MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 09 September 2019 12:31
Duh, Susahnya Menjaga Hutan Lindung di Banjarbaru: Dimusuhi, Dilabrak, hingga Dibawakan Parang
JADI BANCAKAN: Ispendi berdiri di plang kawasan hutan lindung di Jalan Lingkar Utara, Kecamatan Liang Anggang.

PROKAL.CO, Dahsyatnya perambahan dan pembalakan hutan bukan hanya terjadi di daerah-daerah yang jauh dari perkotaan. Hutan-hutan kecil di perbatasan wilayah Banjarbaru diam-diam sudah lama menjadi sasaran. Beruntung, di tengah-tengah bancakan tanah negara, masih ada orang-orang yang mau peduli. Meski risikonya mereka harus melawan banyak orang yang ingin

----

Ispendi Susanto sejatinya hanyalah seorang pekerja bengkel radiator. Keahliannya di bidang otomotif membuatnya membuka bengkel di Jalan Karya Manuntung, Liang Anggang--tepat di lokasi masuk ke Handil Pikul. Ini adalah sebuah wilayah kecil yang jarang sekali diketahui oleh warga Banjarbaru perkotaan.

Di awal-awal tahuan 2010, Radar Banjarmasin pernah menuliskan kondisi perkampungan kecil yang dulu disebut Handil Pikul ini. Saat itu listrik bahkan belum masuk ke sana. Setelah listrik PLN masuk tak lama kemudian, rona-rona pembangunan mulai masuk ke wilayah yang dirintis oleh seorang pahlawan perjuangan bernama Mbah Pikul ini.

Pembangunan pula yang membuat hutan yang dulu lestari di sana, kini mulai mendapat ancaman. Patok-patoknya bahkan mulai bergeser jauh ke dalam. Kayu galam yang tumbuh di sana dibalak dan tanah -tanahnya kini mulai diklaim. Padahal kawasan itu masuk kawasan hutan lindung.

Kepada Radar Banjarmasin, Ispendi menceritakan perjuangannya mengamankan kawasan hutan yang memiliki luas sekitar 900 hektare tersebut. Pria 40 tahun ini mengatakan ada banyak kepentingan yang terlibat di dalam hutan yang berada di perbatasan antara Banjarbaru dan Kabupaten Banjar tersebut. Dari sana, sejumlah oknum masyarakat mulai mengklaim tanah dan menolak status hutan lindung di wilayah tersebut.

"Banyak kepentingan. Ada yang ingin mengavling lahan di sana supaya bisa digarap atau dijual ke developer. Ada juga yang selalu menebang dan menjual hasil hutannya. Untuk itu, mereka tidak ingin ada status HL," ungkapnya.

Ispendi dan seorang temannya, juga seorang pekerja bengkel, sudah beberapa kali mencoba menyadarkan warga desa. Namun, lokasi yang berpenduduk 50 KK itu tidak memedulikan. Diduga, mereka mengambil keuntungan dari tanah di sana. "Baru-baru tadi plang batas HL yang kami pasang ada yang merusak. Entah siapa, kami tidak tahu," sebut anggota kelompok tani hutan (KTH) ini.

Upaya KTH untuk bisa menjaga kelestarian hutan dengan menanami ribuan bibit pohon juga selalu ingin digagalkan. Baru-baru ini anggota KTH menanam ribuan bibit pohon untuk penghijauan di kawasan itu. Namun, mereka mendapati tiba-tiba bibit mereka rusak.

"Ada sekitar 15 ribu bibit yang kami tanam. Tapi, sekarang mungkin hanya sekitar dua ribuan. Karena ada yang merusak," tuturnya.

Pendi juga mengaku selalu didatangi orang yang tidak suka dengan sikapnya yang ingin mempertahankan HL. Bahkan, adapula yang sampai membawakan parang. "Kalau cuma mengancam dibunuh itu biasa," ucap anak seorang veteran perang Timtim ini.

Tekadnya untuk menjaga kelestarian HL masih begitu kuat. Sebab, menurutnya HL sangat penting untuk paru-paru kota dan mencegah bencana banjir. "Hutan ini sumber oksigen untuk masyarakat luas. Mungkin hal itu yang belum dipahami para oknum itu, sehingga tidak ingin ada status HL," ujarnya. Dia menyadari tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan masih sangat rendah.

Keinginannya untuk ikut menjaga HL sendiri muncul ketika mulai bergabung dalam KTH Berkat Karya pada tahum 1980-an. Di mana, saat ini dia dipercaya sebagai ketua dalam kelompok itu.

KTH beranggotakan 100 orang tersebut dipercaya mengelola sekitar empat hektare kawasan HL. Untuk melakukan penanaman bibit yang tidak merusak kelestarian hutan. "Kami mungkin hanya menanam bibit buah yang bisa tumbuh tanpa merusak hutan. Bukan tanaman horti, yang melakukan pembukaan lahan," kata Pendi.

Namun, sebelum menanam bibit buah dia menuturkan bahwa pihaknya saat ini masih melakukan reboisasi dengan menanami bibit tanaman perdu di kawasan hutan. "Namun, upaya reboisasi kami selalu ingin digagalkan sejumlah oknum," tuturnya.

Di kawasan HL sendiri saat ini banyak ditumbuhi pohon galam, yang merupakan tanaman endemik Kalimantan. Namun, Pendi menyebut, selama ini banyak masyarakat yang menebangnya untuk dijual. "Padahal, kalau keberadaan galam dipertahankan. Hutan bisa jadi ekowisata, dengan mengenalkan pohon endemik dan sejumlah tanaman buah," bebernya.

Untuk itu dia menyampaikan, mereka bersama Dinas Kehutanan Kalsel masih harus berupaya mengamankan kawasan HL dari tangan-tangan rakus. "Seandainya hutan tidak berstatus HL, mungkin sudah banyak kompleks perumahan di sana. Saat ini saja, ada banyak yang mengklaim punya lahan di sana dengan bukti sporadik," ucapnya.

Banyak konflik di kawasan HL dibenarkan Ketua RT 01, RW 01, Kelurahan Landasan Ulin, Suji Wahono. Dia menuturkan, sudah berulang kali ada warga yang datang saling memperebutkan lahan yang ada di sana. "Bukti mereka hanya sporadik. Jadi, saya menengahinya harus hati-hati karena di sana 'kan kawasan HL," tuturnya.

Ditambahkannya, setidaknya ada 20 warganya yang memiliki lahan di kawasan HL dengan bukti sporadik. Di mana, saat ini mereka masih menggarap lahannya. "Mereka merasa sebagai pemilik, jadi ya digarap. Tapi, tidak sampai menguasai fisik," tambahnya.

Lalu kenapa bisa masyarakat memiliki sporadik di hutan lindung? Suji menjelaskan, sporadik dikeluarkan oleh Kabupaten Banjar. Karena, di wilayahnya tidak ada HL. "Kawasan HL 'kan ada di Banjarbaru. Nah, Banjarbaru tidak mengeluarkan sporadik karena tahu di sana kawasan HL. Tapi ternyata malah Banjar yang mengeluarkannya. Karena di sana memang perbatasan antara Banjar dan Banjarbaru," jelasnya.

Dia berharap, jika memang pemerintah ingin menjaga kelestarian HL tanpa dirusak oleh masyarakat, perlu ada suatu pertemuan untuk memberikan pemahaman ke masyarakat. "Dalam hal ini jangan sampai ada yang dirugikan. Karena, masyarakat juga sudah sejak tahun 1970-an punya izin garap di sana," katanya.

Secara terpisah, Kabid Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (PKSDAE) pada Dinas Kehutanan Kalsel, Pantja Satata mengatakan pihaknya segera melakukan sosialisasi ke masyarakat tentang aturan yang ada di dalam kawasan HL. "Di sana tidak boleh dibangun rumah. Pohon juga tidak boleh ditebang," ucapnya.

Untuk mengamankan hutan lindung, dalam waktu dekat mereka juga akan membatasi kawasan tersebut dengan kanal. "Akan kami buat kanal mengeliling perbatasan hutan lindung yang ada di Liang Anggang itu," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Jumat, 17 Januari 2020 14:46

Demi Akses Transportasi Sungai, Jembatan Melengkung Tatah Bangkal Percontohan

BANJARMASIN – Pembangunan Jembatan Tatah Bangkal baru saja diselesaikan Dinas…

Jumat, 17 Januari 2020 11:45

Mangkrak, Akhirnya Rumah Sakit di Kotabaru ini Jadi Sarang Hantu

KOTABARU - Tiga anak muda berlarian. Memburu bayangan putih. Gagal.…

Jumat, 17 Januari 2020 11:31

Pondoknya Dirobohkan, Alfaruk Bantah Bangunannya Masuk Kawasan Hutan Lindung, Tiap Tahun ia Sudah Bayar Pajak

BANJARBARU - Alfaruk (50), warga Liang Anggang, Banjarbaru, hanya bisa…

Jumat, 17 Januari 2020 11:26

Gara-gara Pemekaran, PPK Sigam Belum Bisa Dibentuk

BANJARMASIN - Hingga saat ini KPU belum bisa memutuskan nasib…

Jumat, 17 Januari 2020 11:05

Butuh Dana Besar, Dinkes Diharap Tidak Asal Salurkan Jaminan Kesehatan

BANJARMASIN - Komisi IV DPRD Banjarmasin mengingatkan Dinas Kesehatan (Dinkes).…

Jumat, 17 Januari 2020 10:59

Jembatan Pulau Bromo Tunggu Lelang

BANJARMASIN - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin…

Jumat, 17 Januari 2020 10:56

Dewan Perwakilan Mahasiswa Belajar ke Dewan

BANJARMASIN – Gedung DPRD Kalsel didatangi 50 mahasiswa. Mereka berasal…

Jumat, 17 Januari 2020 10:19

BAPPEDA: Banjir Berkaitan Dengan Kawasan Kumuh Cempaka

BANJARBARU - Di tahun ini, kawasan Cempaka jadi prioritas perencanaan…

Jumat, 17 Januari 2020 09:59

Aset Pelabuhan Masih Diperebutkan, Apakah Milik Pemprov atau Pemkab

BANJARMASIN - Banyaknya aset bidang perikanan dan kelautan yang masih…

Jumat, 17 Januari 2020 09:56

Mengeluh, Kelompok Tani Landasan Ulin Datangi DPRD

BANJARMASIN - Puluhan warga Landasan Ulin Timur dan Barat, serta…

Demi Akses Transportasi Sungai, Jembatan Melengkung Tatah Bangkal Percontohan

Jarang Razia di Pertigaan Tower, Banyak Pengendara yang Santai Melanggar

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Mangkrak, Akhirnya Rumah Sakit di Kotabaru ini Jadi Sarang Hantu

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pondoknya Dirobohkan, Alfaruk Bantah Bangunannya Masuk Kawasan Hutan Lindung, Tiap Tahun ia Sudah Bayar Pajak

Gara-gara Pemekaran, PPK Sigam Belum Bisa Dibentuk

Butuh Dana Besar, Dinkes Diharap Tidak Asal Salurkan Jaminan Kesehatan

Jembatan Pulau Bromo Tunggu Lelang

Dewan Perwakilan Mahasiswa Belajar ke Dewan
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers