MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 26 Agustus 2019 09:54
Kurangnya Alat, Kalsel Kesusahan Ukur Kualitas Udara
AMBIL SAMPEL UDARA: Dinas LH Banjarbaru saat memasang passive sampler: sebuah alat untuk mengambil sampel udara di kawasan Balai Kota, beberapa waktu yang lalu. | FOTO: DINAS LH BANJARBARU FOR RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARBARU - Menjadi daerah yang seringkali ditemukan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) saat musim kemarau, Kalsel ternyata masih kekurangan alat pengukur kualitas udara. Padahal, alat itu sangat penting untuk mengetahui sehat atau tidaknya udara saat terpapar kabut asap.

Alat pengukur Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sendiri biasanya dipasang di wilayah yang udaranya seringkali terpapar polusi. Seperti debu, asap dari kebakaran lahan atau knalpot kendaraan.

Pada alat tersebut, terdapat angka-angka yang menunjukkan tentang parameter mutu udara. Guna mengetahui bagaimana kualitas udara di wilayah sekitar, tempat alat dipasang.

Kepala Bidang Surveilans Epidemilogi pada Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru, Hamidi mengatakan, dari 13 kabupaten/kota di Kalsel baru Kota Banjarmasin yang memiliki alat itu.

"Sebenarnya alat itu penting, karena mutu udara bisa langsung dibaca. Karena kalau menguji kualitas udara dengan pengambilan sample, hasilnya menunggu sampai 24 jam," katanya.

Selain itu, dia mengungkapkan, pengujian dengan pengambilan sample juga tidak bisa dilakukan di banyak daerah. Karena, dalam satu lokasi perlu dilakukan pengukuran dua sampai tiga kali. "Kami sendiri setiap tahunnya hanya menguji kualitas udara di satu wilayah. Tapi, dengan tiga kali pengujian," ungkapnya.

Tahun ini sendiri, mereka fokus mengukur kualitas udara di sekitar Puskesmas Martapura Kota. "Kami sudah mengambil sample pada April tadi. Di mana hasilnya baik. Nanti, pada September dan November, sample udara di lokasi yang sama kami ambil lagi untuk mengetahui perubahannya," ujar Hamidi.

Lanjutnya, untuk penentuan lokasi pengujian kualitas udara mereka berpatokan pada seberapa banyak penderita ISPA dan melihat bagaimana terdampaknya lokasi tersebut terhadap asap karhutla. "Untuk tahun lalu, udara di kawasan Puskesmas Guntung Manggis yang kami uji. Hasilnya, cukup baik," ucapnya.

Dia menambahkan, tanpa adanya kabut asap dari karhutla, udara Kalsel selama ini memang sehat. Karena belum terpolusi oleh asap knalpot kendaraan. "Alat transportasi di Kalsel tidak sepadat di Jakarta, jadi udaranya masih aman," tambahnya.

Diungkapkannya, udara Kalsel terakhir kali masuk kategori berbahaya pada 2015 lalu. Di mana, saat itu karhutla memang sangat parah. "Setelah itu, dalam empat tahun terakhir udara kita bagus saja," ungkapnya.

---

Secara terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Banjarbaru Sirajoni, membenarkan mereka belum punya alat pengukur kualitas udara. "Iya, di Kalsel cuma Banjarmasin yang punya. Itupun karena bantuan dari pusat," bebernya.

Dia menuturkan, hingga kini pihaknya belum punya rencana untuk membeli alat tersebut. Karena harganya sangat mahal. "Harganya miliaran, belum lagi biaya perawatannya. Sangat besar," tuturnya.

Meski begitu, mereka rutin mengukur kualitas udara di Banjarbaru setiap enam bulan sekali. Namun, untuk mengetahui hasilnya diperlukan waktu berhari-hati.

Di mana pada semester pertama tahun ini, pihaknya telah melakukan pengujian udara dengan cara mengambil sample menggunakan passive sampler.

Perangkat tersebut dipasang di lima titik berbeda di kawasan Kota Banjarbaru. Setelah sample udara didapatkan, selanjutnya Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) diukur di laboratorium Dinas LH Banjarbaru. Dengan begitu, diketahui seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara di Banjarbaru.

Lima titik itu, yakni Kawasan Lianganggang (Kawasan Padat Transportasi), Bundaran Landasan Ulin, Bundaran Simpang empat Banjarbaru, Kawasan Lik Lianganggang (Kawasan Industri), Lapangan Murjani, serta di perumahan ratu elok (Kawasan permukiman).

Dalam pengukuran itu, Sirajoni menyampaikan jika kualitas udara di Banjarbaru masih masuk kategori normal. "Hasilnya Alhamdulillah masih normal dan masih bagus," katanya.

Dia menjelaskan, saat sample udara dari lima titik itu diukur, indeksnya seluruhnya di bawah level 50. Sehingga, kualitas udara dianggap baik dan tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia ataupun hewan dan tumbuhan dan nilai estetika.

Angka level udara sendiri dari 0 hingga 500. Jika, indeks 0-50 maka udara dianggap baik. Lalu, 51-100 berarti sedang. Kemudian, 101-199 tidak sehat. "Apabila indeksnya 200-299, maka kualitas udara sangat tidak sehat dan 300-500 masuk kategori berbahaya," pungkas Sirajoni. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 Oktober 2019 10:48

Kapal Tugboat Batubara Hantam Pasar Marabahan

MARABAHAN - Kapal tongkang pengangkut batubara kembali membuat masyarakat Marabahan…

Rabu, 23 Oktober 2019 09:52

Lagi, Kalsel Tak Dapat Jatah Menteri, KPK Tandai Menteri-Menteri Jokowi

BANJARMASIN - Usai Prof Gusti Muhammad Hatta yang dipercaya menjadi…

Rabu, 23 Oktober 2019 09:46

Pemprov Tunggu HASIL KASN

BANJARMASIN - Nama-nama calon pejabat pimpinan tinggi di lima SKPD…

Rabu, 23 Oktober 2019 09:38

Kalau Cuma Menggusur, Gampang

BANJARMASIN - Tak kunjung jera. Begitulah warga penghuni kolong Jembatan…

Rabu, 23 Oktober 2019 09:36

Usai Pelantikan Presiden, Herman Mulai Bergerilya

BANJARMASIN - Seusai pelantikan presiden, Hermansyah mulai bergerak. Wakil Wali…

Rabu, 23 Oktober 2019 07:49

Pilkada Banjarbaru Terbuka Peluang Poros Ketiga: Dokter Halim dan Rizqillah

BANJARBARU - DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Banjarbaru memastikan menggelar…

Rabu, 23 Oktober 2019 07:36
Pemko Banjarbaru

Wawali Buka Sosialisasi Penguatan Fungsi Pasar Rakyat

BANJARBARU - Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan didampingi…

Rabu, 23 Oktober 2019 07:32
Pemkab Tanah Bumbu

Kelurahan Batulicin Juara 2 Lomba Poskamling

BATULICIN - Kelurahan Batulicin meraih Juara 2 Lomba Poskamling tingkat…

Rabu, 23 Oktober 2019 07:31
Pemkab Tanah Bumbu

Bupati Kunjungi SMPN 1 Sungai Loban

BATULICIN - Bupati Tanah Bumbu H Sudian Noor mengunjungi SMP…

Rabu, 23 Oktober 2019 07:29
Pemkab Tanah Bumbu

18 Dokter Magang di Tanbu

BATULICIN - Pemkab Tanbu menerima sebanyak 18 orang dokter umum…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*