MANAGED BY:
KAMIS
30 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 24 November 2019 02:13
Berburu Ruak, Bawa Senapan di Kegelapan Bikin Ketagihan
HASIL BURUAN: Eko dengan hasil buruannya. Berburu burung Ruak Ruak malam hari lebih mudah namun lebih seram. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Hati-hati membunyikan suara itu. Yang datang bisa hitam raksasa bersayap. Menutup bintang di langit. Tapi kami nekat berburu di malam Minggu.

-- Oleh: Zalyan Shodiqin Abdi, Kotabaru --

Pengakuan dari banyak pemburu mudah ditemukan. Suara bunyian menyerupai ruak-ruak di malam hari, kental berbau mistis.

"Dulu aku pernah. Udah dapat banyak tapi masih berburu. Datang besar hitam di langit. Bintang tertutup. Lari kami pulang," kata Randy, warga Pagatan Tanah Bumbu yang beberapa tahun silam sering berburu burung di malam hari.

"Uwak-uwak-uwak..! Krak-krak-krak..!".

Begitu suara burung ruak-ruak. Burung sayap punggung berwarna hitam. Kepala dan dada putih. Bagian pantat cokelat muda.

Dahulu, orang-orang menirukan suaranya dengan alat dari bambu. Ditiup. Konon, para pemburu yang rakus, sudah dapat banyak masih maksa berburu, akan didatangi raja burung: hitam, besar.

Banyak juga pengakuan, jika berburu kelewatan maka akan dilempari batu dari sosok tak terlihat.

Sabtu (2/10) malam tadi. Penulis bersama anak muda beranak satu, Eko Septa Hariadi, memutuskan berburu ruak-ruak. Burung sejenis ayam itu lebih enak dibedil malam hari.

Kebun sawit di Kecamatan Pulau Laut Kepulauan jadi sasaran. Tidak terlalu jauh dari lokasi Gunung Saranjana. Gunung yang lebih tepat disebut bukit itu legendanya ke mana-mana. Pintu terbesar kerajaan gaib di Kalimantan.

Penulis kebagian tugas menembak. Memakai senapan uklik. Murah meriah. Tapi akurasinya maknyos di jarak 25 meter ke bawah. Selebihnya lebih enak pakai tele dan membaca arah angin.

Eko kebagian tugas mencari burung. Matanya tajam. Mampu dengan cepat menemukan ruak-ruak yang bersembunyi di dahan sawit walau hanya berbekal senter kepala.

"Kamu saja yang nembak ya. Tanganku suka goyang," ujarnya.

Bulan sabit di ufuk barat. Roda dua kami meluncur. Sebuah speaker, dan accu. Speaker itu berisi MP3, suara ruak-ruak berbagai jenis. Teknologi memang memudahkan perburuan.

Keliling kami di tengah sawit. Mencari pohon yang masih rendah-rendah dan tidak terlalu rimbun. Jika tinggi dan rimbun, leher cepat pegal mencari burungnya.

Di sebuah persimpangan. Entah di bagian mana. Di tengah lautan sawit, semua arah seperti sama. Kami berhenti.

MP3 diputar. Volume full. Suara itu pun memekak. Serak dan seram. "Gak papa. Asal tidak menganggu. Kita kan cuma berburu alakadarnya," ujar Eko.

Kenapa kami berburu? Iseng saja sebetulnya. Sudah lama tidak makan ruak-ruak. Dagingnya enak. Seperti ayam kampung, hanya lebih gurih.

Tidak lama. Terdengar suara sahutan ruak-ruak dari beberapa titik. Begitulah tekniknya. Kami jadi tahu posisi buruan.

Jika mau sabar menunggu, biasanya ruak-ruak akan datang mendekat. Kehadirannya dari hitam kegelapan begitu menyeramkan. Seperti: bunyi gerisik langkahnya.

Paling mengejutkan adalah, datang mengendap-endap, setelah dekat baru berbunyi: krak...krak..!

Kami menunggu satu hisapan rokok. Terdengar ada yang datang. Namun tidak mendekat persis. Cahaya rembulan sepertinya membuat ruak-ruak waspada.

Burung itu jarang terbang. Tidak kuat juga lama mengepakkan sayap. Makanannya ikan-ikan kecil. Suka berlarian di pinggir sungai. Musim tepat berburu itu hujan. Kami di sini masih kemarau.

Rokok sebatang habis kami memutuskan gerilya. Berburu. Ke arah suara sahutan. MP3 tetap menyala. Itu panduan jika pulang nanti. Malam rawan sesat.

Belum jauh masuk ke dalam sawit. Eko mengarahkan senter kapalnya ke arah penulis. Menggoyang-goyangkan sinarnya. Itu kode. Ia melihat ruak-ruak.

Asyik..!

Benar saja. Hewan sebesar anak ayam itu bertengger di salah satu dahan sawit. Hampir tidak terlihat.

Uklik penulis pompa tiga kali. Peluru masuk. Dikeluarkan lagi. Mereng. Masukkan lagi. Keluarkan lagi. Gugup. Salah-salah. Akhirnya percobaan ke sekian peluru masuk presisi.

Jaraknya sekitar 10 meter. Visir truglo lebih mudah terlihat. Dia berwarna. Berbeda dengan visir dahulu, yang hitam terbuat dari besi.

Posisi menembak berdiri. Ini posisi sulit. Tangan kiri yang memegang tengah senapan rentan goyang. Berat. Jongkok lebih enak, bisa menumpu di lutut. Tapi tidak ada pilihan.

Membidik dimulai. Nafas ditahan. Ujung visir bergoyang-goyang. Ketika ujung visir tepat mengarah ke vital burung, tanpa tunda, pelatuk ditarik.

Pak..! Suara angin meledak menghempas peluru. Terdengar suara kepak dan buk. Burung jatuh berdebam. Eko lari secepat kilat, mengeluarkan parang dan menyembelihnya.

Ustadz Somad bilang di youtube. Menembak dengan basmallah sudah cukup. Halal. Namun jika sempat disembelih, lebih baik disembelih lagi.

Satu buruan tumbang. Menemukan burung kadang jauh lebih sulit daripada menembaknya.

Terus kami berjalan. Bulan semakin dekat ke kaki barat. Tiba-tiba penulis bergidik. Suara pria terdengar bersuara.

Eko tidak mendengar. Padahal suara itu nyaring. "Perasaanmu saja itu," ujarnya.

Walau gelisah, tapi kami jalan terus. Kadang sorot senter memantul. Dua caha kecil di ujung.

"Apa itu..!?"

"Mana? Ah, itu tikus," kata Eko.

Tolah-toleh. Mengendap-endap. Langkah kaki dijaga tidak berisik. Tiba-tiba di sudut mata tampak bayangan putih. Refleks menegang, senter diarahkan ke cahaya putih itu.

Di sebuah dahan sawit. Sesosok putih bertengger. Semuanya putih.

Matanya terpejam. Wajahnya seperti orang tua: berkerut. Dengan bulu-bulu kelabu di sana.

"Apa itu..?!"

Eko bergegas mendekat. "Itu namanya burung putihan. Tembak sudah," ujarnya.

Burung putihan. Sejenis burung bangau. Biasa ada di sawah. Rasanya lumayan enak. Sedikit lebih keras dari ruak-ruak.

Sekali tembak. Burung itu jatuh. Sangkut di sela dahan sawit. Eko terpaksa menebang dahannya.

Dan ternyata ada banyak burung itu. Empat ekor kami dapat. Semua dekatan.

Tenang. Itu burung, bukan satwa dilindungi. Sama dengan ruak-ruak. Masih melimpah.

Namun pastikan menembak burung putihan itu di dadanya. Jika di bagian lain, dia masih bisa berdiri. Dan itu tidak elok. Satu burung, penulis tembak empat kali, baru jatuh, karena tidak tepat di dada.

Di sudut-sudut lain kami kembali menumbangkan tiga ekor ruak-ruak.

Banyak yang kabur. Cahaya bulan membuatnya leluasa terbang. Berburu malam paling tepat saat tidak ada cahaya rembulan.

Puas keliling kami pindah lokasi. Di lokasi selanjutnya giliran Eko yang bergidik. Dia mengaku mendengar suara manusia. Senternya jelalatan ke sana-sini.

"Itu ada jaket. Jaketnya baru. Sepertinya ada anak-anak pacaran masuk sini," sengatnya.

Entah benar atau tidak. Penulis tidak melihat jaket itu. Namun, sekitar beberapa waktu kemudian, kami mendengar suara deru motor berlari cepat menjauh.

Memang di pelosok itu, di perkebunan sawit. Terkadang ada remaja nekat. Pacaran di kegelapan kebun. Atau bisa juga kongkow, menghirup obat batuk cair.

Dahulu kami pun di desa masa remaja suka duduk malam di alam terbuka. Namun bermain gitar. Memandang langit, sambil bakar ubi. Kadang satu dua teman bandel suka juga bawa minuman, tapi lebih sering bernyanyi. Keras-keras, supaya suara bisa tembus ke kos-kos anak remaja putri.

Jika esok pagi remaja putri bertanya, "sampai jam berapa gitaran tadi malam?", itu artinya usaha kami berhasil. Itu di zaman belum ada hape.

Yakin bahwa yang bersuara tadi di hutan adalah remaja yang mungkin pacaran, wajah Eko berubah lega. "Aku tadi takut juga. Jangan sampai lah aku melihat yang aneh-aneh," ujarnya.

Penulis pun menenangkannya. Begitulah jika berburu berdua di kegelapan. Satu takut, satunya pura-pura berani. Jika dua-duanya takut bersamaan, alamat buyar berburunya.

Beberapa kali kami menemukan punai. Tapi burung berdaging lezat itu keburu terbang. Punai jauh lebih sensitif ketimbang ruak-ruak. Berburu punai malam jauh lebih baik menggunakan bunyian nyaring seperti pemotong rumput. Dia tidak akan terbang, malah semakin lelap tidur. Entah kenapa. Penulis pernah mencobanya bertahun silam dengan Randy. Panen setengah karung.

Lewat tengah malam kami pindah lokasi lagi. Bulan sudah tenggelam. Dekat muara. Kali ini suara sahutan banyak. Namun burung jenis lain juga menyahut. Bunyinya besar: but..but..!

Burung itu namanya burung bubut, atau burung alang-alang. Sering diburu warga pedalaman, karena minyaknya dipercaya bisa sembuhkan patah tulang. Burung alang-alang mirip elang, dipercaya sebagai salah satu burung magis mirip enggang.

Suara bubut itu mirip suara dari bunyi-bunyian bambu. Suara yang paling sering, katanya, didatangi makhluk tak kasat mata.

Cuaca dingin. Di sudut jalan, kami bertemu ular sawah besar. Melihat gelagat lokasi yang sepertinya berisiko itu, kami memutuskan balik kanan. Empat burung putihan, lima ruak-ruak, satu tekukur dibawa.

Di zona nyaman, burung dijejer. Difoto. Tidak seram lagi. Dan sensasi berburu itu ternyata memang membuat ketagihan. Seram tapi asyik. Dan bagaimana yang berburu di hutan lebat, mengejar rusa? Pastinya jauh lebih seru lagi. Dan jauh lebih mendebarkan. (ran/ema)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 28 Januari 2020 10:48

Geliat Pasar Subuh Amuntai, Jago Nawar Bisa Bawa Pulang Berbagai Anyaman

Pasar Subuh Amuntai hanya buka maksimal 4 jam pada hari…

Minggu, 26 Januari 2020 08:24

Tenun Pagatan di Desa Manurung Kusan Hilir, Dipesan Orang Luar Negeri, Biaya Kirim Sampai Rp4 Juta

Selain penghasil ikan, Kecamatan Kusan Hilir juga dikenal sebagai daerah…

Minggu, 26 Januari 2020 07:56

Hari Jadi Polwan ke-71: Rumah Nenek Tukang Pijat Dibedah

Polwan Polda Kalsel merenovasi rumah warga miskin di perbatasan Banjarmasin…

Jumat, 24 Januari 2020 11:39

Kisah Bahrani, Guru Honor yang Cari Tambahan Uang Dengan Menjadi Perukiah

Penghasilan menjadi seorang guru honorer nampaknya masih kurang bagi Bahrani.…

Kamis, 23 Januari 2020 10:26

Prahara Penanganan Fenomena Remaja Ngelem di Kota Idaman

Bukan tergolong narkoba. Tapi efeknya sangat berbahaya. Lem bak primadona.…

Kamis, 23 Januari 2020 09:31

Mengenal Lebih Dekat Organisasi Bikers Brotherhood 1% MC Chapter Banjarbaru

Klub, komunitas atau organisasi penggeber roda dua di Banua terus…

Senin, 20 Januari 2020 07:56

Kopdar Bareng Komunitas Youtuber Borneo: Jadi Wadah Belajar dan Bermain

Berangkat dari siring Patung Bekantan, kemarin (19/1) pagi, sebanyak 40…

Jumat, 17 Januari 2020 11:48

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Kalau super car Lamborghini melesat di jalan tol, mungkin sudah…

Jumat, 17 Januari 2020 11:41

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pemerintah mulai kewalahan dengan ulah para peretas. Mereka menyerang situs-situs…

Kamis, 16 Januari 2020 10:05

Upaya Pengendalian Banjir di Cempaka: Warga Masih Tak Rela Penataan Menghapus Kenangan

Hujan memang kerap dijadikan alasan. Namun terlepas dari faktor alam.…

Dibatasi Gunakan Handphone, Karyawan PT SIS Mengadu ke Disnaker

Ketua PKK HSU Hj Anisah Wahid Kenalkan 'SINTARI'

Legislatif Konsultasikan Penggunaan Dana Desa ke Pusat

Merusak Mesin ATM, 2 Pemuda Menyerahkan Diri Bersama Keluarganya

Reguler di Tahun ini, Taman Budaya akan Gelar Musik Panting di Kiram

Bertemu Setelah 30 Tahun Kehilangan Anaknya di Arab, Tangis Siti Aisyah Pecah

Bupati Banjar Berencana Pamerkan Barang Peninggalan Nabi, Saifullah Ragukan Keaslian Artefak

Ingin Maju di Pilgub Kalsel, Edi Suryadi Incar Jalur Perseorangan

Kasus Asusila, Status Gusti Makmur Tunggu DKPP

2020, UN Terakhir
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers