MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 30 Oktober 2019 10:44
Madihin, Tradisi Tutur Sarat Pesan Moral, Penangkal Hoax dari Warisan Masa Lalu
SENIMAN MUDA: Arief Putera, pemadihin asal Banjarmasin, menabuh rebana di tepian Sungai Martapura. | FOTO: JAMALUDDIN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Amun pian handak mengkaji ilmu, jangan dadangaran tapi pian harus baguru. Kalau perlu pian membaca buku begamatan meitihi pian dahulu. Jangan memahami tanpa guru atawa teburu-buru. Akhirnya pian takacak habu, ilmunya hanya balalu. Informasinya kada valid, kada kawa diandak sebagai kutu buku.

-- Oleh: JAMALUDDIN, Banjarmasin --

Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, syair di atas maknanya kurang lebih begini: Kalau ingin mengkaji ilmu jangan sekadar mendengar, tapi harus berguru. Kalau perlu membaca buku dan dipahami sedikit demi sedikit. Jangan memahami tanpa guru atau terburu-buru. Akhirnya bisa jadi malah memegang abu, ilmu berlalu, informasi tak valid dan tak bisa jadi kutu buku.

Ini potongan syair dari kesenian Madihin. Kesenian tutur ciri khas masyarakat Kalimantan Selatan. Syairnya sarat petuah. Kesenian ini juga sebagai media pengantar pesan moral bagi masyarakat Banjar.

Sejarahnya, Madihin merupakan sebuah genre puisi atau pantun yang dimainkan satu atau dua orang menggunakan alat bernama terbang atau rebana. Madihin sudah akrab dengan masyarakat Banjar setelah agama Islam berkembang.

Madihin merupakan bentuk hiburan Keraton Banjar pada masa lalu. Nama Madihin berasal dari kata “madah” artinya nasehat atau petuah yang dibuat dalam bentuk pantun atau puisi. Madihin dalam praktiknya menggunakan kata berakhiran aa-aa atau ab-ab.

Cara menyampaikan syairnya menggunakan lagu. Sehingga terdengar lebih merdu dan sejuk. Pemadihin (sebutan untuk pemain Madihin) dituntut pandai merangkai syair dalam waktu singkat.

Madihin telah berkembang seiring berjalan waktu. Mengikuti tuntutan zaman. Madihin mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Sekarang isi syair Madihin tak melulu petuah. Agar tidak kaku, kerap disisipi humor. Tentu petuah tetap mendominasi.

Artinya, Madihin bisa dinikmati berbagai lapisan masyarakat. Itulah mengapa Madihin masih bertahan hingga sekarang. Ya, di zaman serba digita tak membuat kesenian tutur ini ditinggalkan masyarakat Banjar.

“Madihin harus berubah agar bisa diterima seluruh kalangan. Apalagi saat ini Madihin mendapat tempat yang spesial. Dulu permainannya hanya di depan rumah. Sekarang bisa di acara-acara besar,” kata seniman Madihin Kalsel, Ahmad Sya’rani.

Pria dengan nama tenar Anang Sya’rani ini merupakan generasi kedua pengembang kesenian Madihin setelah almarhum Yusran Effendi atau yang dikenal dengan nama panggung John Tralala. Mereka berdua getol mempromosikan Madihin hingga kancah internasional.

Ini menjadi bukti bahwa, kesenian Madihin bukan hanya dinikmati dan diterima oleh masyarakat Banjar. Sekarang Madihin mampu memposisikan dirinya dengan kesenian-kesenian lain.

“Madihin bisa berkolaborasi dengan kesenian modern. Dulu dimainkan pemain tunggal. Sekarang bisa berdialog. Jadi pemain Madihin tidak hanya seorang. Ini bakal menambah kuat pesan-pesan yang ingin disampaikan,” Imbuhnya.

Sampai sini, Madihin ternyata memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat. Termasuk dalam memahami berita di media sosial. Hasilnya, masyarakat akan lebih jeli dalam memilih dan memahami suatu informasi.

Ini mampu mencegah masyarakat agar tak terhasut informasi yang belum jelas asal-usulnya. Agar tak menimbulkan keresahan yang berujung pertikaian sesama warga. Kabar bohong bisa menjadi biang masalah, bahkan bikin geger.

Ambil contoh awal Oktober lalu. Masyarakat dibuat resah oleh pesan berantai di grup-gruop WhatsApp yang memberitakan pipa milik PDAM bocor. Masyarakat pun cemas terkait pasokan air.

Untungnya, berita itu langsung diklarifikasi PDAM. Bahwa edaran itu berita bohong alias hoax.

Hanya gara-gara informasi tak jelas tentang pipa bocor warga dibuat kalang kabut. Bayangkan, apabila ada berita yang mengarah ke SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) yang sensitif?

Maka, perlu upaya penangkalan. Madihin bisa mengambil peran. Membuat masyarakat lebih waspada terhadap hoax. Contoh syair berjudul "Sisiri Buncu Tapih". Maknanya, sebelum memvonis apalagi membagikan berita, kita harus mencermati isinya.

“Syair Madihin seperti ini yang mampu menangkal hoax. Isinya nasihat, kalau diterjemahkan, kurang lebih artinya jangan sembarangan mengabarkan berita yang belum jelas asal-usulnya,” kata pria asal Banjarmasin itu.

Ternyata, kearifan lokal sebagai warisan masa lalu memiliki fungsi filter informasi. Artinya, masyarakat sekarang boleh saja mengklaim lebih modern. Tapi bukan berarti lebih peka dan bijak dalam memaknai peristiwa dan berita ketimbang masyarakat zaman dulu.

Tinggal bagimana kesenian Madihin ini diaplikasikan. Agar mudah memberikan pencerahan kepada masyarakat. Ide yang bisa ditawarkan ialah membuat kolaborasi. Sekarang Anang Sya’rani mengembangkan Madihin dalam sebuah dialog.

Cara lain, memperbanyak penampilan Madihin. Bukan hanya pada acara seremoni pemerintah, tapi juga sekolah dan kampus. “Universitas Lambung Mangkurat kerap mengundang saya. Artinya Madihin ini bisa beradaptasi di mana saja. Tergantung pemadihin mau atau tidak membaca situasi zaman,” tegasnya.

Intinya, bagaimana Madihin menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tanpa harus mencerabut nilai luhurnya.

Dalam rembuk aparat desa yang digelar Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Kalsel di Hotel Rattan In, Kamis (24/10), mantan Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetio mengaku optimis dengan penanggulangan hoax melalui kearifan lokal. Meski banyak anak milenial yang belum mengerti.

“Milenial menganggap kearifan lokal adalah bagian masa lalu, hanya untuk orang tua. Padahal kearifan lokal yang dibalut budaya sebetulnya sistem ketahanan masyarakat. Diciptakan oleh nenek moyang di dalam setiap suku yang ada di Indonesia. Memiliki tugas membangun kebersamaan. Menjadi tempat untuk saling tabayun kalau ada informasi atau fitnah,” katanya.

Artinya, Madihin juga bisa membantu menangkal paham radikal dan terorisme. Karena salah satu kanal penyebaran paham radikal ialah melalui hoax dan indoktrinisasi di medsos.

Ini mengancam kedamaian masyarakat. Berkat internet, jangkauannya menjadi sangat luas dan sulit dikendalikan pemerintah. “Masyarakat cenderung individualis. Lebih suka berkomunikasi melalui medsos. Tidak mau keluar kamar karena seluruh hiburan bisa diakses melalui smartphone,” imbuhnya.

Lalu bagaimana penyesuaian kearifan lokal di era modern saat ini? “Tidak perlu ada pertentangan,” tegas pria 60 tahun itu.

Dalam kesempatan yang sama, Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjend TNI Henry Paruhuman Lubis menyebut kaum emak-emak dan milenial lebih rentan.

Karena cenderung meledak-ledak saat menanggapi sebuah berita. "Fungsi medsos itu mendekatkan yang jauh, bukan malah menjauhkan yang dekat. Itulah akibat kurangnya literasi," tutupnya. (fud/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*