MANAGED BY:
SELASA
28 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 02 Desember 2019 12:41
Bertemu Nasruddin, Lelaki yang Diisukan Menyebarkan Ajaran Sesat di HST

Dituding Sesat, Disuruh Tutup Pengajian

MENYENDIRI: Bangunan yang digunakan Nasruddin (59), untuk salat Jumat bersama dengan para jemaahnya. Lokasinya, berada tak jauh dari kediaman rumahnya di Desa Kahakan Kecamatan Batu Benawa. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Nasruddin mengaku dua kali didatangi aparat keamanan. Permintaananya sama: meminta pengajiannya ditutup. Tapi beban ajaran yang dimilikinya membuat Nasruddin tetap nekat membuka pengajiannya kembali.

 -- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

Tahun 2003 silam pertama kali orang-orang berseragam datang ke rumah Nasruddin. “Mereka Polisi. Alasannya mengamankan saya, karena bakal ada pendemo yang menuju rumah ini saat pengajian digelar," kenang Nasruddin saat ditemui di kediamannya di Desa Kahakan, Kecamatan Batu Benawa, Jumat (29/11) tadi. Kediamannya cukup jauh, berjarak 11 km dari Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Baca dulu: Wawancara dengan Nasruddin, "Sang Nabi" dari Kakahan

Saat diminta tutup, lelaki 59 tahun itu bergeming. Dia tidak puas dengan permintaan penutupan itu. Karena menurutnya tidak memiliki dasar yang jelas. Dia membuka pengajian dan tidak mengajak orang untuk datang. Semua jemaah datang sendiri.

Namun, permintaan tutup itu akhirnya resmi. Setelah keluar surat keputusan dari Kejaksaan Negeri Hulu Sungai Tengah (HST) yang menetapkan pelarangan terhadap pengajiannya karena dituding menyebarkan ajaran sesat.

Sebelum keluar surat keputusan pelarangan dari Kejaksaan, terlebih dahulu Nasruddin bersama dengan tiga orang jemaah diundang menghadiri pertemuan secara tertutup di Aula Kantor Kecamatan Batu Benawa, HST.

Di situ, hadir pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Batu Benawa, Camat Batu Benawa, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Batu Benawa, beserta unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika). Intinya, Nasruddin disidang.

“Waktu itu, saya ditanyakan perihal ajaran serta pengajian saya. Saya jawab apa adanya dan tidak dibahas oleh mereka. Tahu-tahu, keluar surat dari MUI HST yang mengatakan bahwa ajaran saya sesat dan menyesatkan. Disusul kemudian dengan surat dari kejaksaan,” tuturnya.

Nasruddin rupanya tidak puas dengan keputusan ini. Dia merasa tidak melakukan kesalahan. Karena itu, dia kembali membuka pengajiannya sebelum kemudian kembali dicekal oleh kejaksaan di tahun 2019 ini.

Bagi Nasrudin, tuntutan penutupan itu tidak masalah. Dia hanya mengaku dibingungkan karena tidak ada alasan konkret mengenai alasan penutupan. Kesesatan yang dimaksudkan, tidak pernah dijadikan diskusi. Hanya tiba-tiba ada surat perintah penutupan.

“Setelah kejadian di tahun 2003, itu tak pernah sekalipun ada aparat, MUI atau instansi terkait lainnya datang ke sini. Meski hanya untuk sekadar berdiskusi,” beber lelaki yang tinggal bersama dengan empat orang anak dan seorang istri itu.

Menurut Nasruddin, bila memang pengajiannya salah dan yang berwenang dapat menjelaskan di mana letak kesalahannya, dia mengaku rela bersujud di hadapan mereka yang mau menjelaskan.

Semenjak kejadian di tahun 2003, Nasruddin semakin curiga ada yang sengaja menjahatinya dan berusaha mengarahkan pada huru hara. Meski demikian, dia tidak lagi peduli. “Terus terang, selama yang menyatakan sesat adalah manusia, saya tidak perduli,” ucapnya.

Dia menceritakan, pengajiannya kembali buka pada tahun 2018 silam. Saat itu, satu persatu jemaahnya mulai menghubunginya dan kembali datang ke kediamannya. Hingga pengajian pun kembali digelar.

“Saya tak pernah mengajak orang lain. Karena ajaran saya tak bisa disebarkan secara sembarangan. Yang datang belajar ke tempat saya, keinginan orangnya sendiri,” ujarnya.

Bahwa pengajian yang digelarnya, memang sudah menjadi bahan pembicaraan, Nasruddin mengiyakan. Bahkan, dia juga mengaku pengajiannya kerap diisukan sebagai biang keresahan warga desa setempat.Namun menurutnya, isu itu hanya terdengar di luar desa.

"Buktinya, warga desa ini tetap damai dan tentram. Setiap saya menggelar pengajian pun, warga di sini bersikap biasa saja,” ungkapnya.

Ketua RT 02 Desa Kahakan, Hirman (40) yang ditemui penulis asyik bersantai di sebuah warung yang dekat kediaman Nasruddin mengungkapkan, dia memang mengetahui Nasruddin membuka pengajian.

Menurutnya, jemaahnya adalah orang jaug. Taak ada seorang pun warganya yang pernah mengikuti pengajian itu.

“Warga di sini biasa-biasa saja menanggapinya. Tak pernah berselisih dengan Nasruddin. Lagi pula, Nasruddin juga tak pernah mengajak warga untuk mengikuti pengajiannya. Kepada sesama warga, sosialnya juga bagus. Sering bertemu dan mengobrol,” tuntas Hirman. 

Sudah Pernah Berjanji Tak Membuka Pengajian

Sekretaris MUI Kabupaten HST, H Khairussalim mengatakan pengajian Nasruddin memang pernah dihentikan pada 2003 silam. Merujuk pada hasil pertemuan antara MUI Kecamatan Batu Benawa, unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika).

Kepada penulis, Khairuusalim memperlihatkan tiga arsip surat yang pernah dikeluarkan pada tahun tersebut. Isinya, menyikapi permasalahan dugaan penyimpangan agama yang dilakukan oleh Nasruddin.

Dua surat diantaranya, dikeluarkan oleh MUI Kecamatan Batu Benawa, satunya dari Kejaksaan Negeri HST. “Di surat-surat ini dengan jelas menyebutkan sejumlah poin terkait ajaran yang dibawa oleh Nasruddin.

Setelah surat keputusan keluar, pengajian agama yang dilakukan oleh Nasruddin sempat berhenti. Namun seperti yang diketahui, ternyata muncul lagi,” jelasnya.

Khairussalim menambahkan, atas dasar hal itu pula, MUI Kabupaten HST, beberapa bulan belakangan lantas kembali menyurati pihak penegak hukum, hingga melakukan pemanggilan terhadap Nasruddin. Untuk dimintai keterangan.

“Saya lupa tanggal persisnya. Tapi, Nasrudin dipertemukan dengan Ketua MUI HST, di Kejaksaan Negeri HST. Menurut keterangan Ketua MUI HST, saat itu Nasruddin bersikeras bahwa ajaran yang diajarkannya adalah benar. Persis seperti apa yang disampaikannya pada tahun 2003 lalu,” bebernya.

Senada, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) HST, H Syarifuddin, mengatakan, di tahun 2003 lalu Nasruddin sebenarnya sudah aberjanji agar tidak mengulangi perbuatannya.

Sudah Masuk Ranah Hukum

Dugaan penyimpangan ajaran agama yang dibawa oleh Nasruddin pada Kamis (28/11) lalu akhirnya ditetapkan masuk ranah pidana. Hal itu, diungkapkan Kapolres HST, Ajun Komisaris Besar Polisi Sabana Atmojo, seusai menghadiri rapat tertutup, di ruang kerja Bupati HST, H A Chairansyah di hari yang sama.

Rapat itu digelar langsung oleh Bupati HST. Dihadiri oleh Kejaksaan Negeri HST, Kapolres HST, Dandim 1002/Barabai, Kementerian Agama HST, Kesbangpol HST, MUI HST, Camat Batu Benawa, serta Kabag Hukum Sekretariat daerah HST.

Dalam rapat, di samping menentukan tindakan apa yang akan dilakukan oleh aparat penegak hukum juga untuk mengetahui siapa yang akan melakukan penindakan.

Ada pun hasil dari rapat tersebut, Sabana membeberkan bahwa kasus penyimpangan agama yang dilakukan Nasruddin memasuki ranah pidana dan dapat dikenakan pasal 156 a terkait penistaan agama.

Pekan ini, kasus tersebut bakal memasuki tahap penyelidikan. Mulai dari pengumpulan barang bukti, meminta keterangan saksi, termasuk jemaah Nasruddin.

“Setelah itu, akan dinaikkan jadi tahap penyidikan. Pada tahap ini, yang bersangkutan bisa ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan,” ucapnya, kepada Radar Banjarmasin.

Sabana mengatakan pihaknya akan meminta keterangan saksi ahli dari Falkutas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta, yang pernah menangani kasus semacam ini di luar daerah.

Karena rawannya kasus ini, Polres HST belum berani mengambil tindakan sebelum berdiskusi dengan MUI HST, hingga akhirnya menindaklanjutinya dengan membentuk tim khusus untuk menangani kasus tersebut. Sabana berpesan agar warga tidak melakukan penghakiman.

“Saya mengimbau kepada masyarakat agar mempercayakan masalah ini kepada aparat Kepolisian dan proses hukum yang berlaku,” pesannya. (war/ran/ema)

Baca juga: Wawancara dengan Nasruddin, "Sang Nabi" dari Kakahan


BACA JUGA

Minggu, 26 Januari 2020 08:24

Tenun Pagatan di Desa Manurung Kusan Hilir, Dipesan Orang Luar Negeri, Biaya Kirim Sampai Rp4 Juta

Selain penghasil ikan, Kecamatan Kusan Hilir juga dikenal sebagai daerah…

Minggu, 26 Januari 2020 07:56

Hari Jadi Polwan ke-71: Rumah Nenek Tukang Pijat Dibedah

Polwan Polda Kalsel merenovasi rumah warga miskin di perbatasan Banjarmasin…

Jumat, 24 Januari 2020 11:39

Kisah Bahrani, Guru Honor yang Cari Tambahan Uang Dengan Menjadi Perukiah

Penghasilan menjadi seorang guru honorer nampaknya masih kurang bagi Bahrani.…

Kamis, 23 Januari 2020 10:26

Prahara Penanganan Fenomena Remaja Ngelem di Kota Idaman

Bukan tergolong narkoba. Tapi efeknya sangat berbahaya. Lem bak primadona.…

Kamis, 23 Januari 2020 09:31

Mengenal Lebih Dekat Organisasi Bikers Brotherhood 1% MC Chapter Banjarbaru

Klub, komunitas atau organisasi penggeber roda dua di Banua terus…

Senin, 20 Januari 2020 07:56

Kopdar Bareng Komunitas Youtuber Borneo: Jadi Wadah Belajar dan Bermain

Berangkat dari siring Patung Bekantan, kemarin (19/1) pagi, sebanyak 40…

Jumat, 17 Januari 2020 11:48

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Kalau super car Lamborghini melesat di jalan tol, mungkin sudah…

Jumat, 17 Januari 2020 11:41

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pemerintah mulai kewalahan dengan ulah para peretas. Mereka menyerang situs-situs…

Kamis, 16 Januari 2020 10:05

Upaya Pengendalian Banjir di Cempaka: Warga Masih Tak Rela Penataan Menghapus Kenangan

Hujan memang kerap dijadikan alasan. Namun terlepas dari faktor alam.…

Kamis, 16 Januari 2020 09:57

SDN 4 Haruyan Dayak, Sekolah dengan Medan Terjal di Hunjur Meratus

Harapan masyarakat Desa Haruyan Dayak, akhirnya terwujud. Fasilitas pendidikan bertambah.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers