MANAGED BY:
SENIN
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 28 November 2019 11:45
Dari Korban Sebuku: Rumah Boleh Lapuk, Kenangannya Tidak
BERDUKA: Abu Bakar, Misran dan Kamsiah, keluarga nelayan yang rumahnya habis terbakar di Pulau Sebuku saat berbincang dengan penulis. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Wajah nelayan tua itu tegas. Guratannya dalam. Hampir tidak terlihat kesedihan. Namun ketika ditanya perasannya, ia mengaku, kehilangan rumah sama dengan perasaan kehilangan mendadak orang tercinta.

-- Oleh: Zalyan Shodiqin Abdi, Sebuku --

Selasa (26/11) tengah malam di tenda pengungsian. Cuaca dingin. Walau tak ada angin berhembus. Anak-anak dan sebagian besar wanita sudah tidur di atas kasur yang dihampar di atas tanah. Beberapa pria tua masih merokok, berbincang-bincang.

Abu Bakar, menghembuskan kretek paling murah. Dia pria berusia hampir 60 tahun. Lahir dan tua di Sebuku. Pekerjaannya nelayan. Wajahnya tegas, khas nelayan berpengalaman yang kenyang menghadapi badai di laut. Di sebelahnya duduk Misran, juga nelayan. Misran rambutnya hampir putih semua.

"Saya tidak menangis. Tidak sama sekali. Tapi hati remuk di dalam. Melihat rumah habis dalam sekejap," kata Misran kepada penulis di dalam tenda.

Mendengar suara itu, Kamsiah istrinya bangun dari rebahannya. Ditatapnya wajah Misran dalam kegelapan. Kulit Misran gelap, namun sinar matanya terang.

Kata Misran, rumah dia dan istrinya itu dibangun sejak lama. Terbuat dari kayu. Rumah warisan orang tua. Sampai jelang terbakar, mereka tidak cukup uang menjadikan rumah lapuk itu jadi permanen.

Di sana lah anak-anak mereka lahir. Di rumah itu, ia dan cucunya biasa bercanda. "Rasanya kehilangan rumah itu seperti kehilangan keluarga kita mendadak. Misalnya ada keluarga kita sehat, tiba-tiba meninggal. Nah persis seperti itu rasanya," lirih Misran.

Abu Bakar, pria tua yang yang telah kehilangan istrinya itu, mendengar analogi Misran, diam-diam dalam kegelapan menyeka matanya dengan punggung tangan. Tak ada isak terdengar. Tapi jelas, ia menangis.

Hanya sebentar Abu Bakar larut. Sepersekian detik, ia kembali bisa menguasai diri. Sudah dua malam, mereka tidur di dalam tenda. Bagi Misran dan kawan-kawan seprofesi, tidur di alam terbuka tiada masalah sama-sekali.

Dingin dan panas itu makanan hidup mereka. Yang jadi masalah besar adalah mereka tidak bisa lagi bekerja. "Yang sempat saya selamatkan cuma segel rumah, TV dan sedikit baju," ungkap Misran.

Ia mengaku, tiap saat selalu berpikir, bagaimana caranya bisa bikin rumah lagi. "Tidak ada tabungan. Jangankan nabung, makan sehari-hari aja pas-pasan. Hasil melaut, cukup buat makan."

Ia bersyukur, di penampungan makan dan minum gratis. Tapi mau sampai kapan. "Mudahan benar pemerintah mau bantu rumah," lirih Abu Bakar.

Dari penelusuran penulis di lapangan, mayoritas warga yang rumahnya terbakar adalah mereka yang hidup di kelas ekonomi menengah ke bawah. Itu bisa dibuktikan dengan kumuhnya rumah mereka sebelum terbakar. Sebagian besar dari kayu, tidak sedikit yang berlubang-lubang.

"Yang kaya di tempat kami bisa dihitung pakai jari," kata Abu Bakar. (ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 12 Desember 2019 12:04

Ketika Teror Hepatitis A Mengancam Siswa Kota Idaman

Pekan lalu, beredar pesan berantai menyatakan status KLB hapatitis A…

Kamis, 12 Desember 2019 11:02

Masih Jualan Es Saat Pengumuman Kelulusan Polisi

Hari ini ia tepat berulang tahun ke 56 tahun. Guratan…

Minggu, 08 Desember 2019 16:21

Mahir Pijat, Belum Tentu Bisa Pijat Refleksi, Tuna Netra Diberi Pelatihan Pijat Refleksi

Soal jasa pijat, para tuna netra memiliki kelebihan tersendiri. Namun…

Kamis, 05 Desember 2019 09:57

Putra Banua Jadi Peneliti Teknologi Nano di Jepang, Curi Perhatian Kampus, Diangkat Jadi Asisten Profesor

Diam-diam, Banua punya putra berprestasi di bidang ilmu fisika. Dia…

Rabu, 04 Desember 2019 11:29

Nasib Perajin Purun: Diorder untuk Acara Nasional, Purunnya Sudah Jadi Tapi Belum Dibayar, Pemesannya Malah Menghilang

Nasib sial diterima salah satu perajin purun di Kelurahan Palam,…

Selasa, 03 Desember 2019 11:40

Kokedama, Usaha Baru Jenis Florikultura di Kalsel: Belajar dari Youtube, Laku Dijual Melalui Online

Kokedema memang belum booming. Padahal seni bercocok tanam tanpa pot…

Senin, 02 Desember 2019 12:41

Bertemu Nasruddin, Lelaki yang Diisukan Menyebarkan Ajaran Sesat di HST

Nasruddin mengaku dua kali didatangi aparat keamanan. Permintaananya sama: meminta…

Senin, 02 Desember 2019 12:35

Wawancara dengan Nasruddin, "Sang Nabi" dari Kakahan

Radar Banjarmasin dua kali mewawancarai Nasruddin. Pertemuan pertama pada 20…

Jumat, 29 November 2019 11:08

Gagal Masuk Akpol, Rebut Emas SEA Games

Dibalik jabatannya sebagai Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan…

Jumat, 29 November 2019 09:56

Dinas Kehutanan Buka Harapan untuk Pengungsi Bisa Membangun Rumah

Pemprov Kalsel berencana membagikan ratusan kubik kayu dan papan kepada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.