MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 19 Agustus 2019 12:27
Berbincang dengan PSK di Bawah Umur di Banjarmasin

Saat Wawancara, Telepon Terus Berdering...

Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota Banjarmasin. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Prostitusi anak adalah kenyataan yang tidak bisa diabaikan di Kota Banjarmasin. Faktor ekonomi dan sulitnya mencari kerja membuat mereka melakukannya.

--

Radar Banjarmasin menjumpai Melati (nama samaran) berkat bantuan seorang kenalan. Meski sebelumnya, dia menolak untuk diwawancarai, Melati akhirnya setuju untuk menemui wartawan Radar Banjarmasin di sekitar kawasan Pangeran Antasari, Banjarmasin Tengah.

Saat itu pukul 15.00 WITA. Di bawah terik matahari jelang sore, Melati datang mengenakan baju kaos warna hitam dilapisi sweater biru dipadu dengan celana jeans biru muda. Pembawaannya ceria, tidak takut-takut.

Melati memang masih sangat belia. Meski badannya agak sedikit berisi, dan wajahnya dirias bak wanita dewasa, tetapi tidak dapat di pungkiri kalau dia masih muda.

Melati menuturkan, dia baru sekitar dua bulan menggeluti profesi sebagai PSK. Bukan tanpa alasan. Meski hati kecilnya menolak, tapi kebutuhan ekonomi mengharuskannya mengambil keputusan seperti ini.

Kedua orangtuanya meninggal sekitar 5 tahun silam. Sejak itulah, dia mulai menetap berpindah-pindah. Pernah tinggal dengan keempat kakak tirinya. Bahkan sempat diasuh oleh paman. Tapi semuanya tidak bertahan lama. Entah apa masalahnya, dia tak mau menceritakaannya.

Melati sebenarnya sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Ibtidayah meski tidak sampai tamat. Dia kekurangan biaya. Ketika akhirnya diusir oleh kakaknya, dia kesulitan untuk mencari pekerjaan. “Mau kerja tapi sekolah madrasah saja saya enggak tamat, sementara orang kalau mau kerja mencari ijazah,” tutur Melati.

Awalnya ada perasaan takut ketika akhirnya memutuskan menjadi PSK. Dia khawatir kalau sampai tertangkap oleh Satpol PP. Atau bertemu teman-teman sekolah dulu. Tapi karena kebutuhan ekonomi tak bisa menunggu, Melati akhirnya menjalani profesi ini.

Meski baru dua bulan terjun ke dunia malam, pelanggan remaja berusia 16 tahun asal Banjarbaru ini cukup banyak. Radar Banjarmasin memperhatikan, bahkan saat berbincang untuk wawancara, handphone yang dipegangnya berdering terus. Melati tak mengangkatnya.

Melati mengaku bekerja sendirian. Tidak ada yang membantu mencarikan pelanggan. Dia lebih memilih 'menjajakan diri' langsung kepada pelanggan, karena tidak mau ribut dengan PSK senior. Dia bahkan sedikit menjauhi aplikasi online. "Pengalaman teman-teman, bisa terlacak oleh petugas," katanya.

Dengan penghasilannya itu, Melati sudah bisa menyewa rumah sendiri di kawasan Banjarmasin Selatan. Meski berukuran kecil, tapi bisa melindunginya dari panas matahari dan dinginnya malam. “Ya uangnya bisa bayar sewa rumah Rp400 ribu sebulan, ditambah air sama listrik sekitar Rp600 ribu. Sisanya lagi, dibelikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari serta pakaian, dan sebagian lagi ditabung,” ucapnya.

Dalam sehari, dia hanya melayani tamu 1-2 orang. Tarif yang dipatoknya sekitar Rp150 ribu-Rp200 ribu. Sebenarnya, lelaki hidung belang yang minta ditemani bisa lebih. “Tapi kalau lebih dari itu, capek,” ucapnya santai.


Apakah tidak takut terjangkit penyakit kelamin atau HIV/AIDS? Melati mengaku selalu meminta tamu agar mengenakan kontrasepsi. Ini aturannya sendiri. Dia tidak mau terjangkit penyakit kelamin. Toh, selama ini dirinya tidak pernah menemui pelanggan yang berbuat aneh-aneh. “Saya sudah pernah memeriksa kesehatan, dan aman,” ucapnya.

Ditanya sampai kapan akan menjalani profesi sebagai PSK? Melati hanya menggelengkan kepala, kapan dirinya berhenti. “Enggak tahu kapan,” terawangnya.

Direktur Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalsel, Hapni menyebut berdasar data di kantornya, dari awal Januari hingga Agustus 2019 ini jumlah wanita Pekerja Seks Komersial (PSK) di bawah umur yang mereka tangani berjumlah puluhan. “Ada 30 orang, dan mereka masih berusia dibawah 18 tahun,” ungkap Hapni.

PKBI merupakan lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Berdiri sejak 23 Desember 1957 ini salah satu bidang yang ditangani adalah tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS. PSK adalah salah satu sasarannya. Di tengah kondisi sekarang ini, mereka ini rentan sekali tertular HIV/Aids. “Kita memberikan edukasi terhadap para PSK agar memeriksakan kesehatan,” jelasnya.

Hapni yang didamping stafnya, Kus, membeberkan sejumlah penyebab para wanita sampai nekat terjun ke dunia prostitusi. Dari pengakuan sejumlah PSK tidak melulu karena faktor ekonomi, tapi ada faktor lain.

“Petugas kita di lapangan ada menemukan wanita muda berstatus kuliah, ekonominya cukup, tapi bekerja sebagai PSK. Mereka ini biasanya karena tergiur gaya hidup jetset, mau minta orangtua tapi takut, itu jalan cepat mendapatkan uang,” jelasnya. (gmp/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers