MANAGED BY:
JUMAT
15 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Minggu, 06 Oktober 2019 10:55
Gara-gara ini, 2 Ton Ikan Jadi Bangkai, Petambak Banua Anyar Rugi Puluhan Juta
RUGI BESAR: Berton-ton ikan bawal di keramba Banjarmasin Timur berubah menjadi bangkai gara-gara lonjakan kadar garam Sungai Martapura. | Foto: FAHRIADI NUR/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Intrusi air laut ke Sungai Martapura tak cuma membuat Banjarmasin menderita krisis air bersih. Tapi juga membuat petambak ikan air tawar merugi. Seperti yang menimpa usaha tambak ikan di Banua Anyar, Banjarmasin Timur.

Salah seorang korbannya adalah Muhammad Yusi. Dua hari terakhir, setidaknya ia kehilangan nyaris dua ton ikan bawal dari 30 keramba. Semuanya mati akibat tak kuat menahan kadar garam yang terlalu tinggi.

Kalau dirupiahkan, kerugiannya mencapai Rp34 juta. Berdasarkan harga normal ikan bawal Rp17 ribu per kilogram. “Ini yang sudah ditimbang. Yang belum diangkat dari keramba masih banyak," keluhnya.

Ikan-ikan mati itu sebenarnya masih bisa diuangkan. Dijual murah kepada pengepul untuk dijadikan pakan ternak. Tetap saja angkanya tak sebanding. Cuma seribu per kilogram.

Tak bisa menutupi modal yang mesti dikeluarkan selama memelihara ikan. “Kalau dihitung-hitung, per keramba modalnya sekitar Rp2 juta. Satu keramba bisa memuat sampai 500 kilogram ikan bawal,” tuturnya.

Memelihara ikan ini bukan perkara mudah. Butuh waktu setengah tahun untuk bisa dipanen. “Saat ini belum tiba masa panen. Kalaupun ada, beberapa keramba saja,” sebutnya.

Perlu diketahui, masa panen ikan bawal terjadi tiga fase. Lima bulan pertama, memasuki bulan keenam, lalu puncaknya pada bulan ketujuh. Dalam kondisi normal, keuntungan maksimal bisa mencapai Rp7 juta per keramba.

Tahun ini, Yusi harus gigit jari. Keuntungan besar di depan mata gagal diraih. Dirinya cuma bisa pasrah. Menunggu kondisi sungai membaik.

“Ada yang hidup saja sudah syukur. Itu pun harga jualnya pasti jatuh. Bahkan bisa anjlok sampai Rp14 ribu per kilo,” ungkapnya.

Saat ini Yusi memilih fokus untuk membersihkan keramba-keramba miliknya. Mengambil ribuan bangkai ikan yang mati agar tak mencemari lingkungan. “Namanya kondisi alam, ya tidak bisa disiasati lagi. Tahun ini sepertinya paling parah dalam tiga tahun terakhir,” sebutnya.

Itulah dampak buruk yang menimpa petani-petani ikan di Banjarmasin. Yusi hanya satu contoh dari ratusan orang lainnya.

Sejauh ini, kadar garam di Sungai Martapura masih melebihi ambang batas 250 miligram per liter. Sempat menembus angka 6.000 miligram per liter. Hingga berangsur turun. (nur/fud/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*