencil (KAT). Lokasinya, berada sekitar satu kilometer dari Desa Kiyu.

Seusai upacara, mereka pun turun ke Desa Kiyu dipandu seorang pemuda desa setempat. Pemuda itu bertugas membawa tongkat panjang yang sudah dipasangi bendera Merah Putih. Di belakangnya, rombongan warga mengarak kain panjang berwana merah yang bertuliskan ‘Save Meratus, End Coal’. Artinya: Lindungi Meratus, akhiri pertambangan Batu bara.

Salah satu panitia kegiatan HUT Ke 74 RI di Desa Kiyu, Nursiwan, mengatakan bahwa pihaknya bersama masyarakat setempat, konsisten mengusung isu penyelamatan lingkungan di momen hari kemerdekaan ini. Dengan harapan, Pegunungan Meratus juga merdeka atau terbebas dari aktivitas pertambangan.

“Gelaran peringatan HUT RI tahun sebelumnya pun kami gelar demikian,” ungkapnya.

Semarak peringatan kemerdekaan di Desa Kiyu tak kalah dengan daerah lainnya. Meskipun dikemas sederhana dengan hadiah yang tak seberapa, namun kemeriahannya sangat terasa.

Selain menggelar lomba mainstream layaknya lomba makan kerupuk, panitia juga menggelar lomba yang sarat dengan pendidikan.

Misalnya, Pada gelaran lomba adu cepat, peserta diharuskan membuat gelang simpai yang terbuat dari akar atau tumbuh-tumbuhan. Diikuti oleh enam orang, peserta laki-laki dan perempuan beradu kecepatan membuat gelang yang merupakan aksesori favorit para pegiat alam, yang juga merupakan cendera mata khas warga Dayak. Tak sampai lima menit, sebuah gelang selesai dibuat.

Kemudian, ada pula lomba tarian adat. Dalam kesempatan tersebut, ada tiga tarian yang dilombakan.

Yakni, tari Babangsai, Bakanjar dan tari Bacapung. Yang paling seru, ketika lomba menari Bakanjar dan Bacapung digelar. Peserta , berkerumun di depan Balai Adat.

Baik laki-laki maupun perempuan dan dari lintas generasi. Peraturannya sederhana, barang siapa yang menari saat bukan waktunya menari, maka peserta akan secara langsung didiskualifikasi.

Untuk itu, peserta harus fokus terhadap instruksi dengan mendengarkan tabuhan gendang. Bila gendang yang ditabuh mengeluarkan nada untuk tari Bakanjar, maka peserta laki-laki harus menari Bakanjar dan perempuan harus diam tak bergerak.

Namun bila tabuhan gendang beralih pada tari Bacapung yang ditarikan oleh perempuan, maka peserta peserta laki-laki yang harus diam tak bergerak.

Tak sedikit dari para orang tua, para pemuda, hingga anak-anak yang tereleminasi pada lomba tersebut. Bukan karena mereka tak mengerti cara menarikannya, tapi karena mereka kurang fokus mendengar tabuhan gendang, atau karena ada yang tak sabar untuk mendapatkan giliran menari atau bergerak.

Tak pelak, suasana menjadi ramai dengan gelak tawa. Terlebih ketika peserta yang mengikuti lomba adalah para bocah. Mereka seakan tak peduli harus Bakanjar atau Babangsai. Bahkan tak peduli gerakan mereka masih tak seelok atau selihai para peserta yang lebih tua. Ya, bagi mereka, selama gendang terus ditabuh, maka selama itu pula mereka bakal terus menari.

Peserta lain pun demikian. Mereka berjuang mengikuti seluruh rangkaian acara dan lomba. Tak sakit, tak peduli menang atau kalah, dan tak peduli keringat mengucur deras.

“Lomba yang digelar lebih banyak bertujuan membangkitkan semangat kebersamaan, mengenalkan seni dan budaya masyarakat, melalui lomba yang bersifat edukatif," ungkap panitia gelaran HUT Ke 74 RI di Desa Kiyu, sekaligus Pendamping KAT di Kecamatan Batang Alai Timur, Indra Fironi. Hadiah sendiri dikumpulkan dari sumbangan berbagai organisasi pencinta alam. (war/ran/ema)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 02 April 2020 14:56

Sibuknya Peserta dan Alumni Pelatihan Menjahit Saat Pandemi

Akibat Covid-19, masker bedah dipasaran menjadi langka. Untuk menyiasati itu,…

Rabu, 01 April 2020 13:05

Kala Dokter Menginisiasi Produksi APD Secara Mandiri; Libatkan Guru, Anak SMK hingga Tukang Ojek

Minimnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis…

Senin, 30 Maret 2020 12:36

Berita Baik di Tengah Pandemi Corona: Barista Kopi Dibalik Gerakan Pasang Keran Gratis

Dalam perang melawan wabah, Anda tak perlu menunggu menjadi hartawan…

Jumat, 27 Maret 2020 11:51

Fenomena Takhayul Pesisir Kalsel di Tengah Corona

Optimisme beberapa pejabat pemerintah, yang percaya warga akan disiplin tanpa…

Kamis, 26 Maret 2020 13:02

Pakai Jas Hujan, Berharap Kiriman APD Bukan Hanya bagi Perawat Saja

Alat pelindung diri (APD) menjadi pakaian paling "tren" sekarang ini.…

Rabu, 25 Maret 2020 11:49

Cerita-cerita Calon Pengantin yang Gagal Gelar Resepsi; Katering Sudah Pesan Akhirnya Dibagikan ke Anak Yatim

Niat Arif Hendy Wijaya (25) warga Desa Barambai untuk bersanding…

Senin, 23 Maret 2020 12:51

Bincang Santai dengan "Indro Corona"; Sudah Ada Sebelum Masehi, Sembuh dengan Vitamin E

Muhammad Indro Cahyono akhir-akhir ini sibuk mondar-mandir kantor-kantor pemerintah untuk…

Minggu, 22 Maret 2020 05:48

Melihat Penerapan Social Distancing di Bandara Syamsudin Noor

Upaya pencegahan dan meminimalisir penyebaran virus corona atau Covid-19 dilakukan…

Kamis, 19 Maret 2020 11:54

Kondisi Jembatan Ulin Desa Gadung Hilir; Atasnya Masih Bagus, Bawahnya Lapuk Termakan Usia

Jembatan di Rukun Tetangga (RT) 1 di Desa Gadung Hilir…

Rabu, 18 Maret 2020 13:12

Tangkal Corona, SMKN 1 Banjarbaru Membuat Hand Sanitizer Sendiri

Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19, orang-orang rela membeli…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers