MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 07 September 2019 12:16
Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU
MENGKHAWATIRKAN: Kondisi jembatan kayu ulin yang terletak di kawasan Jalan Tatah Cagat Balimau, Kabupaten HST. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa Kayu Rabah, Pandawan, Hulu Sungai Tengah. Berharap jalannya di kampungnya diperbaiki, namun puluhan tahun hanya menelan janji tanpa kepastian.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

Debu mengepul. Tiga kendaraan roda dua, tampak melintas di jalan sepanjang 3 kilometer, Kamis (5/9) sore. Masing-masing kendaraan membawa muatan berkarung-karung hasil kebun. Mulai dari kacang, tomat, terong dan palawija lainnya.

Kendaraan roda dua yang dipakai mengangkut hasil kebun, tampilannya tak lagi seperti kendaraan pada umumnya. Dimodifikasi sedemikian rupa. Sebagian partnya dilepas, agar dapat memuat banyak barang bawaan. Sementara di bagian roda, memakai ban rimba. Agar mudah menjajal medan.

Meski begitu, ketika melewati jalan yang penuh gundukan dan tanah berlubang, hentakan kendaraan tetap membuat badan pengendara terangkat naik turun. Bak menaiki kuda. Namun, para pengendara cukup piawai menyeimbangkan kendaraan yang ditungganginya. Beban berat yang mereka bawa, membantu kendaraan cukup stabil melewati medan.

Secara administratif, Jalan Tatah Cagat Balimau, terletak di Desa Kayu Rabah RT 07 RW 02, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Berbatasan dengan Jalan Pinang Kara, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Sementara bila ditempuh dari Barabai yang menjadi pusat Kabupaten HST, Tatah Cagat Balimau berjarak sekitar 15 kilometer.

Dibandingkan dengan Jalan Pinang Kara, yang tampak nyaman dan dibangun kokoh menggunakan kayu ulin, khas warga yang tinggal di daerah rawa, Jalan Tatah Cagat Balimau tampil kontras mencolok. Alih-alih berlantai kayu ulin. Dari panjang jalan 3 kilometer, hanya 500 meter yang jalannya lebar berpaving dan disiring. Sisanya, tampak seperti jalan darurat.

Hal itu pula yang membuat warga Kayu Rabah merasa risih. Kepala Desa Kayu Rabah, Syahruji, mengungkapkan bahwa pembangunan jalan sebenarnya telah diusulkan sejak belasan tahun ke Pemerintah Kabupaten HST. Khususnya setiap msyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten.

Namun, usulan pembangunan jalan tak kunjung dimasukkan, terlebih untuk menjadi skala prioritas kabupaten. Hal itu pula yang membuat Syahruji beserta sejumlah warga desa memilih keluar dari rapat pembahasan di Musrenbang tahun 2019.

“Kami merasa dipermainkan. Bayangkan saja, usulan yang sama sudah diutarakan sejak tahun 2001 lalu,” ungkapnya, ketika ditemui Radar Banjarmasin, di kantornya Kamis (5/9).

Keinginan Syahruji, keinginan warganya bukan tanpa alasan. Jalan tembus itu dinilai sangat strategis. Umumnya, dimanfaatkan masyarakat HST maupun HSU dalam mengangkut hasil-hasil pertanian dan perkebunan, agar lebih dekat menuju kota Barabai. 

Namun, kondisi jalan yang hancur dan membahayakan membuat upah angkut begitu mahal. Selain itu, jalan tembus hanya bisa dilalui saat musim kemarau. Jika musim hujan, jalan berubah menjadi rawa, yang bila air pasang hanya dapat dilalui dengan menggunakan perahu.

“Selain warga Kayu Rabah, jalan ini juga merupakan satu-satunya akses warga Desa Kambat Utara, Desa Satiap dan Desa Walatung, turun bertani dan berkebun. Hingga mengangkut hasil-hasil pertanian dan perkebunannya,” jelasnya.

Syahruji masih mengingat jelas, di saat gelaran panen raya 2017 lalu di Desa Kayu Rabah. Bupati HST kala itu menjanjikan pembangunan jalan hingga jembatan akan direalisasikan di tahun 2018. Namun nyatanya, hingga sekarang janji tersebut tak kunjung dipenuhi. Padahal, janji itu diucapkan di hadapan warga beserta Gubernur Kalsel yang hadir.

“Memang, Pemerintah Kabupaten HST ada melakukan pembangunan jalan. Tapi, hanya 500 meter. Jalan diperlebar dan berpaving, kemudian disiring,” ucapnya. Dari pantauan Radar Banjarmasin, seluas mata memandang, di pengujung jalan berpaving Tatah Cagat Balimau, tepat di sisi kiri dan kanan jalan, terhampar kebun palawija milik masyarakat HST.

 Sepanjang melintasi jalan tembus ke Pinang Kara, Kabupaten HSU, itu tak nampak satu pun rumah warga. Jalan yang dilewati membuat penulis harus berkali-kali menyeka keringat dan mengangkat pantat. Maklum, selain berdebu, jalan juga berbatu, berlobang dan bergelombang. Layaknya jalan yang baru saja diuruk, kemudian kering lantaran terpapar terik matahari.

Di beberapa ruas jalan, nampak jelas sisa-sisa pondasi dan lantai yang terbuat dari kayu ulin. Dahulu, itulah akses jalan yang dibuat sendiri oleh masyarakat setempat. Kemudian, tepat di pertengahan jalan, sebuah jembatan kayu ulin yang pondasinya miring dan lantainya tambal sulam, tampak kokoh berdiri. Membelah aliran sungai kecil. Meski jembatan masih bisa dilewati, namun apabila tidak hati-hati, pengendara bisa saja terperosok atau terjatuh.

“Jembatan itu dahulu pembangunannya dibantu Pemerintah HST, ketika masyarakat membuat sendiri jalan yang sebelumnya kini sudah hancur. Bayangkan saja, dengan dana yang minim, dahulu warga desa bisa membuat sendiri jalannya. Masa pemerintah yang sekarang ini, tak bisa membuatkan jalan,” keluhnya.

Lima belas menit berkendara, penulis sampai di pengujung jalan. Atau, tiba di Pinang Kara, yang merupakan wilayah Kabupaten HSU. Penulis memutuskan mampir di sebuah warung. Di situ, sudah ada tiga lelaki yang duduk bersantai. Satu di antaranya adalah Arbani, warga Desa Kayu Rabah Kabupaten HST.

Kepada Radar Banjarmasin, dia menuturkan bahwa saat menjadi buruh angkut hasil kebun, dia kerap melintasi jalan tembus Tatah Cagat Balimau, Kabupaten HST. Menurutnya, melewati jalan ini bisa memangkas jarak tempuh. “Menuju Kabupaten HSU hanya 3 kilometer. Tapi bila menggunakan jalan memutar, bisa sampai 60 kilometer,” ucap lelaki, yang juga berprofesi sebagai pedagang ikan itu.

Upah sekali angkut tergantung musim dan karung yang mampu dibawa. Sebagai contoh, jika musim kemarau, upah per karungnya adalah Rp12.500. Dengan rute dari Pinang Kara hingga ke Kayu Rabah. Tapi jika sudah mulai musim hujan, upah angkut naik menjadi Rp35.000 karena sudah pasti harus berkubang lumpur. “Itu pun kalau ada yang mau mengangkut,” ucapnya terkekeh.

Sementara itu, Jailani, warga Desa Pinang Kara, Kabupaten HSU, mengatakan bahwa hampir semua hasil pertanian dan perkebunan di Desa Pinang Kara dan Amuntai, diangkut atau dijual ke Barabai.

“Para pekerja yang mengangkut hasil pertanian di Amuntai, juga rata-rata dari Kabupaten HST. Dengan adanya jalan tembus ini akan sangat membantu masyarakat,” ucap lelaki, yang merupakan pemilik warung, itu.

Lantas, Kabupaten mana yang lebih diuntungkan jika jalan itu dibangun hingga menghubungkan Kabupaten HST dan HSU ? Bisa jadi, kedua Kabupaten sama-sama diuntungkan. Namun, dalam pembangunannya, jalan tersebut tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Terlebih, membangun  jalan di atas daerah rawa.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Bina Marga di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten HST,  Akhmad Nor Jauhari, menyatakan bahwa jalan tembus dari Desa Kayu Rabah menuju ke Pinang Kara, bakal dikerjakan tahun ini. Mengunakan Dana Alokasi Umum (DAU) Pemerintah Kabupaten HST melalui sistem Swakelola Karya Bhakti TNI.

“Dikerjakan secara bertahap, tahun ini mungkin sepanjang 100 meter. Tidak bisa langsung sampai ke Pinang Kara. Pengerjaannya baru bisa dimulai bila jalan di daerah pegunungan di kawasan Datar Batung selesai dikerjakan,” jelasnya. (war/ema)


BACA JUGA

Minggu, 15 September 2019 12:45

Mencoba Cantik dalam Kabut Asap

Kabut asap tak hanya menimbulkan permasalahan lingkungan. Bagi kaum hawa,…

Sabtu, 14 September 2019 09:38

Angkat Perjuangan Guru Terpencil Mempelajari IT

Kantor Pusat Radar Banjarmasin, kemarin kedatangan tamu salah seorang finalis…

Kamis, 12 September 2019 11:44

Posko Bantuan Alalak Selatan: Bantuan Datang dari Segala Penjuru

Dua hari setelah kebakaran hebat di Alalak Selatan, bantuan datang…

Senin, 09 September 2019 12:24

Ayo Gowes sampai Ban Bocor!

Kota Banjarmasin sedang jadi perhatian insan olahraga nasional. Sebagai tuan…

Sabtu, 07 September 2019 12:26

Ersya Purnama Sari, Peserta The Voice asal Banjarmasin

Satu lagi perempuan asli Banjarmasin yang membawa nama baik bagi…

Sabtu, 07 September 2019 12:16

Puluhan Tahun Hanya Diberi Janji, Begini Harapan Warga di Perbatasan HST-HSU

Janji tinggal janji. Itulah yang dirasakan Tatah Cagat Balimau, Desa…

Jumat, 06 September 2019 12:22

Penayangan Pedana Film Suami yang Menangis

"Kalau tidak mampu, lebih baik bersabar. Cukup dengan satu istri”.…

Kamis, 05 September 2019 13:19

Tergantung Leding, Tak Takut Lagi Surutnya Sungai Pas Kemarau

Tinggal di kota seribu sungai tak membuat Banjarmasin berlimpah air…

Rabu, 04 September 2019 11:34

Tarif Ojek Online Naik, Sayangnya Insentif Malah Turun

Tarif baru ojek online (ojol) dimulai serentak seluruh Indonesia sejak…

Selasa, 03 September 2019 11:49

Ibnu Sina Tantang Siswa Menulis tentang Banjarmasin

10 detik awal yang dilakukan 79 persen generasi milenial saat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*