MANAGED BY:
MINGGU
08 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Rabu, 20 November 2019 13:03
8000 Liter Habis Dalam 3 Jam, Stok Solar di SPBU Masih Kurang
ANTRE: Sejumlah truk mengantre di SPBU Trikora untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, kemarin. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARBARU - Dalam beberapa hari terakhir, antrean panjang truk yang ingin mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar kembali mewarnai sejumlah SPBU di beberapa daerah.

Pantauan Radar Banjarmasin di SPBU Trikora Banjarbaru, kemarin Puluhan truk berbaris dari dalam SPBU hingga keluar ke Jalan Trikora untuk mengantre mengisi solar. Kondisi itu pun cukup mengganggu lalu lintas di Jalan Trikora.

Pengawas SPBU Trikora Syafullah mengatakan, antrean panjang truk memang seringkali terjadi di sana. Lantaran, stok solar di beberapa SPBU masih kurang. "Di sini saja cuma dapat jatah 8 ribu liter sehari. Tiga jam saja sudah langsung habis," katanya.

Dia mengungkapkan, jatah solar setiap SPBU sudah ditentukan Pertamina. Sehingga, pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. "Tiga bulan yang lalu kuota solar dikurangi. Awalnya 10 ribu liter per hari, menjadi 8 ribu," ungkapnya.

Selain stok yang masih kurang, menurutnya banyaknya truk yang mengantre juga dipengaruhi oleh tutupnya sejumlah SPBU AKR di Kalsel. "Banyak AKR yang tutup, jadi truk tidak punya pilihan lain selain ke SPBU yang bekerja sama dengan Pertamina," ujarnya.

Hal senada disampaikan Andre, salah seorang sopir truk yang ikut mengantre solar di SPBU Trikora ini meyampaikan bahwa kurangnya ketersediaan solar yang membuat mereka harus mengantre. "Coba kalau stoknya ada di semua SPBU, pasti truk tidak hanya menumpuk di sini. Tapi bisa membeli di lain," ucapnya.

Dia mengungkapkan, permasalahan kelangkaan solar nampaknya tidak ada habisnya sejak dulu. "Dari dulu memang selalu mengantre kalau mau beli solar," ungkapnya.

Antrean panjang pengisian bahan bakar solar juga terjadi di Banjarmasin. Truk-truk mengisi area di tepi jalan di samping SPBU Benua Anyar, Banjarmasin Timur.

Salah satu sopir truk bernama Ipul mengaku antre sejak jam delapan pagi. Dia mengatakan kondisi ini sudah berlangsung lama. Pria berusia 35 tahun itu adalah sopir truk jasa angkutan ekspedisi. Meskipun tidak sampai bermalam tapi kondisi demikian cukup merepotkan. Setiap harinya dia mengangkut barang-barang dari perusahaan jasa ekspedisi.

Setiap berangkat dari Banjarmasin-Sampit Kalteng, dia membutuhkan bahan bakar sebanyak seratus lliter. Tapi karena untuk mendapatkan solar di Kalteng sulit, dia pun terpaksa harus punya persediaan. Dulu dalam seminggu bisa berangkat ke Kalteng dua kali, sekarang hanya satu kali.

"Kalau mau berangkat, saya harus antre dua kali, hari pertama solar nya untuk berangkat, hari kedua untuk sangu pulang, karena di Kalteng sulit beli solar," katanya.

Meskipun ada solar non subsidi, kata Ipul yang sudah belasan tahun menggeluti profesi sebagai sopir truk, dia tetap memilih solar bersubsidi, karena harganya yang relatif lebih murah. Biaya bahan bakar yang dikeluarkannya PP Banjarmasin-Sampit, sekitar Rp1,3 juta, belum lagi ditambah keperluan makan, minum dan rokok. Minimal bisa sampai Rp750 ribu.

"Kalau beli non subsidi bisa-bisa kita enggak bawa pulang uang ke rumah untuk anak istri," ucap lirih.

Wahyu sopir truk lainnya mengungkapkan keluhan yang sama. Dia melihat, kondisi ini dimanfaatkan oknum pelangsir. Mungkin saja pasokan dari pemerintah sudah sesuai aturan namun ada pihak-pihak yang bermain, sehingga mobil truk kesulitan mendapatkan bahan bakar.

"Yang diuntungkan hanya para pelangsir, kita yang kerja betul-betul malah susah mendapatkan solar, kalau beli non subsidi, bisa-bisa kita antar barang ke sana cuma jalan-jalan, karena uangnya habis di jalan," sindirnya.

Saat dikonfirmasi, Manager Region Communication Relation and CSR Pertamina Kalimantan, Heppy Wulansari menegaskan bahwa saat ini tidak ada pengurangan penyaluran solar ke SPBU-SPBU. "Kalau masalah antrean, selama ini 'kan memang sering terjadi. Tapi, yang terpenting stok di SPBU ada," bebernya.

Dia menyampaikan, sampai saat ini rata-rata Pertamina masih menyalurkan solar 18.546 KL setiap bulannya. Tanpa ada pengurangan kuota. "Dari data penyaluran solar tiga bulan terakhir terlihat tidak ada pengurangan. Pada bulan Agustus sebanyak 19.289 KL, September 18.811 KL dan Oktober 19.998 KL," ucapnya.

Selain tetap mempertahankan jumlah penyaluran solar, Pertamina juga terus memperketat pengawasan di SPBU. Dengan cara sidak dan monitoring penjualan, guna memastikan solar tidak dijual untuk kegiatan industri maupun tambang.

"Mengingat solar adalah BBM subsidi dan konsumennya sudah diatur di Perpres 291 tahun 2014, jadi tidak boleh lari ke industri atau pertambangan," papar Heppy.

Dia mengimbau bagi masyarakat yang melihat ada kecurangan di SPBU, semisal ada kendaraan menggunakan tangki modifikasi agar segera melapor ke aparat kepolisian. "Atau bisa menginfokan ke call center Pertamina di nomor 135," pungkasnya.

Ketua DPD Hiswana Migas Kalsel, H Syaibani melihat solar bersubsidi ini bukan langka melainkan banyak masyarakat yang lebih memilih membeli bahan bakar yang lebih murah. Padahal jika mereka membeli yang non subsidi pasti tersedia di setiap SPBU. Hanya memang harganya selisih jauh.

"Disparitas harga yang jauh sekali antara subsidi dan non subsidi, selisihnya lima ribu rupiah, sudah menjadi hukum ekonomi orang pasti lebih memilih yang lebih murah," ujarnya.

Dikatakan, pihaknya tidak mengetahui pasokan solar subsidi ke setiap SPBU. "Yang tahu antara perusahaan dan Pertamina saja, saya kurang tahu," katanya.

Syaibani mengatakan sudah menyarankan kepada Pemprov Kalsel untuk menyampaikan ke pusat mengenai persoalan tersebut. "Dalam rapat dengan Pemprov Kalsel sudah saya sampaikan, jika disparitas harga hanya sekitar seribu rupiah, masyarakat pasti mau memilih solar non subsidi," cetusnya.(gmp/ris/ran/ema)


BACA JUGA

Minggu, 08 Desember 2019 08:42

48 Pelajar Direhab, 36 Ribu Ikuti Sosialisasi BNNK

BANJARMASIN - Sepanjang tahun 2019, Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK)…

Minggu, 08 Desember 2019 08:26

Peronda Hampir Celurit Pemilik Showroom

BANJARMASIN - Empat hari sudah Akhmad Syarifudin (45) mendekam di…

Minggu, 08 Desember 2019 08:24

Sita 40 Butir Ineks Logo Hello Kitty

BANJARMASIN - Dua pengedar sabu dan ineks yang tinggal di…

Sabtu, 07 Desember 2019 12:20

Kakak Beradik Spesialis Jambret Dibekuk

BANJARBARU - Bukannya saling membimbing untuk menjalani kehidupan yang lebih…

Kamis, 05 Desember 2019 09:49

Belum Nambang, Rugi Rp1,2 M

KOTABARU - Terungkapnya kasus pencurian material perusahaan tambang batubara di…

Kamis, 05 Desember 2019 09:27

Selain Kasus Terorisme, Warga Miskin Dapat Pendampingan Hukum Gratis

BANJARMASIN – Bukana rahasia lagi jika tarif jasa bantuan atau…

Kamis, 05 Desember 2019 07:18

Razia Bongkar Muat di Djok Mentaya, Dishub Diajak Kucing-kucingan

BANJARMASIN - Para pemilik ruko pergudangan di Jalan Djok Mentaya…

Kamis, 05 Desember 2019 07:14

Biasanya Riang jadi Lebih Pendiam, ABK Tugboat Tenggelam di Sungai Barito

BANJARMASIN - Pencarian ABK (anak buah kapal) Trans Power 165,…

Rabu, 04 Desember 2019 11:17

Alfurqan, Kitab Suci Pengikut 'Nabi dari HST', Kejiwaan Nasruddin Bakal Diperiksa

BARABAI - Meski rumah kayu yang terletak di Desa Kahakan,…

Rabu, 04 Desember 2019 10:55

Andalkan CCTV, Dua Perampok Alfamart Masih Diburu, Polisi Belum Temukan Titik Terang

BANJARMASIN - Polisi belum menemukan titik terang dari kasus perampokan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.