MANAGED BY:
RABU
29 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 16 November 2019 11:26
Sisi Lain Desa Patikalain: Indung Sambi, Sang Legenda Hidup
LEGENDA HIDUP: Indung Sambi, tersenyum manis ditemui penulis, sesaat hendak melakukan liputan ke Desa Patikalain.

PROKAL.CO, PENDUDUK Desa Patikalain, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pasti mengenal Indung Sambi. Selain umurnya diyakini lebih dari seabad, perempuan dayak yang satu ini juga dianggap sakti.

-----------------

Di pagi Jumat (8/11) yang dingin. Penulis memacu motor dari Barabai yang menjadi pusat Kabupaten HST, menuju Desa Patikalaian. Selain ingin menulis harmoni penduduk dengan ragam keyakinan di desa tersebut, juga ingin bertemu dengan Indung Sambi. Mendengarkan cerita tentangnya, kemudian membagikannya kepada para pembaca.

Sebelumnya, penulis mengetahui informasi tentang Indung Sambi, dari salah satu mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Patikalain. Rizky Ade Putera. Pemuda jangkung, itu menuturkan bahwa Indung Sambi bak legenda hidup di mata penduduk Desa Patikalain.

Indung Sambi, sendiri diketahui tinggal di Dusun Pantai Uang, Kecamatan Hantakan. Sebuah dusun yang terletak sekitar lebih dari 1 jam perjalanan dari Desa Patikalain. Meski tempat tinggalnya telah diketahui, namun mencarinya tak mudah. Indung Sambi, kerap tak berada di kediamannya. Dia gemar menjelajah.

“Umurnya dipercaya lebih seratus tahun. Sudah tua banget, tapi masih kuat naik turun gunung,” ucap Rizky, ketika menemani penulis saat menuju Desa Patikalain.

Mendekati Desa Patikalain, tepat di persimpangan jalan menuju Dusun Ramang, Rizky, tiba-tiba memarkirkan motornya di pinggir tebing. Dia tampak mengobrol dengan sesosok perempuan tua yang berjalan pelan tanpa alas kaki, sembari memegang tongkat. Sementara di punggung perempuan berkebaya putih dengan lilitan kain di lehernya, itu memanggul Butah (tas punggung yang terbuat dari anyaman rotan). Ya, dia Indung Sambi.

Tanpa pikir panjang, seusai ikut memarkirkan motor, penulis bergegas mengeluarkan kamera. Sebelum memotret, mata perempuan yang seluruh warna rambutnya tampak memudar, itu tertuju ke penulis. Mata kami bertemu. Dia tersenyum, menyejukkan.

“Jangan difoto, belum memakai bedak,” ucap Indung Sambi malu-malu. Tak lama kemudian, dia tergelak. Setelah gelak tawanya berhenti, dia memainkan tongkat panjangnya, mengais-ngais dedaunan di tanah. Sementara kepalanya, mendongak ke atas.

Saya mencoba merayu untuk dapat memotretnya. Tapi, Indung Sambi, masih asyik mengais-ngais dedaunan dengan tongkatnya. Dia seperti tak mendengarkan pembicaraan kami. Dan benar. Perlu usaha keras. Meski kakinya masih kuat melangkah, ternyata pendengarannya sudah mulai berkurang. Pantas, rayuan saya sebelumnya tak mempan.

Setelah akhirnya Indung Sambi bersedia difoto. Saya mencoba mengais kisah tentang dirinya. Lagi-lagi, saya harus berbicara dengan suara keras. Kali ini, usaha yang saya lakukan sia-sia. Dari sederet pertanyaan yang saya lontarkan, termasuk menawarkan tumpangan, dia hanya menjawab bahwa dia ‘Pernah ke Jakarta,’ dan barang bawaan yang ada di dalam Butahnya (tas anyaman dipakai seperti ransel, Red) ‘Bakal dijual ke pasar,’.

Tak enak rasanya menghentikan perjalanan Indung Sambi lebih lama. Terlebih, ketika ditawarkan untuk duduk bersantai, dia lebih memilih tetap berdiri. Tak memakan waktu lama, kami pun berpamitan.

Penasaran dengan kisah Indung Sambi, Sabtu (9/11) sore, seusai melakukan peliputan di Desa Patikalain, sebelum kembali ke Barabai, penulis menanyakan perihal Indung Sambi kepada Ruay (89), mantan Kepala Desa setempat. Sebagai orang yang juga dituakan di Desa Patikalain, maka dia pasti punya informasi tentang Indung Sambi.

Dari keterangan Ruay, Indung Sambi, hanyalah nama panggilan. Indung berarti Ibu dan Sambi diambil dari nama anaknya yang sudah meninggal. Nama panggilan itu sudah terlanjur melekat.

“Nama aslinya, Rapaku. Dia pernah menjadi salah satu peserta yang diboyong ke Jakarta, ketika kami ditunjuk mewakili Kabupaten HST, untuk memperkenalkan adat dan budaya Dayak Meratus di sana,” ungkapnya.

Ada pun yang membuat sosok Indung Sambi tersohor, yakni pada usianya yang dipercaya sudah lebih seabad, kemampuannya dalam hal naik dan turun gunung tak jua memudar. Kemudian, Indung Sambi juga dipercaya menguasai ilmu tinggi, bahkan hingga mengenal nama-nama angin. Konon, angin pula yang membantu memudahkan setiap perjalanan Indung Sambi.

“Jadi, jangan heran apabila penduduk tidak khawatir ketika melihat dia bepergian hingga di usianya yang sekarang. Masih kuat naik turun gunung sembari mencari akar dedaunan, buah hingga tumbuhan obat-obatan untuk dijual ke pasar,” tuntasnya. (war/bin/ema)

loading...

BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 08:24

Tenun Pagatan di Desa Manurung Kusan Hilir, Dipesan Orang Luar Negeri, Biaya Kirim Sampai Rp4 Juta

Selain penghasil ikan, Kecamatan Kusan Hilir juga dikenal sebagai daerah…

Minggu, 26 Januari 2020 07:56

Hari Jadi Polwan ke-71: Rumah Nenek Tukang Pijat Dibedah

Polwan Polda Kalsel merenovasi rumah warga miskin di perbatasan Banjarmasin…

Jumat, 24 Januari 2020 11:39

Kisah Bahrani, Guru Honor yang Cari Tambahan Uang Dengan Menjadi Perukiah

Penghasilan menjadi seorang guru honorer nampaknya masih kurang bagi Bahrani.…

Kamis, 23 Januari 2020 10:26

Prahara Penanganan Fenomena Remaja Ngelem di Kota Idaman

Bukan tergolong narkoba. Tapi efeknya sangat berbahaya. Lem bak primadona.…

Kamis, 23 Januari 2020 09:31

Mengenal Lebih Dekat Organisasi Bikers Brotherhood 1% MC Chapter Banjarbaru

Klub, komunitas atau organisasi penggeber roda dua di Banua terus…

Senin, 20 Januari 2020 07:56

Kopdar Bareng Komunitas Youtuber Borneo: Jadi Wadah Belajar dan Bermain

Berangkat dari siring Patung Bekantan, kemarin (19/1) pagi, sebanyak 40…

Jumat, 17 Januari 2020 11:48

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Kalau super car Lamborghini melesat di jalan tol, mungkin sudah…

Jumat, 17 Januari 2020 11:41

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pemerintah mulai kewalahan dengan ulah para peretas. Mereka menyerang situs-situs…

Kamis, 16 Januari 2020 10:05

Upaya Pengendalian Banjir di Cempaka: Warga Masih Tak Rela Penataan Menghapus Kenangan

Hujan memang kerap dijadikan alasan. Namun terlepas dari faktor alam.…

Kamis, 16 Januari 2020 09:57

SDN 4 Haruyan Dayak, Sekolah dengan Medan Terjal di Hunjur Meratus

Harapan masyarakat Desa Haruyan Dayak, akhirnya terwujud. Fasilitas pendidikan bertambah.…

Siapkan Mahasiswa Magang Tiga Semester, ULM Dukung Program Menteri Nadiem Makarim

Wabup Husairi Abdi: Temari Kasih Pak Yahya Selamat Datang Pak Dwi

5 Siswa SMK Pertanian Banjarbaru Magang di BPP Tapin Selatan

2 Siswa ATP SMK Pertanian Magang di PT. Candi Artha Tanah Laut

7 Siswa Agribisnis SMK Pertanian Banjarbaru Magang di Kelompok Tani Guntung Payung

SMK Gelar Pelatihan Optimalisasi Alsintan Berlanjut ke Kertak Hanyar

SMK Pertanian Banjarbaru Gelar Pelatihan Optimalisasi Alsintan di Bati-bati

Geliat Pasar Subuh Amuntai, Jago Nawar Bisa Bawa Pulang Berbagai Anyaman

Ingin Punya Anak Tapi Tak Ada Biaya, Pakar Bayi Tabung ini Beri Solusi Paling Mudah

IDI Kalsel: Corona Sudah Diidentifikasi Sejak 1960
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers