MANAGED BY:
SENIN
09 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 16 November 2019 11:37
Merajut Harmoni di Hunjur Meratus: Balian Tetap Lestari, Agama Lain pun Berkembang
BERMAIN: Anak-anak Desa Patikalain, berlari membawa cangkirik. Sejenis baling-baling yang dibuat dari bambu dan bisa mengeluarkan bunyi mendengung bila berputar. Potret harmonisnya kehidupan warga di hunjuran Pegunungan Meratus, meskipun kini mereka memiliki keyakinan agama berbeda-beda.

PROKAL.CO, Jauh dari hiruk pikuk dan keramaian kota, penduduk Desa Patikalain merajut kedamaian dalam hidup yang penuh kesederhanaan. Di sana, kita bisa belajar bahwa perbedaan sejatinya adalah anugerah yang bisa merekatkan, tanpa membedakan keyakinan. 

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

Terletak di kawasan Pegunungan Meratus, Desa Patikalaian, secara administratif berada di Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Dari Barabai, ibukota kabupaten, perjalanan menuju desa itu sekitar 31 km. Sekitar satu jam melewati jalan meliuk-meliuk. Menanjak dan menurun. Meski sudah diaspal, di beberapa titiknya sudah tampak terkelupas.

Di kiri dan kanan jalan, panorama alam membentang. Ada rimbunan pepohonan khas hutan belantara, perkebunan karet hingga deretan perbukitan. Sesuai dengan profesi kebanyakan warganya, petani dan pekebun. Bila di hari libur sekolah atau waktu luang, anak-anak juga tak jarang tampak ikut serta ke kebun.

Tak nampak adanya deretan tiang apalagi kabel listrik yang menerangi pedesaan pada umumnya. Demikian halnya sinyal seluler, hanya ada di beberapa titik. Itu pun kembang kempis.

Dengan penduduk 573 jiwa, Desa Patikalain dihuni oleh Suku Dayak Meratus. Mayoritas, masih memeluk agama Balian atau Animisme, yakni kepercayaan kepada roh yang mendiami semua benda-benda yang diagungkan, seperti pohon, batu, sungai atau gunung. Itu fakta di lapangan. Namun dalam catatan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil HST, mayoritas warga Patikalain beragama Hindu, 388 jiwa, disusul Islam 86 jiwa, Kepercayaan 84 jiwa dan Kristen 15 jiwa.

Perbedaan ini ternyata karena baru-baru ini saja agama kepercayaan bisa masuk di dalam KTP. Sebelumnya tidak bisa, sehingga banyak warga Balian dalam data KTP mereka, memilih beragama Hindu.

“Meski sekarang sudah bisa ditulis kepercayaan, tapi tak serta merta dimengerti warga. Jadi ketika seharusnya di KTP ditulis kepercayaan, mereka masih memilih menjadi Hindu atau agama lain apabila didata. Sementara ketika ditanya, mereka sebenarnya menganut agama kepercayaan,” ucap Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten HST melalui sekretarisnya, Norman Effendi, kepada Radar Banjarmasin, kemarin (15/11).

Terlepas dari masalah ini, sebenarnya ada yang lebih menarik dari kehidupan warga Desa Patikalain, yakni harmoni antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Seperti disaksikan Radar Banjarmasin Jumat (8/11) siang, pekan lalu. Desa Patikalain tampak ramai. Seusai melaksanakan salat Jumat, penduduk merubung kediaman mantan Kepala Desa Patikalain, Ruay (89). Ada anak-anak, pemuda, hingga orang tua.

“Yang sudah dapat, silakan dinikmati. Makannya pelan-pelan saja, jangan terburu-buru, nanti keselek,” ucap Rizky Ade Putera. Pemuda jangkung berkulit cokelat, itu satu dari tujuh Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, yang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Patikalain selama dua bulan.

Penduduk yang hadir, duduk dengan rapi. Anak-anak tampak sumringah, melihat nasi bungkus serta buah apel yang dibagikan kini tersedia di hadapan mereka. Sebagai pengunjung desa itu, penulis juga diajak ikut bergabung. Tak berapa lama, kami menyantap hidangan dengan lahap. Siang itu, rasanya menjadi siang yang mengasyikkan.

Potret kerukunan itu sudah bisa dilihat dari persiapan acara makan bersama di kediaman Ruay, yang rutin digelar seusai salat Jumat. Para penduduk, tak peduli apapun keyakinannya, bahu-membahu menyiapkan acara. Ada yang membantu membagikan air minum, membagikan buah-buahan, hingga menyiapkan tempat. Hal yang sama kembali terlihat seusai acara. Penduduk tak serta merta meninggalkan kediaman Ruay seusai makan bersama, tapi membantu membereskan sisa-sisa acara.

“Kami sudah terbiasa melakukan hal ini. Kebersamaan dijunjung tinggi sejak lama di sini,” ungkap Ruay, ketika ditemui penulis di teras rumahnya seusai acara.

Sejak tahun 1980 hingga 2006 silam, Ruay dipercaya menjadi Kepala Desa Patikalain. Hingga kini, dia menjadi tokoh atau orang yang dituakan oleh penduduk setempat. Penunjukannya sebagai Kepala Desa atau Pembakal, tak terlepas dari campur tangan Pan Untang Rabadil, yang merupakan tokoh paling disegani. Pan Untang, tinggal di Dusun Papagaran. Naik ke atas bukit, berjarak sekira 4 km dari Desa Patikalain.

Seingat Ruay, dahulu penduduk Desa Patikalain sejak zaman dahulu menganut Balian atau Animisme. Di masa awal jabatannya, pada tahun 1980-an, desa tersebut masih berbentuk hutan belantara. Para penduduknya tinggal di satu tempat. Yakni Balai Adat (tempat yang kini biasa dijadikan Suku Dayak menggelar upacara adat).

“Kalau pun ada jalan, seingat saya hanya jalan setapak kemudian ada banyak sungai,” tuturnya.

Kondisi Desa Patikalain berangsur-angsur berubah ketika di tahun 1986. Penduduk Patikalain mulai berbenah. Mulai dari membuka akses jalan, hingga akhirnya pemerintah memberikan bantuan pembangunan perumahan. Tujuannya, agar penduduk yang semula tinggal di Balai Adat atau yang masih terpencar-pencar berkumpul di satu tempat.

“Di tahun 1995, saat akses jalan kian membaik, modernisasi pun mulai merambah desa. Saya ingat, waktu itu sudah ada kendaraan engkal (sebutan populer motor L2 Super Yamaha zaman itu, Red),” kenangnya.

Lantas, sejak kapan keyakinan lain masuk ke Desa Patikalain? Ruay mengungkapkan, seiring dengan berangsur-angsurnya perubahan di Desa Patikalain, di situlah keyakinan lain juga berkembang. Termasuk Agama Islam.

“Kalau saya tidak keliru, tahun 1980-an keyakinan lain mulai masuk ke sini,” ungkapnya.

Ruay, sendiri menjadi mualaf, sejak setahun yang lalu. Selepas salah satu anggota keluarganya yang lebih dulu memeluk agama Islam, wafat. Dia mengaku terharu ketika melihat proses pemakaman berlangsung.

Sementara itu, berkembang serta masuknya ragam keyakinan khususnya Agama Islam di Desa Patikalain, menurut Ketua Majelis Tablig Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten HST sekaligus Ketua Mualaf Center Indonesia cabang HST, Zainuddin (59), diyakininya tak terlepas dari campur tangan para tokoh di desa setempat.

“Sebagai contoh, ketika Agama Islam masuk ke Dusun Papagaran. Penyebarannya hanya sebatas keluarga. Tidak pada masyarakat secara umum. Kalau tidak salah, nama tokoh yang menyebarkan adalah Abdul Latif,” tuturnya, ketika ditemui penulis pada Minggu (10/11) pekan lalu.

Hal itu didukung dengan data yang sebelumnya diperoleh oleh penulis, pasca berkunjung ke Dusun Papagaran, Jumat (8/11) sore. Dusun ini berjarak 4 km dari Desa Patikalain. Akses jalan, sudah beraspal sepanjang 1 km. Sisanya, masih beralaskan bebatuan.

Di sana, penulis bertemu dengan Harni (60) dan Andi (36). Keduanya, adalah anak kandung Abdul Latif. Sebelum memeluk Agama Islam, baik Andi maupun Harni juga merupakan penganut Animisme.

Dari penuturan Harni, diketahui bahwa sang ayah yakni Abdul Latif, adalah seorang tokoh Animisme di Dusun Papagaran yang kemudian memilih Agama Islam sebagai keyakinannya. Pilihan itu sendiri diambil setelah bertemu dengan seorang guru agama di Barabai.

“Beliau senang bepergian. Menjelajah ke berbagai daerah hingga akhirnya memiliki banyak teman. Di situlah ayah bertemu dengan seorang agama. Saya lupa siapa namanya” ungkap lelaki yang menjadi mualaf pada tahun 1989, itu.

Senada dengan hal tersebut, Andi yang merupakan adik dari Harni, menambahkan bahwa pada saat ayahnya bertemu dengan seorang guru agama, terbesit keinginan agar kelak anak-anaknya dapat bersekolah. Dengan harapan, anak-anaknya memiliki ilmu pengetahuan seperti orang-orang yang pernah ditemui sang ayah.

“Ayah yakin dengan ilmu pengetahuan, maka akan berdampak baik terhadap apa saja. Ketika ayah bertanya ke seorang guru agama tadi, terkait agama apa yang cocok dengannya, maka disarankan lah Agama Islam,” jelasnya.

Di samping itu, kembali menurut penuturan Zainuddin, masuknya Agama Islam, juga tak terlepas dari perhatian para organisasi keislaman. Hal itu dibuktikan pada tahun 1994, organisasi keislaman sempat mendatangkan pendakwah asal Aceh. Namanya, Daud. Di samping itu, seiring berjalannya waktu, campur tangan pelajar juga menjadi salah satu menyebarnya Agama Islam di sana.

“Saat itu, siswa yang belajar di Barabai atau di Batu Benawa juga ikut andil,” ungkapnya.

Di Desa Patikalain dan Dusun Papagaran, saat ini telah berdiri dua buah masjid. Masjid di Desa Patikalain bernama Masjid Ar Rahim, mulanya hanya sebuah musala. Letaknya berseberangan dengan kediaman Ruay. Dibangun oleh seniman yang juga budayawan Kalsel, Husni Thambrin bersama para donatur. Hingga akhirnya ditahbiskan menjadi masjid beberapa tahun lalu.

Kemudian di Dusun Papagaran, ada Masjid Nurul Jannah. Letaknya berdampingan dengan kediaman Andi. Dibangun juga melalui sumbangan donatur serta organisasi keislaman.

“Mengingat penganut Agama Islam mulai berkembang di Desa Patikalain, penduduk lantas meminta agar dibuatkan masjid. Hingga kini, seperti yang anda lihat, masjid-masjid terus digunakan,” tambah Zainuddin.

Benar saja. Sewaktu penulis tiba di Desa Patikalaian sebelum salat Jumat, penduduk setempat yang memeluk Agama Islam, pergi ke masjid. Dari anak-anak hingga orang tua. Yang bertugas menjadi khatib dan imam salat Jumat, adalah Mahasiswa KKN dari UIN Antasari Banjarmasin. Rizky Ade Putera dan Husnul Yakin.

Kepada penulis, Husnul Yakin, membeberkan pengalamannya ketika sebulan yang lalu sampai di Desa Patikalaian. Dia mengaku seperti menangis namun tanpa air mata. Bagaimana tidak, jangankan jaringan telepon, hingga kini aliran listrik juga belum ada. Namun, semua perasaan itu sirna ketika merasakan langsung perlakuan penduduk. Dia terharu.

“Pendatang dilayani dengan sangat baik. Saling menghargai, meskipun berbeda keyakinan. Memang, sifat saling menghargai antar umat beragama seharusnya diterapkan tanpa harus pikir panjang. Karena hidup rukun mendatangkan kebahagiaan,” tandasnya.

Terpisah, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten HST, H Saipudin pun mengapresiasi kerukunan umat beragama di Desa Patikalain. Dia juga menerangkan bahwa kerukunan umat beragama di Kabupaten HST pada dasarnya sudah berakar sejak zaman dahulu (leluhur).

Namun, di samping sikap saling menghormati, menghargai, tolong-menolong, serta kekeluargaan yang dijunjung tinggi, dia menilai bahwa yang membuat kerukunan tetap terjaga juga adalah sikap masyarakatnya yang terbiasa hidup bersosial.

“Hal itu bisa dilihat apabila kita menjejakkan kaki ke desa-desa. Tak peduli apapun keyakinan yang dianut, penduduk bakal saling membantu apabila ada warganya yang memerlukan bantuan, atau pada saat penduduknya menggelar hajatan,” tambahnya. (war/bin/ema)


BACA JUGA

Minggu, 08 Desember 2019 16:21

Mahir Pijat, Belum Tentu Bisa Pijat Refleksi, Tuna Netra Diberi Pelatihan Pijat Refleksi

Soal jasa pijat, para tuna netra memiliki kelebihan tersendiri. Namun…

Kamis, 05 Desember 2019 09:57

Putra Banua Jadi Peneliti Teknologi Nano di Jepang, Curi Perhatian Kampus, Diangkat Jadi Asisten Profesor

Diam-diam, Banua punya putra berprestasi di bidang ilmu fisika. Dia…

Rabu, 04 Desember 2019 11:29

Nasib Perajin Purun: Diorder untuk Acara Nasional, Purunnya Sudah Jadi Tapi Belum Dibayar, Pemesannya Malah Menghilang

Nasib sial diterima salah satu perajin purun di Kelurahan Palam,…

Selasa, 03 Desember 2019 11:40

Kokedama, Usaha Baru Jenis Florikultura di Kalsel: Belajar dari Youtube, Laku Dijual Melalui Online

Kokedema memang belum booming. Padahal seni bercocok tanam tanpa pot…

Senin, 02 Desember 2019 12:41

Bertemu Nasruddin, Lelaki yang Diisukan Menyebarkan Ajaran Sesat di HST

Nasruddin mengaku dua kali didatangi aparat keamanan. Permintaananya sama: meminta…

Senin, 02 Desember 2019 12:35

Wawancara dengan Nasruddin, "Sang Nabi" dari Kakahan

Radar Banjarmasin dua kali mewawancarai Nasruddin. Pertemuan pertama pada 20…

Jumat, 29 November 2019 11:08

Gagal Masuk Akpol, Rebut Emas SEA Games

Dibalik jabatannya sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan…

Jumat, 29 November 2019 09:56

Dinas Kehutanan Buka Harapan untuk Pengungsi Bisa Membangun Rumah

Pemprov Kalsel berencana membagikan ratusan kubik kayu dan papan kepada…

Kamis, 28 November 2019 11:45

Dari Korban Sebuku: Rumah Boleh Lapuk, Kenangannya Tidak

Wajah nelayan tua itu tegas. Guratannya dalam. Hampir tidak terlihat…

Rabu, 27 November 2019 08:05

Cerita-Cerita yang Tersisa dari Kebakaran Sebuku (2)

Haji Nanang, pedagang terbesar itu merugi miliaran rupiah. Toko dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.