MANAGED BY:
JUMAT
13 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Senin, 28 Oktober 2019 11:50
Layar Terpasang di Tengah Hutan, Ratusan Orang Rela Mendaki Gunung Untuk Nobar Negeri Dongeng di Pegunungan Meratus
NONTON BARENG: Suasana nonton bareng pemutaran film Negeri Dongeng yang digelar di hutan pegunungan Meratus tadi malam. | Foto: Rasidi Fadly/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, RANTAU - Tidak mudah untuk menonton film negeri dongeng, karena film ini dikomersilkan. Namun, lewat pemuda pencinta lingkungan di Kabupaten Tapin, film negeri dongeng dapat ditonton di Pegunungan Meratus Desa Pipitak Jaya, Kecamatan Piani.

Layar berukuran 4 x 6 meter terpasang di tengah hutan. Ratusan orang mulai mencari tempat duduk yang nyaman untuk menyaksikan film dengan durasi satu jam 44 menit itu. Namun, sebelum peserta sampai ke lokasi tempat pemutaran film, mereka terlebih dahulu harus berjuang naik ke Pegunungan Meratus di Kecamatan Piani. Bukan karena jaraknya yang jauh, tapi medan yang ditempuh ke lokasi lumayan sulit.

Apalagi sejak pukul 14.30 Wita sampai 16.00 Wita, di Kecamatan Piani dilanda hujan yang begitu deras. Membuat jalan begitu licin. Ada peserta yang kesulitan untuk naik dan harus dibantu peserta lainnya. Peserta sendiri tidak hanya dari Tapin, tetapi juga dari daerah lain yang ikut berpartisipasi dalam kamping bersama sambil melihat pemutaran film.

"Jumlah peserta yang terdaftar pada kegiatan ini ada 225 orang. Kami menyediakan 70 tenda untuk peserta," ungkap ketua panitia pelaksana Hendra Gunawan.

Pria yang biasa dipanggil Ogun ini mengungkapkan bahwa event ini berjudul Ruai Rindu Meratus bersama Negeri Dongeng. Kegiatan ini juga dirangkai dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

"Peringatan Hari Sumpah Pemuda kali ini terasa spesial. Selain dilaksanakan di atas Pegunungan Meratus, yang jadi inspektur upacara adalah Kapolres Tapin dan Dandim 1010 Rantau," bebernya.

Lantas kenapa film negeri dongeng yang dipilih untuk ditayangkan? Ogun menjelaskan bahwa film ini sangat dinanti oleh para pemuda, terutama yang suka mendaki. "Film ini bercerita tentang 7 pemuda dengan 7 mata lensa, yang mendaki 7 gunung tertinggi di Indonesia," katanya.

Diakui Ogun, untuk mendatangkan film negeri dongeng tidak gratis. Biayanya mencapai 15 juta rupiah. "Untuk mencari dana sebesar itu, panitia pelaksana awalnya patungan seikhlasnya," katanya.

Lalu berusaha membagikan proposal kegiatan ke beberapa orang. Ditambah dengan membebankan biaya pendaftaran kepada peserta yang ingin ikut event Ruai Rindu Meratus bersama Negeri Dongeng.

"Dari hasil patungan, membagi proposal dan biaya peserta. Kalau uang yang terkumpul banyak, kami berkomitmen untuk menyumbangkan kepada KUN Humanity System," ucapnya yang juga aktif di Forum Komunitas Hijau Go Green Bastari.

Ditambahkan Ogun, persiapan untuk kegiatan ini hanya satu bulan saja. Namun, dalam kurung waktu itu pihaknya selalu mempromosikan kegiatan dengan cara sosialisasi langsung ke sekolah-sekolah dan sosial media yang ada.

"Alhamdulillah pesertanya ada 225 orang, terdiri dari para pencinta alam, siswa-siswi dan masyarakat umum. Bahkan, ada dari polisi yang memanfaatkan waktu liburnya untuk ikut kegiatan ini," paparnya.

Dijelaskan Ogun, pihaknya sengaja memutar film negeri dongeng di Pegunungan Meratus di Kecamatan Piani. Tujuannya ingin memperkenalkan wilayah Piani kepada masyarakat luas. "Apalagi di tempat kita kemping ini, setelah bendungan jadi maka akan tenggelam. Jadi, kota kemping di sini bisa jadi sejarah buat kita," bebernya yang juga sebagai Sekretaris Dewan Adat Dayak (DAD) Tapin.

Tidak hanya itu, melalui pemutaran film itu pihaknya ingin meningkatkan rasa cinta alam dan lingkungan. Serta mendorong rasa sadar akan pentingnya lingkungan dan budaya. "Yang lebih utama, kita ingin memperkenalkan wisata alam yang ada di Banua tercinta," ucap pemuda berkepala plontos ini.

Pihaknya juga ingin memaknai peringatan Hari Sumpah Pemuda dengan hal yang berbeda. Karena itu, diadakan apel di Pegunungan Meratus bersama dengan peserta. "Ternyata keinginan kami ini sangat disambut baik oleh anggota polisi dan TNI yang juga ikut apel di sini," paparnya.

Sementara penanggung jawab semua pemutaran film negeri dongeng, Dirga menjelaskan bahwa Kabupaten Tapin termasuk yang berkesan setelah Yogyakarta untuk pemutaran film. "Alasannya jauh dari peradaban dan jalur untuk menuju kegiatan cukup ekstrim dan peserta juga banyak," jelasnya.

Dijelaskannya bahwa proses pembuatan film negeri dongeng memerlukan waktu empat tahun dengan proses pendakian selama 2 tahun di tujuh gunung tertinggi di Indonesia. "Seperti Gunung Kerinci (Sumatera Barat), Semeru (Jawa Timur), Bukit Raya (Kalimantan Barat), Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Latimojong (Sulawesi Selatan), Binaiya (Maluku) dan Jayawijaya (Papua)," bebernya, yang menjelaskan bahwa dari penayangan awal sudah tak terhitung berapa kali film ini diputar.

Tidak sedikit dana yang keluar selama ekspedisi untuk menyelesaikan film. Dirga bercerita, dari awal keberangkatan sampai film selesai dana yang terkuras mencapai miliaran. "Pendanaan dilakukan secara gotong royong atau tak bernaung pada rumah produksi film besar. Kami lakukan dengan pendanaan mandiri, sponsor, donatur serta penjualan merchandise film," katanya.

Memang untuk pemutaran film tidak gratis. Namun, hasil dari pemutaran film tersebut tersebut didonasikan untuk membantu kebencanaan dalam yayasan yang bernama KUN Humanity System. "KUN sendiri adalah yayasan kemanusiaan yang bergerak di bidang kebencanaan dan Aksa7 adalah rumah produksinya," bebernya.

Baik KUN maupun Aksa7 sebenarnya sama, tapi memiliki peran masing-masing. Karena KUN ke bidang sosial dan Aksa7 adalah yang mencari dananya. "Jadi, kawan-kawan yang berpartisipasi menonton film negeri dongeng secara tidak langsung ikut dalam aksi kemanusiaan," jelasnya. (dly/ema)


BACA JUGA

Kamis, 12 Desember 2019 11:34
SMK PP Negeri Banjarbaru

Kuliah Umum Marketing Online Bersama Alumni SMK-PP N Banjarbaru

Banjarbaru - SMK-PP Negeri Banjarbaru yang telah berdiri 64 tahun,…

Kamis, 12 Desember 2019 10:55

Yuk Nobar Panglima Tanpa Kepala

BANJARMASIN - Besok (13/12) malam, Aruh Film Kalimantan 2019 dibuka.…

Kamis, 12 Desember 2019 10:36

Polda Kalsel Peroleh Penghargaan WBK

BANJARMASIN - Hari Anti Korupsi Internasional menjadi hari bersejarah bagi…

Rabu, 11 Desember 2019 18:59
PT PLN Kalselteng

Bandara Baru 100 Persen Disuplai Listrik PLN

BANJARBARU - Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin di Banjarbaru telah…

Rabu, 11 Desember 2019 12:57

Romantisme Orang Kota, Tak Terbukti Apa-apa

Beberapa hari yang lalutepatnya Jum’at, 6 Desember 2019 kota Banjarmasin…

Selasa, 10 Desember 2019 16:50

Perkaya Data Berita Gambut

BANJARMASIN - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bekerja sama dengan…

Selasa, 10 Desember 2019 10:34
SMKN PP Banjarbaru

SMK-PPN BANJARBARU GELAR SOSIALISASI PENILAIAN ANGKA KREDIT GURU

Banjarbaru, -  Demi mendukung wawasan dan pengetahuan angka kredit bagi…

Senin, 09 Desember 2019 15:01

Lima Menit, Puluhan Ribu Wadai di Hari Jadi Tabalong ke 54 Ludes

TANJUNG – Puncak peringatan Hari Jadi Kabupaten Tabalong ke 54…

Senin, 09 Desember 2019 14:37

Sabariah Kini Bisa Tidur Nyenyak

BANJARMASIN - Sekitar 70 tahun sudah rumah Nenek Sabariah di…

Senin, 09 Desember 2019 10:45
SMKN PP Banjarbaru

Dukung Kostratani, SMK-PPN Banjarbaru Ikuti Rakor Pendampingan dan Pengawalan

Bogor – Guna kelancaran pelaksanaan Kostratani di berbagai kecamatan, SMK-PPN…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.