MANAGED BY:
SELASA
22 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Senin, 07 Oktober 2019 13:10
Banua Anyar Bau Menyengat, Kerugian Capai Rp1,2 Miliar
Seluruh petambak ikan bawal yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Banua Anyar dipastikan rugi besar tahun ini. Bahkan, diperkirakan ada yang sampai kehabisan modal karena ikannya berubah menjadi bangkai.

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Seluruh petambak ikan bawal yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Banua Anyar dipastikan rugi besar tahun ini. Bahkan, diperkirakan ada yang sampai kehabisan modal karena ikannya berubah menjadi bangkai.

Pasalnya, hampir semua ikan yang siap panen mati mendadak karena intrusi air laut yang sedang mencemari Sungai Martapura. Dibarengi hujan deras yang mengguyur tiba-tiba, berton-ton ikan itu rupanya tak siap beradaptasi.

Bayangkan saja, ada sekitar 70 petambak yang tergabung dalam Gapoktan Banua Anyar. Rata-rata seorang petambak memiliki antara 10 sampai 30 keramba.

Wakil Ketua Gapoktan Banua Anyar, Muhammad Habhan menyebutkan, ada sekitar 600 keramba yang dibangun di sepanjang Sungai Martapura. Dijelaskannya, tak semua keramba diisi dengan ikan yang siap panen, ada juga yang diisi dengan bibit.

Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 400 keramba yang sudah siap panen. Biasanya satu keramba berisi 300 kilogram ikan. "Jika dalam satu keramba ada 200 kilogram saja yang mati, dikalikan 400 keramba, bayangkan berapa ton ikan yang mati," bebernya.

Total, ada 80 ton ikan bawal yang menjadi bangkai. "Kalau dikalikan Rp15 ribu per kilogram, artinya hampir Rp1,2 miliar kerugian yang diderita petambak," jelasnya.

Ikan yang sudah mati memang masih bisa dijual, tapi harganya anjlok. "Memang masih bisa dijual ke Cindai Alus untuk digiling menjadi pakan ternak. Tapi harganya cuma seribu rupiah," ungkapnya.

Menurutnya, peran serta Pemko Banjarmasin dalam usaha ini sangat penting. Andaikan ada pasokan informasi mengenai kadar garam atau cuaca ekstrem yang akan datang, mereka bisa mengantisipasi terlebih dahulu.

"Andai kami tahu kondisi air sungai dan kapan hujan akan datang, kami bisa mengantisipasi. Dengan cara tidak memberi makan ikan. Karena dengan lapar, mereka justru kuat. Jika kekenyangan, ikan sangat mudah mati menghadapi perubahan cuaca yang berubah drastis," ujarnya.

Melihat kondisi sekarang, tak ada sedikit pun perhatian dari pemko. Padahal ini fenomena paling mengerikan yang mereka pernah hadapi.

"Yang saya pikirkan, bagaimana nasib para petambak yang sudah tak memiliki modal. Ikannya sudah mati semua. Tak punya bibit lagi. Peran pemko sangat penting pada masa sulit seperti ini," harapnya.

Ternyata Banjarmasin adalah salah satu pemasok ikan bawal terbesar di Kalimantan. Mereka kerap memasok ke Pontianak, Samarinda, Sampit, dan Palangka Raya.

"Saya dengar, bahkan Pontianak setelah mendapatkan pasokan ikan bawal dari Banjarmasin, langsung dikemas ulang untuk diekspor keluar negeri. Tapi khusus ukuran besar, misalkan satu ikan dengan berat satu atau dua kilogram," kisahnya.

Habhan mempunyai tips untuk mengurangi volume kematian pada ikan saat air sedang tidak stabil. Yakni dengan menggunakan oksigen yang dihasilkan mesin air. Tapi karena keterbatasan, tidak semua petambak memiliki mesin tersebut.

"Semoga pemerintah bisa membantu kami. Satu mesin seharga Rp2 juta, sudah bisa dipakai sekitar 30 keramba. Itu sangat membantu pengurangan tingkat kematian ikan," tukasnya.

Salah satu petambak yang biasa dipanggil Anang, terlihat memotong ikan mati untuk dijadikan pakan ikan yang masih hidup. "Lebih satu ton yang mati. Untungnnya masih ada bibit yang bertahan. Itulah harapan saya yang tersisa," sesalnya.

Akibat puluhan ton ikan mati, bau menyengat pun tercium dari kawasan Banua Anyar. Banyak pelancong yang sedang menikmati wisata susur sungai dengam menaiki kelotok terpaksa menutupi hidungnya.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Banjarmasin, Lauhem Mahfuzi mengaku belum bisa berkomentar dengan alasan masih berada di luar kota.

Diwartakan sebelumnya, selama kemarau, intrusi air laut membuat Sungai Martapura asin. Kadar garam bahkan sempat tembus 6.000 miligram per liter. Sampai-sampai tak bisa diolah menjadi air bersih oleh PDAM. (hid/fud/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*