MANAGED BY:
KAMIS
21 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 05 September 2019 13:19
Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau
BUKAN LAGI KEHIDUPAN SUNGAI: Kelotok melintas di Sungai Antasan Bondan, Banjarmasin Selatan, Minggu (1/9). Warga tidak lagi bergantung dengan air sungai. | FOTO: ENDANG SYARIFUDIN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air bersih. Kini, hampir semua masyarakat kota sudah memiliki saluran air di rumahnya.

===

Masyarakat Banjarmasin tak lagi meratapi sungai yang surut setiap kemarau. Meski air sungai dangkal, masyarakat tak mengalami krisis air bersih karena layanan air bersih PDAM sudah hampir mengkaver semua wilayah di ibukota Kalsel ini.

Kampung Antasan Bondan di Banjarmasin Selatan misalnya. Jika memasuki musim kemarau, warganya sudah tak lagi kebingungan mencari air bersih di musim kemarau karena semua masyarakat telah memasang leding.

Gusti Ahmad, Warga RT 2 Antasan Bonda mengatakan, ketika leding belum ada, masyarakat bergantung dengan sungai Antasan Bondan. Dulu, sebelum digunakan untuk kebutuhan di rumah, air sungai di tampung di drum atau baskom.

"Sekarang sudah pakai leding semua, sekitar tahun 2010 masuk leding ke kampung kami," kata pria berusia sekitar 40 tahun ini.

Meski leding sudah masuk, bukan berarti air sungai ditinggalkan. Beberapa warga masih menggunakan untuk kebutuhan cuci pakaian atau mandi. Bagaimana jika memasuki musim kemarau? Menurut Ahmad, sungai di Banjarmasin pasang surut. Airnya berasal dari sungai Martapura yang aliran besarnya datang dari laut. Tidak bakal kering teralu lama.

Kalaupun surut, waktunya tidak menentu, bisa siang, bisa malam, berubah-ubah. Beberapa minggu ini air surut pada malam hari, siang hingga sore air pasang.

"Sebagian menggunakan air sungai setidaknya dapat mengurangi pengeluaran bulanan membayar PDAM. Setiap bulan biasanya cuma Rp60 ribu, kalau lagi musim seperti ini bayar leding bisa sampai Rp80 ribu, karena semua menggunakan air leding," tuturnya.

Hal sama disampaikan Yamani warga Kelayan B. Mayoritas masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggalnya sudah menggunakan leding untuk memenuhi air bersih sehari-hari.

"Jarang sudah ada warga mandi di batang (jamban) karena warga disini kebanyakan sudah bikin kamar mandi di rumah. Kalau ada pun air sungai digunakan hanya cuci pakaian saja, atau mandi," ujarnya.

Humas PDAM Bandarmasih, Wahid mengatakan, memang hampir seluruh wilayah di Banjarmasin sudah mendapat layanan air leding. Kalau pun ada yang belum, PDAM menyiapkan tandon untuk masyarakat yang mengalami kesulitan air karena kekeringan. "99 persen sudah teraliri air PDAM," katanya.

Memasuki musim kemarau, ketersediaan air baku tidak masalah. PDAM Bandarmasin memiliki dua Instalasi Pengolah Air (IPA). Pertama di Jalan A Yani. Air baku yang digunakan berasal dari unit Sungai Bilu, sedangkan di Jalan Pramuka air baku sebagian berasal dari irigasi.

Wahid meyakinkan masyarakat tidak perlu khawatir bakal kekurangan air bersih. Sebab pihaknya sudah punya cara dalam pengolahan air bersih.

"Produksi kita di IPA I, 1600 meter kubik per jam, IPA II 4200-4800 meter kubik per jam, produksi kita sama dengan produksi sebelum adanya kemarau," jelasnya.

Pasokan air bersih di Banjarmasin, tidak mengalami kendala. Hanya memang aliran air yang sampai ke rumah masyarakat saja yang cukup kecil di wilayah Basirih dan Pulau Bromo. Hal ini karena sebagian masyarakat menggunakan mesin air.

“Karena banyak masyarakat yang mengunakan mesin pompa air ada aliranya jadi sedikit menurun," ucapnya. (gmp/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*