MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 12 Oktober 2019 12:01
Gratiskan Honor untuk Safrah Amal, Bila Tak Manggung Jualan Es Keliling

Selamat Jalan Kai Jujuriring, Seniman Madihin Dangdut asal Danau Panggang

FOTO: Dari kiri Fahriati istri, Karani alias Kai Jujuliling/Jujuriring dan Nurul Yuliani putri semata wayang sang Maestro Madihin Dangdut Banua. Foto diambil sekitar tiga tahun silam.

PROKAL.CO, Banua kehilangan satu lagi seniman gaek yang konsisten di jalurnya, memopulerkan seni tradisi madihin Banjar yang dipadu dengan musik dangdut. Dia lah Karani alias Kai Jujuriring. Di hari kedua setelah kepergian sang seniman menghadap Ilahi, wartawan Radar Banjarmasin Muhammad Akbar mengunjungi kediamannya, di Danau Panggang, Hulu Sungai Utara.

-----------------------------

Kai Jujuliling atau Jujuriring adalah nama panggung Karani ketika tampil menghibur, bersama grup organ tunggal di acara atau hajatan yang mengundangnya.

Lelaki kelahiran Desa Danau Panggang Kecamatan Danau Panggang, HSU, 61 tahun silam ini, sangat mencintai seni tradisi madihin, ia juga penyuka musik yang sangat populer di tanah air, dangdut. Jadilah ia memadukan keduanya hingga menjadi genre khas tersendiri, Madihin Dangdut Banjar.

Dalam video klip-nya, Kai Jujuriring juga tak lupa mengangkat ciri khas daerahnya, Hulu Sungai Utara. Seperti dalam lagunya yang cukup viral, Sakit Lantuhut, diawali dengan penampilan maskot HSU, Kota Itik dan jembatan Paliwara.

Namun sekarang, ini semua telah menjadi warisan Karani bagi seni tradisi banua. Karena ia telah tiada. Pada Rabu, 9 Oktober 2019 sekitar pukul 21.30 Wita, ia mengalami kecelakaan tunggal sepeda motor di Desa Muning Kecamatan Daha Selatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Akibat insiden tersebut, Karani mengalami cedera di kepala dan akhirnya meninggal dunia.

Kabar duka pun berhamburan di jagat maya. Radar Banjarmasin pun kemarin menyambangi kediaman Karani di Desa Pandamaan, Kecamatan Danau Panggang. Terletak sekitar 30 kilometer dari Kota Amuntai.

Setelah beberapa kali bertanya kepada warga yang kebetulan selalu mengenalnya, akhirnya wartawan koran ini menemukan rumah Karani. Sebuah rumah panggung berukuran 6 x 9 meter, di tengah pemukiman padat penduduk dalam gang RT 1 RW 1, di pinggir Sungai Danau Panggang.

Dalam suasana yang masih berduka, Fahriati -istri Kai Jujuriring menerima wartawan koran ini. Matanya masih sembab, masih sering menangis mengenang sang suami yang dikenal kocak dan ramah. "Ini sudah rumah kami, apa adanya," sebut Acil Ati –demikian perempuan yang sudah mendampingi hidup Kai Jujuriring selama 27 tahun ini biasa disapa warga.

Di dinding ruang tamu rumah kayu tersebut, banyak foto-foto kenangan yang dipajang. Termasuk salah satunya poster Jaya Group, grup musik almarhum. Menariknya, disitu tertulis besar Kai Jujuliling, bukan Jujuriring seperti yang populer selama ini.

“Sebenarnya Kai memang ingin memakai nama panggung Kai Jujuliling,”ujar Acil Ati.

Jujuliling menurutnya diambil dari kata penjual keliling, karena ketika sedang tidak ada panggilan manggung, maka Karani tak sungkan untuk berjualan es potong keliling, demi tetap menafkahi keluarga.

Namun, belakangan nama Kai Jujuriring justru lebih dikenal, karena gaya joget Kai Jujuliling yang terlihat seperti orang jujuriring (sempoyongan).

Meski hidup sederhana, almarhum Karani dikenal suka membantu, suka berbagi dengan rekan sesama musisi atau biduan yang sedang menghadapi kesulitan.

"Jika ada teman nggak punya uang, Kai pasti membagi sebagian honornya. Meski sebenarnya kebutuhan Kai juga ada, tapi itulah beliau, memang sosial dan ramah sama semua orang, lucu dan tidak pernah marah," kenang Acil Ati.

Fahriati mengaku, ia adalah istri kedua almarhum yang dinikahi pada tahun 1992. Istri pertama dan zuriatnya (anak, Red) sekarang ada di Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

“Kami juga dulu tinggal di sana, baru kembali ke Danau Panggang ini sejak 2005 silam,” ungkapnya.

Meski sudah dikenal hingga pernah diundang ke kota-kota di provinsi tetangga, seperti Palangka Raya, Samarinda, Bontang hingga Pontianak, menurut Acil Ati suaminya tidak pernah mematok tarif tinggi.

"Kalau di Danau Panggang ini saja tampilnya, bisa Rp300 ribu untuk Kai aja. Di Kota Amuntai Rp500 ribu. Kalau ke luar kota biasanya Rp2-3 juta,” ujarnya.

Bahkan menurutnya sering Kai Jujuriring menggratiskan honornya ketika menghibur. Ketika diundang mengisi acara safrah amal, penggalangan dana untuk mendirikan rumah ibadah.

Sementara itu, Nurul Yuliani (22) putri satu-satunya almarhum bersama Fahriati, ternyata mewarisi bakat seni sang ayah. "Terakhir manggung sama Abah di Batola dalam hajatan bulan Mei tadi," kata Nurul sekarang kuliah di Kota Banjarmasin.

Menurut Nurul, ketika manggung ayahnya selalu membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri yang berisi nasihat dan petuah hidup dalam bahasa Banjar. Beberapa sudah direkam dan dijual dalam bentuk keping CD. “Dulu zaman VCD abah menyetak 300 keping, pasti habis. Kalau yang belum direkam, di kamar beliau masih ada beberapa catatannya,” ujarnya.

Lagu-lagu Karani inilah yang kemudian menjadi populer dan di upload ke kanal Youtube. “Kami sendiri tidak tahu, tiba-tiba sudah viral. Meski begitu kami senang ada orang yang peduli dengan karya seni abah,” tandasnya.

Sementara itu, pihak Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata dan Budaya (Disporaparbud) melalui Kadis Disporaparbud H Fajeri Ripani disampaikan Kabid Pariwisata dan Budaya Siti Marhana mengaku turut berduka cita.

"Beliau merupakan seniman unik dan cukup populer di Kalimantan. Kami sangat kehilangan pastinya. Untuk perhatian kami tunggu petunjuk pimpinan," singkatnya. (mar/bin/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers