MANAGED BY:
JUMAT
15 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 29 Agustus 2019 11:50
Ketika Dalang Wayang Kulit Purwa Banjar Gelorakan #SaveMeratus

Jangan Sampai Mata Air Menjelma Air Mata

SEMALAM SUNTUK: Seniman asal Desa Barikin HST, Reza Fahmi, bersama 15 anggota Sanggar Seni Ading Bastari, menampilkan pagelaran Wayang Kulit Purwa Banjar. Cerita yang diangkatnya, yakni terkait aksi penyelamatan Pegunungan Meratus. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Harmoni di Karang Tumaritis mulai terusik. Penguasa Hastinapura, Suyudana, mengutus Begawan Durna untuk mengobrak-abrik kehidupan di sana. Berharap bisa menguasai, hingga mengeruk kekayaan alamnya.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

Dalam dunia pewayangan, Tumaritis diceritakan sebagai wilayah yang ideal. Di dalamnya, manusia dan makhluk lainnya hidup berdampingan dalam harmoni.

Tidak hanya itu, wilayah yang masuk dalam kekuasaan Madukara atau Negara Pandawa, itu juga terkenal dengan kekayaan alamnya. Ada gunung yang berselimut hutan belantara, hingga perut bumi yang menyimpan batu bara.

Kekayaan alam yang melimpah itulah yang membuat Penguasa Hastinapura, Suyudana, mengutus Begawan Durna. Menaklukkan Tumaritis, kemudian mengeruk kekayaan alamnya. Merusak keharmonisan manusia dana lam.

Kabar tentang keinginan Suyudana, sampai ke telinga Arjuna, sang Raja di Negara Pandawa. Tak tinggal diam, Arjuna, meminta Semar yang juga menjadi penghuni Tumaritis, untuk bertindak. Mempertahankan kawasan sampai titik darah penghabisan.

Bagi Semar, titah Arjuna merupakan hal yang mutlak dituruti. Bukan tanpa alasan, rusaknya Tumaritis, berimbas pada terjadinya kekacauan di mana-mana. Kepada ketiga anaknya yakni Gareng, Petruk dan Bagong, dia mengatakan bahwa lebih baik air berubah warna merah akibat pertumpahan darah ketimbang air berubah warna menjadi hitam akibat kekayaan alam yang dieksploitasi.

Perjuangan mempertahankan wilayah pun dimulai. Begawan Durna yang diutus Suyudana bertarung habis-habisan melawan Semar dan ketiga anaknya. Saking sengitnya pertarungan, untuk berhasil mengalahkan Durna yang ketika itu mengubah wujudnya menjadi Gumbayana, Semar bahkan harus menjelma menjadi sang Hyang Ismaya.

Beruntung, Semar berhasil mempertahankan agar Tumaritis tak jatuh ke tangan Suyudana beserta antek-anteknya.

--

Itulah sekelumit kisah yang dibawakan Reza Fahmi bersama 15 anggota Sanggar Seni Ading Bastari, melalui gelaran kesenian Wayang Kulit Purwa Banjar. Betugas sebagai Dalang, lelaki asal Desa Barikin itu, selama semalam suntuk, pada Selasa (27/8) yang dingin di depan Gedung Balai Rakyat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), dalam gelaran penutup Pentas Seni Semarak Kemerdekaan yang digelar oleh Dewan Kesenian HST, menghibur masyarakat setempat melalui lakon berjudul ‘Gerimis Melanda Hati’.

Sekilas, mayoritas masyarakat mungkin mengira bahwa gelaran kesenian Wayang Purwa Banjar yang mengusung judul ‘Gerimis Melanda Hati’, menceritakan lagu dangdut yang dibawakan oleh penyanyi Erie Suzan. Namun oleh Reza, judul lagu itu, menginspirasinya membawakan lakon tentang persoalan yang sekarang ini melingkupi kawasan Kabupaten HST. Yakni, persoalan pertambangan.

Melalui Wayang Kulit Purwa Banjar, Reza mengatakan, Tumaritis diibaratkan Kabupaten HST. Sementara Arjuna, Semar dan ketiga anaknya, merupakan gambaran pemerintah dan masyarakat, yang kekeuh menentang masuknya sektor pertambangan di Kabupaten HST.

“Gerimis Melanda Hati, saya artikan sebagai kabar miris yang melanda kawasan Kabupaten HST,” ungkapnya.

Dalam gelaran malam itu, agar tidak membosankan, Reza juga memasukkan unsur humor ke dalam cerita wayang yang dimainkannya. Ditampilkannya dengan apik melalui tingkah laku Gareng, yang asyik merayu seorang perempuan.

“Ayahmu penjual bakso ya? Aku tahu ayahmu penjual bakso, karena kamu telah mengetuk-ngetuk mangkok hatiku,” ucap Gareng, merayu wanita yang diketahui bernama Dewi Mandam Sari Kumala Mancur, itu. Penonton yang hadir, sontak tertawa terpingkal-pingkal.

Dalam cerita atau lakon di pertunjukan seni Wayang Kulit Purwa Banjar, dikenal dengan lakon ‘Carang’. Atau bukan cerita pakem. Maka tak heran bila cerita yang dibawakan Reza, lebih banyak mengambil cerita dari keseharian masyarakat Banua.

“Cerita atau lakon dalam dunia pewayangan, merupakan simbol kehidupan sehari-hari,” ungkap lelaki yang mengidolakan tokoh Gareng, itu.

Ya, dalam lakon yang dibawakannya, Reza tak hanya mengangkat isu tentang lingkungan. Dia, juga menyoroti berbagai persoalan sosial masyarakat kini. Seperti banyaknya anak muda yang mengonsumsi obat-obatan, hingga pergaulan bebas.

Hal itu dilakukan bukan tanpa alasan. Penonton wayang kulit, tak hanya datang dari kalangan orang tua saja. Melainkan juga anak muda. Maka tak ada salahnya menyelipkan pesan-pesan moral dalam gelaran.

Lantas, mengapa dia tertarik mengangkat isu Selamatkan Meratus? Bagi Reza, isu ini bukan lagi menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten HST. Melainkan, juga perhatian masyarakat yang ada di luar daerah. Baginya, menyelamatkan Pegunungan Meratus maka berarti menyelamatkan kehidupan.

“Pertambangan, mungkin menjanjikan. Tapi itu hanya sementara. Dampak kerusakan lingkungannya bisa jadi sangat lama. Seperti yang diungkapkan Gareng kepada Semar, bahwa jangan sampai mata air menjelma air mata,” tuntasnya. (war/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*