MANAGED BY:
SENIN
09 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 16 November 2019 11:26
Sisi Lain Desa Patikalain: Indung Sambi, Sang Legenda Hidup
LEGENDA HIDUP: Indung Sambi, tersenyum manis ditemui penulis, sesaat hendak melakukan liputan ke Desa Patikalain.

PROKAL.CO, PENDUDUK Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pasti mengenal Indung Sambi. Selain umurnya diyakini lebih dari seabad, perempuan dayak yang satu ini juga dianggap sakti.

-----------------

Di pagi Jumat (8/11) yang dingin. Penulis memacu motor dari Barabai yang menjadi pusat Kabupaten HST, menuju Desa Patikalaian. Selain ingin menulis harmoni penduduk dengan ragam keyakinan di desa tersebut, juga ingin bertemu dengan Indung Sambi. Mendengarkan cerita tentangnya, kemudian membagikannya kepada para pembaca.

Sebelumnya, penulis mengetahui informasi tentang Indung Sambi, dari salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Patikalain. Rizky Ade Putera. Pemuda jangkung, itu menuturkan bahwa Indung Sambi bak legenda hidup di mata penduduk Desa Patikalain.

Indung Sambi, sendiri diketahui tinggal di Dusun Pantai Uang, Kecamatan Hantakan. Sebuah dusun yang terletak sekitar lebih dari 1 jam perjalanan dari Desa Patikalain. Meski tempat tinggalnya telah diketahui, namun mencarinya tak mudah. Indung Sambi, kerap tak berada di kediamannya. Dia gemar menjelajah.

“Umurnya dipercaya lebih seratus tahun. Sudah tua banget, tapi masih kuat naik turun gunung,” ucap Rizky, ketika menemani penulis saat menuju Desa Patikalain.

Mendekati Desa Patikalain, tepat di persimpangan jalan menuju Dusun Ramang, Rizky, tiba-tiba memarkirkan motornya di pinggir tebing. Dia tampak mengobrol dengan sesosok perempuan tua yang berjalan pelan tanpa alas kaki, sembari memegang tongkat. Sementara di punggung perempuan berkebaya putih dengan lilitan kain di lehernya, itu memanggul Butah (tas punggung yang terbuat dari anyaman rotan). Ya, dia Indung Sambi.

Tanpa pikir panjang, seusai ikut memarkirkan motor, penulis bergegas mengeluarkan kamera. Sebelum memotret, mata perempuan yang seluruh warna rambutnya tampak memudar, itu tertuju ke penulis. Mata kami bertemu. Dia tersenyum, menyejukkan.

“Jangan difoto, belum memakai bedak,” ucap Indung Sambi malu-malu. Tak lama kemudian, dia tergelak. Setelah gelak tawanya berhenti, dia memainkan tongkat panjangnya, mengais-ngais dedaunan di tanah. Sementara kepalanya, mendongak ke atas.

Saya mencoba merayu untuk dapat memotretnya. Tapi, Indung Sambi, masih asyik mengais-ngais dedaunan dengan tongkatnya. Dia seperti tak mendengarkan pembicaraan kami. Dan benar. Perlu usaha keras. Meski kakinya masih kuat melangkah, ternyata pendengarannya sudah mulai berkurang. Pantas, rayuan saya sebelumnya tak mempan.

Setelah akhirnya Indung Sambi bersedia difoto. Saya mencoba mengais kisah tentang dirinya. Lagi-lagi, saya harus berbicara dengan suara keras. Kali ini, usaha yang saya lakukan sia-sia. Dari sederet pertanyaan yang saya lontarkan, termasuk menawarkan tumpangan, dia hanya menjawab bahwa dia ‘Pernah ke Jakarta,’ dan barang bawaan yang ada di dalam Butahnya (tas anyaman dipakai seperti ransel, Red) ‘Bakal dijual ke pasar,’.

Tak enak rasanya menghentikan perjalanan Indung Sambi lebih lama. Terlebih, ketika ditawarkan untuk duduk bersantai, dia lebih memilih tetap berdiri. Tak memakan waktu lama, kami pun berpamitan.

Penasaran dengan kisah Indung Sambi, Sabtu (9/11) sore, seusai melakukan peliputan di Desa Patikalain, sebelum kembali ke Barabai, penulis menanyakan perihal Indung Sambi kepada Ruay (89), mantan Kepala Desa setempat. Sebagai orang yang juga dituakan di Desa Patikalain, maka dia pasti punya informasi tentang Indung Sambi.

Dari keterangan Ruay, Indung Sambi, hanyalah nama panggilan. Indung berarti Ibu dan Sambi diambil dari nama anaknya yang sudah meninggal. Nama panggilan itu sudah terlanjur melekat.

“Nama aslinya, Rapaku. Dia pernah menjadi salah satu peserta yang diboyong ke Jakarta, ketika kami ditunjuk mewakili Kabupaten HST, untuk memperkenalkan adat dan budaya Dayak Meratus di sana,” ungkapnya.

Ada pun yang membuat sosok Indung Sambi tersohor, yakni pada usianya yang dipercaya sudah lebih seabad, kemampuannya dalam hal naik dan turun gunung tak jua memudar. Kemudian, Indung Sambi juga dipercaya menguasai ilmu tinggi, bahkan hingga mengenal nama-nama angin. Konon, angin pula yang membantu memudahkan setiap perjalanan Indung Sambi.

“Jadi, jangan heran apabila penduduk tidak khawatir ketika melihat dia bepergian hingga di usianya yang sekarang. Masih kuat naik turun gunung sembari mencari akar dedaunan, buah hingga tumbuhan obat-obatan untuk dijual ke pasar,” tuntasnya. (war/bin/ema)


BACA JUGA

Kamis, 05 Desember 2019 09:57

Putra Banua Jadi Peneliti Teknologi Nano di Jepang, Curi Perhatian Kampus, Diangkat Jadi Asisten Profesor

Diam-diam, Banua punya putra berprestasi di bidang ilmu fisika. Dia…

Rabu, 04 Desember 2019 11:29

Nasib Perajin Purun: Diorder untuk Acara Nasional, Purunnya Sudah Jadi Tapi Belum Dibayar, Pemesannya Malah Menghilang

Nasib sial diterima salah satu perajin purun di Kelurahan Palam,…

Selasa, 03 Desember 2019 11:40

Kokedama, Usaha Baru Jenis Florikultura di Kalsel: Belajar dari Youtube, Laku Dijual Melalui Online

Kokedema memang belum booming. Padahal seni bercocok tanam tanpa pot…

Senin, 02 Desember 2019 12:41

Bertemu Nasruddin, Lelaki yang Diisukan Menyebarkan Ajaran Sesat di HST

Nasruddin mengaku dua kali didatangi aparat keamanan. Permintaananya sama: meminta…

Senin, 02 Desember 2019 12:35

Wawancara dengan Nasruddin, "Sang Nabi" dari Kakahan

Radar Banjarmasin dua kali mewawancarai Nasruddin. Pertemuan pertama pada 20…

Jumat, 29 November 2019 11:08

Gagal Masuk Akpol, Rebut Emas SEA Games

Dibalik jabatannya sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan…

Jumat, 29 November 2019 09:56

Dinas Kehutanan Buka Harapan untuk Pengungsi Bisa Membangun Rumah

Pemprov Kalsel berencana membagikan ratusan kubik kayu dan papan kepada…

Kamis, 28 November 2019 11:45

Dari Korban Sebuku: Rumah Boleh Lapuk, Kenangannya Tidak

Wajah nelayan tua itu tegas. Guratannya dalam. Hampir tidak terlihat…

Rabu, 27 November 2019 08:05

Cerita-Cerita yang Tersisa dari Kebakaran Sebuku (2)

Haji Nanang, pedagang terbesar itu merugi miliaran rupiah. Toko dan…

Selasa, 26 November 2019 07:01

Siang Mengajar, Malam Ngojek

Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tapi apakah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.