MANAGED BY:
SABTU
14 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Kamis, 19 September 2019 11:51
Sehari-hari Bergaul dengan Racun

Menengok Pasar Kujajing di Banjarmasin Tengah

BERSYUKUR: Upah sepuh tak seberapa. Meski pendapatannya kian menurun, Aini memilih bertahan di Pasar Kujajing. | FOTO: MAULANA/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Segelintir tukang sepuh masih bertahan di Banjarmasin. Salah satunya adalah Muhammad Aini. Hampir dua puluh tahun ia menekuni pekerjaan itu. Sampai kedua anaknya menjadi guru dan perawat.

-- Oleh: MAULANA, Banjarmasin --

TAHUN 80-an, Aini mulai menggeluti usaha sepuh perhiasan. Keahlian itu diwarisinya dari almarhum mertua, Haji Rafii.

Dulu dia hanya buruh toko di Pasar Baru. Lelaki kelahiran Amuntai tahun 1955 itu kini tinggal di Jalan Kuin Selatan, Banjarmasin Selatan.

Peralatan kerjanya sederhana. Toples bekas dijadikan wadah pencelup. Segala jenis perhiasaan ia terima. Dari emas dan perak. Gelang, kalung, atau cincin bermata batu akik.

Tokonya juga sederhana. Meja kecil ditempelkan ke tiang pondasi pasar. Dia mulai bekerja sejak jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Lapaknya diberi nama 'Irama'. Nama itu peninggalan sang mertua. Karena mertuanya penggemar berat musik keroncong. "Dulu usaha mertua yang memakai nama ini. Beliau wafat, saya teruskan saja," kenangnya.

Di Pasar Kujajing, Jalan Pasar Baru, lapaknya mudah dicari. Berada di lorong dekat parkiran sepeda motor. Dikelilingi pedagang jam tangan dan kaca mata.

"Dulu sempat di lantai atas pasar. Beberapa tahun kemudian pindah ke bawah," ujarnya. Pengelola pasar biasanya menarik Rp40 ribu per bulan untuk sewa lapak itu.

Cara kerjanya, Aini merendam perhiasan dengan air putas. Sementara listrik disengatkan memakai adaptor sederhana. Gunanya untuk merontokkan kotoran. Sebelum dipoles, harus dibersihkan dulu. Perhiasan kemudian dikeringkan dengan sorot lampu pijar.

"Jika kilapnya hendak awet, ya tergantung pemakaian si pemakai. Kalau keseringan kena deterjen atau sabun mandi, makin cepat pula pudarnya," jelas Aini.

Tahun demi tahun berlalu, pendapatan Aini kian seret. Tapi dia enggan berpindah pekerjaan. Aini sudah cukup bersyukur dengan apa yang ia peroleh saat ini.

"Dulu, sebelum kerusuhan Jumat Kelabu (23 Mei 1997), sehari bisa bawa duit Rp200 ribu ke rumah. Sekarang, upahnya tak seberapa," kisahnya.

"Tapi namanya rejeki sudah diatur tuhan, tinggal menjalani saja, alhamdulillah bisa menguliahkan anak sampai menjadi orang," lanjutnya.

Aini memang tak meminta banyak. Tarifnya Rp10 ribu per sepuh untuk emas. Rp5 ribu untuk perak. "Macam-macam yang datang kemari. Dari polisi, pegawai kejaksaan, sampai kolektor cincin. Terkadang, mereka ngasih upah lebih," ujarnya.

Seingatnya, di Pasar Kujajing cuma ada tiga tukang sepuh. Satu sudah meninggal dunia, satu lagi berpindah pekerjaan. "Jadi tersisa saya yang masih bertahan," ujarnya lirih.

Tak mudah menjadi tukang sepuh. Risikonya tinggi. Karena bahan-bahan kimia itu, kesehatan kulit menjadi taruhan. "Sehari-hari saya bersentuhan dengan racun. Saya biasanya memakai jeruk nipis dan asam Jawa untuk mencuci tangan," pungkasnya. (fud/ema)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.