MANAGED BY:
SABTU
07 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 16 November 2019 11:33
Menganut Agama Balian, Kepala Adat Patikalain: Tak Apa-apa Keluarga Pilih Agama Berbeda, Asal Diterapkan Sebaik-baiknya
SALING MENGHORMATI: Jumat, Kepala Adat di Desa Patikalain tetap dengan keyakinan Balian bersama adiknya Uun yang telah memeluk agama Islam.

PROKAL.CO, MALAM mulai merayap di Desa Patikalaian, Jumat (8/11) pekan lalu, suasana masih tampak ramai, meski dengan penerangan seadanya, dari panel bertenaga surya bantuan dari pemerintah. Para bocah, muda-mudi hingga orang tua, duduk bersantai, berbincang-bincang di depan rumah mereka. Sesekali, terdengar gelak tawa.

Setelah seharian berkubang di hutan dan kebun, malam jadi waktu favorit penduduk setempat berkumpul bersama keluarga atau mengistirahatkan badan. Angin malam yang berembus, sayup-sayup mengantarkan hawa dingin yang menyejukkan. Semakin menambah syahdunya pemandangan malam, itu.

Radar Banjarmasin mengunjungi Kepala Adat Patikalain, Jumat (58). Ya, namanya sama dengan hari paling indah bagi Umat Muslim, yakni hari Jumat. Malam itu, dia tampil mengenakan celana panjang berwarna hitam dan bertelanjang dada. Duduk santai menyandarkan bahu ke dinding, menyelonjorkan kaki di teras, sembari mengisap tembakau.

Jumat ditemani tuan rumah, adik perempuannya. Hani (35), berikut keluarga kecilnya. Jumat dan Hani, penganut Agama Balian atau Animisme yang kuat dan taat. Meski begitu, bukan berarti keduanya melarang bila ada penduduk bahkan anggota keluarganya yang memutuskan untuk berpindah keyakinan. Sebagai saudara tertua sekaligus Kepala Adat setempat, Jumat hanya berpesan, apabila ikut agama yang diyakini, maka ikutilah betul-betul. Pelajari segala rukunnya, terapkan sebaik-baiknya.

“Anak saya yang bungsu, Karim dan adik saya yang keenam yakni Uun, mereka muslim,” ungkap Jumat.

Mendengar penuturan Jumat, wartawan koran ini sempat kaget. Maklum, dari berbagai kisah yang dahulu sempat didengar, tak mudah bagi seorang keluarga dari Kepala Adat, dapat berpindah keyakinan.

Kekagetan itu rupanya sempat menjadi perhatian Hani. Seulas senyum mengambang di wajahnya seraya menatap ke arah Jumat, memohon penjelasan. Dengan sikap santai namun serius, Jumat mengatakan, dirinya percaya, semua agama pasti baik. Kalau pun berbeda, hanya terletak pada cara penerapannya. Tapi tujuan dan harapan manusia, pasti selalu mengarah ke kebaikan.

Jumat melanjutkan, selama dipercaya menjabat sebagai Kepala Adat, dia mengaku tak pernah sekali pun menemui konflik di Desa Patikalain. Menurutnya, karena ada beberapa hal yang masih dipegang erat oleh masing-masing penduduk.

“Di sini, kami disatukan melalui jalinan kuat. Yakni, sikap saling menghargai, sikap saling percaya, saling membantu, dan rasa kekeluargaan. Itulah yang membuat kami bisa rukun dan damai,” ungkapnya.

Hal itu, dibuktikan Jumat. Pada suatu ketika, dia pernah ditanya seseorang, mengapa membiarkan penduduk yang ingin berpindah keyakinan, bahkan mengizinkan orang-orang membangun sebuah tempat ibadah di desa yang menjadi tempat tinggalnya.

“Waktu itu, saya sampaikan saja bahwa saya atau siapapun tidak bisa menjamin kebahagiaan semua orang. Semua bebas dengan pilihan masing-masing. Saya percaya dengan apa yang menjadi pilihan para penduduk,” ucapnya.

Lantas, bagaimana menjaga kerukunan di desa itu, sehingga bisa langgeng seperti sekarang? Jumat menambahkan, menjaga kerukunan tak bisa dilakukan sendirian. Melainkan, harus melalui komitmen seluruh penduduk. “Semuanya harus menjaga kerukunan,” tegasnya.

Senada dengan hal itu, Hani, adik Jumat, yang sedari awal hanya memerhatikan, turut angkat bicara. Di dusun yang menjadi tempat tinggal mereka, juga menjaga diri dari sikap buruk seperti saling menghina, sombong, bahkan pertengkaran.

“Tak ada tempat di sini, bagi mereka yang suka menghina atau sombong,” ucap Hani kembali tersenyum.

Malam semakin larut, Jumat mengajak wartawan koran ini pindah ke rumahnya, terpisah satu rumah dari kediaman Hani. Di sana, penulis bertemu dengan Uun (38). Juga adik perempuan Jumat. Malam itu, Uun tampil dengan mengenakan kerudung berwarna kuning, dengan kostum panjang bermotif bunga. Olesan lipstik berwarna merah tampak menghiasi bibirnya.

Uun baru menjadi mualaf sejak sebulan yang lalu. Seperti apa yang dituturkan Jumat sebelumnya, saling menghargai, saling percaya, saling membantu dan menjunjung tinggi rasa kekeluargaan adalah sikap penduduk Desa Patikalain. Membuat Uun tak khawatir dirinya mendapat cemoohan atau hinaan dari penduduk setempat.

“Sudah turun temurun kami menerapkan prinsip itu. Kami percaya, sikap yang kami terapkan dalam kehidupan bermasyarakat tak hanya membuat kami bahagia, tapi juga mendatangkan rezeki yang melimpah,” ucapnya.

Harmoni kehidupan antarumat beragama juga dirasakan warga Dusun Ramang, sekitar 3 km dari Patikalain. Jalanan di dusun ini mulus berpaving, namun soal penerangan, masih dengan tetangganya, mengandalkan listrik dari panel bertenaga surya

Penghulu sekaligus Kepala Adat Dusun Ramang, Karani (54) saat ditemui Sabtu (9/11) siang menyebut, mayoritas warganya menganut Agama Hindu. Namun tradisi dan agama leluhur mereka tetap lestari. Sehingga pelaksanaan Aruh (upacara atau pesta) Adat di Balai Ramang tetap rutin digelar. Saat itu, mereka pun sering kedatangan penduduk atau tamu yang berbeda keyakinan. Bahkan, tak jarang pula mereka turut membantu persiapan acara. “Di sini, kami tetap nyaman, damai, dan bisa hidup rukun berdampingan,” tuntasnya.

Terakhir, sebelum kembali ke Barabai, Radar Banjarmasin mampir di sebuah warung, secangkir kopi hitam dan semangkuk mi rebus, menemani hangatnya perbincangan dengan pemilik warung, Mama Nova (41). Perempuan murah senyum, ini menganut Agama Kristen.

Menurutnya, kerukunan di Desa Patikalaian tak hanya sekadar ucapan. Melainkan juga dibuktikan dengan perbuatan. Ia pun menunjuk sebuah bangunan belum jadi di dekat rumahnya. Ternyata itu adalah sebuah gereja, tempat ibadah umat Kristiani. Proses pembangunannya sudah berjalan selama tiga bulan.

“Ini merupakan bukti bahwa meskipun berbeda keyakinan, kami tetap menjunjung tinggi rasa kekeluargaan serta sikap saling menghargai,” ucapnya, kemudian tersenyum. (war/bin/ema)


BACA JUGA

Rabu, 04 Desember 2019 11:29

Nasib Perajin Purun: Diorder untuk Acara Nasional, Purunnya Sudah Jadi Tapi Belum Dibayar, Pemesannya Malah Menghilang

Nasib sial diterima salah satu perajin purun di Kelurahan Palam,…

Selasa, 03 Desember 2019 11:40

Kokedama, Usaha Baru Jenis Florikultura di Kalsel: Belajar dari Youtube, Laku Dijual Melalui Online

Kokedema memang belum booming. Padahal seni bercocok tanam tanpa pot…

Senin, 02 Desember 2019 12:41

Bertemu Nasruddin, Lelaki yang Diisukan Menyebarkan Ajaran Sesat di HST

Nasruddin mengaku dua kali didatangi aparat keamanan. Permintaananya sama: meminta…

Senin, 02 Desember 2019 12:35

Wawancara dengan Nasruddin, "Sang Nabi" dari Kakahan

Radar Banjarmasin dua kali mewawancarai Nasruddin. Pertemuan pertama pada 20…

Jumat, 29 November 2019 11:08

Gagal Masuk Akpol, Rebut Emas SEA Games

Dibalik jabatannya sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan…

Jumat, 29 November 2019 09:56

Dinas Kehutanan Buka Harapan untuk Pengungsi Bisa Membangun Rumah

Pemprov Kalsel berencana membagikan ratusan kubik kayu dan papan kepada…

Kamis, 28 November 2019 11:45

Dari Korban Sebuku: Rumah Boleh Lapuk, Kenangannya Tidak

Wajah nelayan tua itu tegas. Guratannya dalam. Hampir tidak terlihat…

Rabu, 27 November 2019 08:05

Cerita-Cerita yang Tersisa dari Kebakaran Sebuku (2)

Haji Nanang, pedagang terbesar itu merugi miliaran rupiah. Toko dan…

Selasa, 26 November 2019 07:01

Siang Mengajar, Malam Ngojek

Tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tapi apakah…

Selasa, 26 November 2019 06:59

Warga Heran Pondok Kayu Acil Diang Selamat dari Kobaran Sebuku

Musibah biasanya selalu membawa pesan. Seperti di Sebuku. Kebakaran menyisakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.