MANAGED BY:
SENIN
18 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 22 Agustus 2019 10:47
74 Tahun Indonesia Merdeka, Desa Sakadoyan Belum Menikmati Listrik

Lihat Ironi di Depan Mata kala Perusahaan Sawit Terang Benderang

PELITA: Dina mengajari Najib mengaji di rumahnya. Guru muda ini terpaksa memakai pelita karena listrik belum masuk ke desa Sakadoyan. | Foto: Kades Sakadoyan for Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, 74 tahun Indonesia merdeka, namun Desa Sakadoyan di Kotabaru masih belum teraliri listrik.

--

Desa Sakadoyan berada di pesisir Kotabaru. Tepatnya di Kecamatan Pamukan Selatan. Masih di sisi Pulau Kalimantan tetapi terpisah laut dengan ibukota kabupaten.

Warga Sakadoyan yang mau ke kota mayoritas mengunakan moda laut. Pakai kapal angkutan umum. Seminggu, dua atau tiga kali kapal berangkat. Malam di Sakadoyan kontras dengan desa-desa lainnya. Satu-satunya desa di Pamukan Selatan yang belum dialiri listrik

Selasa (20/8) malam kemarin, Sri Hardina guru honor MTs di Sakadoyan anteng di bawah pelita. Mengajari Najib mengaji. Sudah Iqra Besar.

Suara serangga nyaring menembus dinding kayu rumah guru muda itu. Sesekali api pelita membesar. Terkena angin dari celah dinding. Jelaga ikut membesar. Asapnya masuk mengotori bulu hidung Najib.

"Maklum pelita buatan tangan sendiri, gak pakai pengatur sumbu," ujar guru yang belum bersuami ini.

Ketiadaan listrik membuat guru itu kesulitan di zaman digital. Materi ajar sekarang berkembang cepat di internet. Koordinasi sekolah dan urusan administrasi banyak mengandalkan WhatsApp.

Sekitar satu jam belajar mengaji Najib pulang. Pamannya, Hasan Basri, melihat keponakannya itu berjalan gontai. Dadanya terasa sesak."Sejak saya lahir. Sampai sekarang. Listrik tidak pernah masuk. Kami belum merdeka," kata Hasan.

Sudah berulang kali Kepala Desa Sakadoyan ini mengurus listrik. Ke kota. Habis ongkos berjuta-juta.Tapi janji tinggal janji. "Katanya nanti akan dipasang jaringan. Nanti, nanti."

Kendala itu kata Hasan membuat ekonomi desa lambat bergerak. "Total jumlah penduduk di desa saya ada 620 jiwa. Mayoritas petani, juga ada tambak kepiting."

Bagi warga yang mampu bisa memakai genset. Rumah-rumah listrik pribadi itu ramai dirubung. Ada yang menitip charge hape. Ada numpang nonton TV. "Masih seperti zaman dulu desa kami," lirihnya mengaku tidak mengerti, mengapa Sakadoyan seperti dianaktirikan.

Hasan bercerita, dia dan rekan-rekannya mau menghidupkan Bumdes. Salah satu usaha yang mau dirintis adalah gula merah. Untuk naik level ke industri pengolahan pihaknya perlu listrik.

Di Sakadoyan pula lahir dan besar Rabiansyah. Akrab disapa Roby. Aktivis itu menyaksikan di masa kecilnya. Alam dibabat korporasi. Hutan belantara berubah lautan kelapa sawit.

Belasan tahun, perusahaan-perusahaan itu berdiri kokoh. Terang benderang. Mampu hasilkan listrik sendiri, dari bisnis kelapa sawit.
"Ironis memang," kata Roby yang tanggal 26 Agustus nanti dilantik jadi anggota DPRD Kotabaru periode 2019 - 2024.

Roby membeberkan, karena tidak ada listrik, para nelayan Sakadoyan harus menyeberangi lautan hanya untuk mendapatkan es batu. Es batu itu merupakan istilah nelayan untuk es ukuran balok besar. Dipakai mengawetkan ikan. Membuat balok es besar perlu daya listrik yang besar pula.

"Kadang mereka beli es batu ke Tanjung Semalantakan. Bisa juga ke Rampa Manunggul. Kalau juga habis es terpaksa lebih jauh lagi ke Gunung Batu Besar," paparnya.

Warga sekarang berharap kepada Kades juga kepada dirinya. Roby berjanji akan memperjuangkan mati-matian listrik Sakadoyan. "Kita kejar target pemerintah 2020 semua desa berlistrik," akunya.

Pun begitu Roby mendengar akan ada masuk listrik tenaga surya skala rumah. "Itu tidak efisien. Karena belum mampu menggerakkan ekonomi. Paling cuma bisa nyalakan beberapa buah lampu LED di satu rumah," ucapnya.

Kata Roby, jika listrik hanya untuk penerangan malam biarlah warga pakai pelita. "Yang kita perlukan itu energi untuk menghidupkan ekonomi. Selama ini warga terpaksa bekerja di sektor yang tidak bergantung dengan listrik."

Sama dengan Hasan, Roby pun masih berusia muda. Namanya melejit di tahun 2014. Ketika turun ke jalan memperjuangkan upah buruh kelapa sawit. Sehingga lahir di Kotabaru aturan UMK (Upah Minimum Kabupaten).

Humas PLN Kotabaru Vigor, Rabu (21/8) pagi kemarin mengatakan akan menyampaikan masalah itu ke atasan. Dia mengatakan belum bisa menanggapi keluhan warga ini. (zal/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*