MANAGED BY:
MINGGU
29 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 28 April 2016 09:04
Feature
Tiga Hari Makan Mi Instan Campur Rumput, ini Kisah Dokter KONI Kalsel ..
PERIKSA - Komisi Kesehatan KONI Kalsel, dr Yuddy Riswandhy Noora melayani keluhan atlet Pelatprov Kalsel yang mengalami gangguan di lutut.

PROKAL.CO,

Profesi dokter merupakan profesi yang mempunyai tujuan mulia bagi masyarakat. Begitu juga dengan dr Yuddy Riswandhy Noora MKes yang saat ini menjabat sebagai Komisi Kesehatan di Pengprov KONI Kalsel. Nah, bagaimana perjalanan Yuddy dari nol hingga menjadi dokter dan Komisi Kesehatan di KONI Kalsel?

--------------------------------------------------------
ROZY MAULANA, Banjarmasin
--------------------------------------------------------

Dilahirkan di Kelua, 22 Maret 39 tahun silam. Yuddy merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Amarullah dan Noorjannah. Tahun 1995, Yuddy menyelesaikan pendidikan SMA di SMAN 1 Amuntai. Menjadi seorang dokter merupakan profesi yang tidak pernah terbesit dalam pikirannya saat itu.

Beranjak dari cita-citanya ingin menjadi anak yang berbakti dengan kedua orang tua dan berguna bagi masyarakat banyak, Yuddy ikut tes psikologi untuk menentukan ke mana arah dan tujuannya setelah lulus SMA.

"Sesuai dengan cita-cita, saat itu pilihannya antara guru dan bergelut di bidang kesehatan. Saat tes psikologi, saya diarahkan untuk melanjutkan pendidikan menjadi dokter, kebetulan nilai biologi saya saat sekolah memang selalu tinggi," katanya.

Yuddy akhirnya memutuskan untuk mengikuti tes lewat jalur undangan masuk perguruan tinggi fakultas kedokteran (FK) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) yang saat ini sudah bertransformasi menjadi (ULM).

Yuddy lulus dan diterima menjadi mahasiswa kedokteran ULM. Lima tahun menimba ilmu di FK ULM, Yuddy lulus di tahun 2000 sebagai sarjana kedokteran. Sebagai sarjana kedokteran tidak lantas membuat Yuddy menyandang gelar dokter. Karena sarjana kedokteran gelarnya baru dokter muda. Nah, untuk menjadi seorang dokter, ia harus mengikuti pendidikan profesi dokter.

Pendidikan profesi ia tempuh selama tiga tahun di FK ULM. "Orang banyak bertanya kenapa kuliah untuk menjadi dokter itu lama. Ya itu tadi, setelah lulus sarjana, harus ikut pendidikan profesi lagi. Makanya tidak jarang ditemukan seseorang baru bisa menyandang gelar dokter setelah menempuh pendidikan sampai 10 tahun," ujarnya.

Berhasil menyandang gelar dokter di tahun 2003, Yuddy mendaftar di Rumah Sakit (RS) Ulin Banjarmasin untuk menjadi tenaga kontrak selama 6 bulan. "Saya ingat betul, waktu itu Oktober 2013 saya lulus, saya mendaftar di Ulin dan langsung diterima menjadi tenaga kontrak.

"Setelah 6 bulan, tepatnya bulan April, saat itu di setiap rumah sakit diharuskan memiliki dokter siaga bencana oleh Kementrian Kesehatan. Nah, saya diusulkan pihak RS Ulin menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) Kemenkes untuk siaga bencana di RS Ulin. Jadi saat itu kalau ada bencana saya diberangkatkan untuk bergabung dengan teman-teman dari daerah lain se-Indonesia," ceritanya.

Sebelum diangkat menjadi PTT Kemenkes, 18 Maret 2004, Yuddy menikahi seorang gadis yang bernama dr Mutiara Dari Selatan SpPK. Enam Bulan setelah menikah tepatnya di bulan September, Yuddy meninggalkan istri dan calon anak yang ada di dalam kandungannya pergi ke Pulau Papua untuk menangani bencana kelaparan penduduk di sana. Tepatnya di Yahukimo salah satu kabupaten yang baru dibentuk April 2003 lalu dan diresmikan 11 Desember 2003.

---------- SPLIT TEXT ----------


Sejak dibentuk pada April 2003 hingga sekitar September 2005, Yahukimo diperintah dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Di Yahukimo terdapat 45 distrik. Yuddy ditempatkan di distrik Sela yang letaknya tepat di lembah gunung Jayawijaya. Jarak tempuh ke distrik sela sangat jauh dan tidak bisa dilalui kecuali dengan transfortasi udara.

"Itupun hanya pesawat capung atau helikopter dengan dua baling-baling. Karena apa, anginnya sangat kencang, kalau helikopternya hanya satu baling-baling saja, kecil kemungkinan untuk sampai dengan selamat. Pesawat capung saja melayang-layang," urai ayah dua anak tersebut.

Ke distrik Sela, Yuddy berangkat bersama satu orang pegawai penyuluh lapangan dari pertanian, satu orang dari kepolisian, satu dari TNI serta satu dari penyuluh agama. Banyak pengalaman dan ujian yang ia dapati saat berada di pulau paling timur Indonesia tersebut. Bagaimana tidak, berada di lembah gunung Jayawijaya membuat tubuhnya kedinginan. Suhu di sana mencapai minus 2 derajat selsius dan paling tinggi 12 derajat selsius.

"Jadi kalau malam, saya tidur dengan 7 lapis pakaian. Pertama kaos singlet, kedua baju kaos, ketiga baju sweater, keempat jaket kulit, kelima jaket tebal yang dibagi oleh Kemenkes, keenam sleeping bed dan ketujuh selimut. Itu jika saya tidur di posko, kalau saya tidur di honai (rumah adat Papua,RED) itu bisa 4 lapis saja. Karena tidurnya beralaskan tanah, dan tanah di sana cukup hangat," ceritanya.

Selama tiga pekan berada di Sela, Yuddy berteman dengan hawa dingin, karena matahari hanya terlihat pukul 9-11 pagi saja, setelah itu tidak ada matahari lagi. Namun, ternyata itu bukan ujian berat. Ujian sesungguhnya ketika memasuki pekan kedua Yuddy berada di sana. Saat itu, pasokan sembako yang ia bawa saat kedatangan pertama habis. Sementara helikopter atau pesawat capung tidak bisa mengirim sembako karena cuaca yang tidak memungkinkan. Sedangkan bahan makanan yang tersisa hanya mie instan dan penyedap rasa.

Untuk bertahan hidup, Yuddy dan teman-teman serta warga di sana mencincang rumput ilalang untuk dijadikan campuran mie yang akan digunakan sebagai makanan. "Sempat 3 hari saya makan mie dan rumput. Benar saja, menjelang pulang saya kena penyakit diare. Kami pulang Minggu pagi, Jumat dan Sabtu saya diare," ingatnya.

Namun hal tersebut masih biasa, karena ia pulang dengan selamat ke Banjarmasin. Dibanding temannya yang merupakan anggota Polri terkena penyakit malaria ketika masuk pekan kedua. Benar, nyamuk di sana sangat banyak. Karena itu harus menggunakan lotion anti nyamuk banyak-banyak di tubuh.

"Kami sudah memberikan pertolongan dan pengobatan kepada Toni. Karena nyamuk yang sangat banyak, pertengahan pekan ketiga Toni semakin gawat. Kami minta evakuasi, tapi tidak bisa. Baru bisa di evakuasi akhir pekan. Toni langsung dilarikan ke rumah sakit. Setelah sampai ke Banjarmasin saya mendengar kabar kalau Toni sudah meninggal akibat malaria tersebut," pungkasnya.

---------- SPLIT TEXT ----------


Pergi jauh meninggalkan istri yang sedang hamil tentu tidak mudah bagi Yuddy. Tapi bagaimana dengan istrinya? dr Mutiara Dari Selatan mengatakan berprofesi dan menikahi seorang dokter sudah tahu konsekuensi yang akan diterima. Sudah menjadi tugas seorang dokter membantu dan menangani daerah yang terjadi konflik atau perlu bantuan.

"Walaupun satu profesi dan tahu tugasnya, saya tetap khawatir. Di satu sisi saya bangga karena suami saya bisa berbuat untuk banyak orang, tapi di sisi lain saya juga tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada suami saya. Apalagi setelah saya mendapat kabar bagaimana gambaran tempat di sana. Sedih rasanya ketika mendengar cerita suami di telepon," katanya.

Mendengar cerita tersebut tidak lantas membuat Mutiara mengeluh. Bahkan ia memberikan spirit kepada sang suami. "Kalau niat kita untuk berbuat baik kepada banyak orang, Insya Allah ada kemudahan yang Allah berikan. Itu merupakan kalimat yang saya katakan kepada suami saya agar ia bisa tetap semangat dengan ujian yang dirasakannya dan juga membuat saya kuat," bebernya.

"Alhamdulillah, di Papua saya berhasil menyelesaikan kewajiban dan pulang ke Banjarmasin dengan selamat," ungkap Yuddy yang saat ini bekerja sebagai staf bidang pelayanan medik RSUD Ulin Banjarmasin.

26 Desember 2004, terjadi bencana gempa tsunami di Aceh yang menurut Menteri Kesehatan Indonesia saat itu, Siti Fadilah Supari menewaskan 220.000 jiwa di Indonesia. Yuddy kembali dikirim ke Aceh untuk menangani koban gempa. Namun, saat itu Yuddy tidak masuk dalam tim pertama. Karena pertimbangan sang istri baru melahirkan. Ia berangkat sepekan setelah tim pertama dari Kalsel dikirim.

"Itu masuk Januari 2005. Saat itu tidak ada lagi evakuasi, hanya penanganan lanjutan saja. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan," ungkapnya.

April 2006, Yuddy diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin. Walaupun sudah menjadi PNS dan tidak lagi sebagai petugas PTT Kemenkes Siaga Bencana, Yuddy masih melakukan tugas sosial. Yaitu saat terjadi letusan Merapi 26 Oktober 2010 silam.

"Saat itu setelah gempa dikirim dokter bedah. Setelah itu untuk evakuasi lanjutan dikirim lagi petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kalsel. Nah, saya ikut rombongan PMI itu. Kebetulan yang menjadi ketua rombongannya saat itu H Aini Gulat," tambahnya. (bersambung)

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Sabtu, 28 November 2020 12:47
Dari Pernikahan Wagub Kalsel Rudy Resnawan dengan Risnia Puspitasari

Risnia Sempat Dibawa Kunjungan Kerja ke Hulu Sungai

Sekitar dua tahun menduda, Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Resnawan…

Rabu, 25 November 2020 11:56

Persembahan untuk Maestro, dari Pameran Membaca Misbach Tamrin

Dalam pameran bertajuk Membaca Misbach, dipajang 23 lukisan di Sanggar…

Sabtu, 21 November 2020 10:17

Pembaca Kartu Tarot di Banjarmasin: Hapus Stigma Negatif, Kerap Dicap Dukun

Membaca diri melalui kartu tarot tak ubahnya seperti sesi curhat.…

Sabtu, 21 November 2020 10:08

Sibuk Berkampanye, Ketemu Wakil Hanya Saat Debat

Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj…

Kamis, 19 November 2020 15:04

Terkulai Setelah Sumpitan Kedua, Monyet Liar ini Dievakuasi dari Pemukiman

Ketika jarum bius pertama mengenai pahanya, si monyet liar hanya…

Selasa, 17 November 2020 11:05

Hari Pertama Simulasi Pembukaan SMP: Antara Senang dan Khawatir

Tak ada tanda silang di bangku siswa, thermo gun telat…

Senin, 16 November 2020 11:17

Viral Dulu, Maaf Kemudian: Perayaan Hari Kesehatan Nasional yang Kebablasan

Puncak perayaan Hari Kesehatan Nasional menuai protes warganet. Kepala Dinas…

Jumat, 13 November 2020 11:41

Bernilai Ekonomis dan Ada Hal Mistis, Melihat Koleksi Bambu Unik Warga Desa Antasari

Bambu bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari membuat rangka…

Kamis, 12 November 2020 11:05

Kepala Badut Dipinjam Ngelem, Fenomena Badut Jalanan di Banjarmasin

Badut jalanan semakin marak di jalan-jalan kota. Memprihatinkan karena ada…

Rabu, 11 November 2020 10:58

Robot Antasari, Si Robot Perawat Pasien Covid Buatan Anak Banua

Pangeran Antasari berjuang melawan penjajah Belanda. Robot Antasari berjuang melawan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers