MANAGED BY:
SELASA
22 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Kamis, 10 Oktober 2019 12:42
BPOM Sudah Larang Ranitidin, Rumah Sakit Belum Terima Surat Penarikan
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin, Suciati

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) telah mengeluarkan surat agar produk obat yang mengandung ranitidin ditarik dari pasaran dan produksinya dihentikan. Meski demikian, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin Suciati mengatakan pihaknya masih belum menerima perintah resmi mengenai hal ini.

"Sudah baca kemarin (8/10) di media massa berita penarikan ranitidin dari peredaran, tapi surat edaran resmi dari Kementerian Kesehatan atau BPOM belum ada," kata suci kepada Radar Banjarmasin, Rabu (9/10).

Basanya setelah ada informasi seperti itu, pusat akan mengirimkan surat edaran ke seluruh rumah sakit. Selanjutnya akan diteruskan ke bidang instalasi farmasi di rumah sakit. Suci mengatakan selagi menunggu surat edaran resmi dari pusat, pihaknya sudah menghentikan penjualan obat lambung itu.

Kabid Humas BPOM Banjarmasin Titis menegaskan, pihaknya telah mengikuti arahan dari pusat jika memang ada surat perintah recall terhadap ranitidin. "Kebijakan ya sama tidak dibeda-bedakan, harus ditarik," tegasnya.

Setelah mendengar kebijakan dari pusat agar menarik peredaran obat ranitidin, BPOM Banjarmasin bergerak cepat memberikan surat edaran ke Pedagang Besar Farmasi (PBF) di Banjarmasin. Aturan dari pusat, pabrikan farmasi melalui PBF harus menarik seluruh obat ranitidin yang beredar di pasaran melalui distributor nya yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Mengenai batas waktu penarikan, jelasnya, tentu butuh proses, karena penyebarannya yang sangat luas."Tugas BPOM sendiri akan memantau penarikan barang dari peredaran, biasanya distributor memberikan laporan yang sudah ditarik," jelasnya.

Info penarikan obat Ranitidin juga belum disampaikan BPOM ke RSD Idaman Banjarbaru. Hingga kemarin, pihak rumah sakit belum juga menerima pemberitahuan.

"Kami tahunya baru dari media-media, kalau pemberitahuan dari BPOM belum kami terima," kata Kepala Bagian TU RSUD Idaman Kota Banjarbaru, Muhammad Firmansyah.

Namun, dia menyampaikan, meski belum menerima kabar dari BPOM pihaknya sudah tidak menggunakan obat Ranitidin yang ditarik oleh BPOM tersebut. "Jadi, obat yang ada di RSD Idaman semuanya aman," ucapnya.

Firman menuturkan, berdasarkan informasi yang didapatkannya, Ranitidin sebenarnya tidak bermasalah. Hanya saja, yang membuat BPOM menariknya dari pasaran yakni dikarenakan terpapar zat lain yang bisa menyebabkan potensi kanker. "Infonya ditarik gara-gara terpapar zat N-Nitrosodimethylamine (NDMA)," tuturnya.

Sementara itu, Ketua IDI Wilayah Kalimantan Selatan M Rudiansyah menjelaskan, Ranitidin merupakan obat yang termasuk dalam golongan histamin 2 blocker (penghambat histamin 2).

"Efek Ranitidin dapat menurunkan produksi asam lambung. Juga mampu mencegah dan memperbaiki keluhan-keluhan rasa terbakar di dada, karena asam lambung naik ke saluran pencernaan atas," jelasnya.

Dia menambahkan, Ranitidin juga diberikan pada kasus-kasus tertentu. Seperti pada kasus pengobatan dan pencegahan ulkus pada lambung dan usus halus serta pengobatan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

"Penggunaan Ranitidin ini sudah sangat umum beredar di masyarakat untuk pengobatan kondisi-kondisi tersebut," tambahnya.

Menurut informasi yang diterimanya, pada 24 September 2019, FDA Amerika Serikat sudah lebih dulu mengumumkan kepada para profesional kesehatan dan pasien-pasien untuk secara sukarela menarik kembali Ranitidin kapsul yang dikeluarkan salah satu perusahaan farmasi terbesar di dunia.

"Penarikan ini berhubungan dengan tercemarnya Ranitidin oleh bahan yang disebut Nitrosamin, N-Nitrosodimethylamine (NDMA)," ujarnya.

NDMA sendiri menurutnya merupakan suatu bahan yang bersifat karsinogenik pada manusia (memicu kanker). "Mengonsumsi Nitrosamin yang melebihi ambang batas dapat memicu kejadian kanker. Hal itu dilaporkan dua orang peneliti Inggris, John Barnes dan Peter Magee pada 1956 lalu. Selain itu Dimethylnitrosamine juga menyebabkan tumor hati pada tikus dalam penelitian mereka," bebernya.

Dia mengungkapkan, dalam obat Ranitidin, didapatkan kadar Nitrosamin yang melebihi ambang batas sehingga cukup berbahaya apabila dikonsumsi dalam jangka panjang pada kasus-kasus seperti gastritis, GERD, dan ulkus esofagus maupun lambung.

"Jadi penarikan jenis obat Ranitidin merupakan suatu tindakan yang harus didukung dalam rangka penyelamatan pasien. Agar tidak terjadi risiko terkena kanker akibat konsumsi obat tersebut," ungkapnya.

Ketika obat Ranitidin ditarik di pasaran, menurut Rudiansyah ada alternatif obat-obat lain untuk kasus penyakit yang sama. Yaitu, obat golongan simetidin, famoditidin atau penghambat pompa proton (proton pump inhibitor/PPI) seperti omeprazole, lansoprazole, rabeprazole, pantoprazole atau esomeprazole.

"Tapi, perlu pengawasan dan penyelidikan lebih mendalam lagi untuk menentukan kadar Nitrosamin dalam obat-obatan tersebut, termasuk juga obat-obat lain maupun jenis-jenis makanan yang memiliki risiko tercemarnya Nitrosamin," pungkasnya.

Kepala Badan POM Penny Lukito menyatakan studi global memutuskan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan adalah 96 mg/hari. Kandungannya bersifat karsinogenik atau pemicu kanker jika dikonsumsi di atas ambang batas secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. ”Hal ini dijadikan dasar oleh Badan POM dalam mengawal keamanan obat yang beredar di Indonesia,” ujarnya. 

Badan POM menurut Penny, saat ini sudah  melakukan  pengujian beberapa sampel  produk ranitidin. Pengujian dan kajian risiko akan dilanjutkan terhadap seluruh produk yang mengandung ranitidin. Hasil uji sebagian sampel mengandung cemaran NDMA dengan jumlah yang melebihi batas yang diperbolehkan.

”Berdasarkan nilai ambang batas cemaran NDMA yang diperbolehkan, kami minta kepada industri farmasi pemegang izin edar produk tersebut untuk melakukan penghentian produksi dan distribusi serta melakukan penarikan kembali seluruh bets produk dari peredaran,” ucapnya. Penny juga menyarankan agar farmasi secara rutin melakuka  pengujian  cemaran NDMA. 

Lalu bagaimana dengan masyarakat yang sedang menjalani pengobatan dengan zat jenis ini? Penny menyarankan agar segera menghubungi dokter atau apoteker untuk konsultasi. Sebab tidak semua ranitidin dilarang. (gmp/lyn/ris/ran/ema)


BACA JUGA

Selasa, 22 Oktober 2019 15:11
Pemkab Balangan

Bank Kalsel Bagikan Door Prize Untuk ASN

PARINGIN - Memeriahkan apel gabungan Pemkab Balangan, Bank Kalsel memberikan…

Selasa, 22 Oktober 2019 12:29

Alhamdulillah..! Tren Pengangguran Kalsel Turun dalam Setahun Terakhir

BANJARMASIN - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Kalsel menyebut…

Selasa, 22 Oktober 2019 12:19

Sulaiman Deklarasi Sebelum Akhir Tahun

MARTAPURA – Gusti Sulaiman Razak memastikan diri maju pada Pilkada…

Selasa, 22 Oktober 2019 12:09

Sempat Dikaitkan Dengan Anak Haji Leman, Bartman Tegaskan Tidak ikut Berpolitik

BANJARMASIN – Pilwali 2020 mulai menyeret komunitas dan organisasi di…

Selasa, 22 Oktober 2019 11:51

CPNS 2019: Tenaga Kesehatan dan Pendidikan Harap Sabar

BANJARMASIN - Pemerintah pusat telah mengumumkan pendaftaran CPNS 2019 akan…

Selasa, 22 Oktober 2019 11:38

Karung Lumpur Menumpuk di Trotoar Depan ULM, Pejalan Kaki Mengeluh

BANJARMASIN - Tumpukan lumpur dalam karung di trotoar Jalan Hasan…

Selasa, 22 Oktober 2019 11:23

Alalak Bisa Jadi Percontohan

BANJARMASIN - Kota ini belum terbebas dari kekumuhan. Terutama di…

Selasa, 22 Oktober 2019 10:46

Demokrat Gabung Golkar, PAN PKS Join, DPRD Banjarbaru Tetap Tujuh Fraksi

BANJARBARU – Para wakil rakyat di DPRD Banjarbaru akhirnya resmi…

Selasa, 22 Oktober 2019 10:36
Pemko Banjarbaru

Walikota Berikan Arahan Kepada Pegawai Diskominfo

BANJARBARU - Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani didampingi Kepala Dinas Komunikasi…

Selasa, 22 Oktober 2019 10:31
Pemkab Tanah Bumbu

Jauhkan Perbedaan, Samakan Persepsi dan Tujuan

BATULICIN - Deklarasi Anti Radikalisme serta mendukung suksesnya pelantikan Presiden…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*