MANAGED BY:
SENIN
20 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 05 Desember 2019 09:57
Putra Banua Jadi Peneliti Teknologi Nano di Jepang, Curi Perhatian Kampus, Diangkat Jadi Asisten Profesor
CEMERLANG: Putra berprestasi di bidang ilmu fisika kelahiran Banjarbaru, Shoufie Ukhtary saat berfoto di depan Universitas Tohoku, Jepang. Meski baru berusia 27 tahun, pemuda ini sudah masuk dalam tim peneliti teknologi nano di Negeri Sakura. | Foto: Nurus Sjamsi For Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Diam-diam, Banua punya putra berprestasi di bidang ilmu fisika. Dia bernama Shoufie Ukhtary. Meski baru berusia 27 tahun, pemuda ini sudah masuk dalam tim peneliti teknologi nano di Jepang.

-- Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru --

Nama Shoufie Ukhtary sendiri belakangan ini berhasil mencuri perhatian kalangan intelektual di Jepang. Sebab, di usia 26 tahun pada 2018 lalu dirinya sudah menyabet gelar doktor muda dari Universitas Tohoku, Jepang.

Usai lulus dari universitas ternama di Jepang itu, pria kelahiran Banjarbaru, 16 Januari 1992 ini hingga sekarang banyak menghabiskan waktunya di sana. Apalagi sejak dia resmi menjadi Asisten Profesor pada Fakultas MIPA, Jurusan Fisika.

Di Jepang, anak pasangan Nurus Sjamsi dan Nadjiah Ridwan ini dikenal punya kemampuan dalam meneliti khusus, menganalisa hingga merangkumkan gagasan dalam jurnal ilmiah internasional terkait nano karbon dan carbon nanotube.

Karena itu, dia mendapat apresiasi dari Profesor Riichiro Saito yang merupakan guru besar Universitas Tohoku. Salah satu profesor ternama di Jepang ini tak segan menarik Shoufie bergabung dalam tim penelitian kampus mereka. Sesuatu yang terbilang langka untuk seorang doktor muda ahli fisika yang berasal dari Indonesia.

Radar Banjarmasin, kemarin mencoba mewawancarai Shoufie untuk menceritakan pengalamannya selama berkarir di Jepang. Lewat nomor ponsel yang didapatkan dari ayahnya: Nurus Sjamsi, penulis berhasil menghubungi Shoufie.

Menurut Shoufie, Jepang merupakan salah satu pusat penelitian nanomaterial terbaik di dunia. Alasan itulah yang mendorong dirinya melanjutkan studi di sana, setelah lulus S1 Fisika di Universitas Brawijaya Malang pada 2013.

Pilihan peraih Medali Emas Aoba Society for Promotion Of Science tahun 2017 ini, tidaklah salah. Ternyata di Tohoku University keinginannya belajar lebih jauh di bidang fisika, khususnya saat cita-citanya meneliti fisika teori dengan nanomaterial bisa terkabul.

Dia menjelaskan, model perkuliahan yang dilaksanakan di Tohoku University, sangat mengasah kemampuannya untuk bisa terus berkembang.

"Karena model perkuliahan di Jepang khususnya di Universitas Tohoku dilakukan selama dua semester di kelas dan laboratorium, yang kebanyakan by reseach," jelasnya.

Mengenai teknologi nano, menurutnya saat ini masih belum berkembang di Indonesia. Bahkan masyarakat pun masih merasa asing dengan teknologi ini. Padahal, teknologi nano sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan berkontribusi dalam memajukan bangsa.

"Dengan teknologi ini kita dapat membuat zat menjadi ukuran yang sangat kecil, dan karena itu pula maka sifat dan fungsi zat tersebut bisa diubah sesuai dengan yang kita inginkan," kata Shoufie.

Lebih lanjut Shoufie menjelaskan, nanotechnology atau teknologi nano adalah ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengontrol zat, material dan sistem pada skala nanometer.

"Sehingga, teknologi ini mampu menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada. Ukuran 1 nanometer adalah 1 per satu miliar meter yang berarti 50.000 kali lebih kecil dari ukuran rambut manusia," ucapnya.

Bagi dirinya, untuk bisa menembus dan bergabung dalam lingkaran peneliti terbaik dunia di Universitas Tohoku tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan dan kerja keras yang luar biasa untuk mencapai posisi tersebut.

Shoufie mengaku merasa beruntung, karena bisa meraih beasiswa MEXT dan JSPS dari Pemerintah Jepang tahun 2013 - 2018. Bahkan, semenjak menjalani program S2, dirinya sering ditugaskan oleh supervisornya untuk menjadi tutor mahasiswa junior.

"Setidaknya sudah 6 junior yang saya mentori dan kami pun berhasil menerbitkan makalah bersama," paparnya.

Berkat kegigihan dan banyaknya penelitian ilmiah yang dilakukannya, akhirnya sosok Shoufie mencuri perhatian kampus. Termasuk Profesor Riichiro Saito, yang tanpa ragu mengangkat Shoufi menjadi asisten profesor dan bergabung dalam tim mereka.

"Saya ingin membuat bangga orang tua dan Banua. Tentunya ke depan saya bisa berbuat untuk memajukan negara melalui ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan. Gelar bagi saya bukan segala-galanya, yang penting bagaimana kita bisa memberi manfaat bagi orang banyak," ucap pria yang pernah menyabet Medali Emas Olimpiade Nasional Mahasiswa MIPA (ONMIPA) tahun 2012 ini.

Dia berharap nantinya ada generasi muda di tanah air yang juga bisa mengembangkan diri lewat kemampuan dan minat yang digeluti. Serta, ada pula peneliti muda yang bermunculan di bidang fisika.

"Saya rasa, potensi orang Indonesia tidak terlalu ketinggalan dibandingkan mahasiswa dari negara lain," ujarnya.

Sementara itu, ayah Shoufie: Nurus Sjamsi saat dihubungi via WhatsApp mengaku bangga dengan capaian anak pertamanya itu. Sebab, Jepang dikenal sebagai negara yang memiliki sistem seleksi ketat dalam merekrut para penelitinya. Terutama bagi mereka yang berasal dari luar negeri.

"Banyak syarat berat yang harus dipenuhi untuk masuk ke dalam bursa calon peneliti pada sebuah lembaga penelitian. Selain pendidikan yang mumpuni, pengalaman penelitian yang relevan serta rekomendasi dari seorang profesor yang ahli dalam bidangnya menjadi penentu seseorang diterima sebagai peneliti atau tidak. Tapi bagi Shoufie, tidak ada yang tidak mungkin," ucapnya.

Dia ingin, Shoufie terus melengkapi pengalaman penelitiannya di Jepang. Agar nantinya, bisa kembali ke Indonesia untuk bisa mengabdikan diri bagi bangsa dan negara.

"Termasuk untuk Banua. Meski sejak tahun 2000 kami pindah dari Banjarbaru dan menetap di Malang, tapi setiap akhir pekan saya selalu ke Banjarmasin," bebernya.

Nurus Sjamsi merupakan Ketua STIE Pancasetia, dia mengaku setiap akhir pekan mendatangi kampus yang beralamat di Jalan A Yani Km 5,5 Banjarmasin tersebut.

"Kalau kami aslinya orang Banjar, tapi sempat berumah di Banjarbaru. Yakni di Kompleks Banjarbaru Permai, Loktabat," katanya.

Ditambahkannya, pada tahun 2000 dia memilih memboyong istri dan kedua anaknya ke Malang lantaran dirinya ingin melanjutkan kuliah di Universitas Brawijaya Malang.

"Waktu itu kedua anak saya juga sekolah di Malang, dari mulai SD sampai kuliah. Karena itu kami tidak mau lagi pindah-pindah ke daerah lain," tambahnya.

Shoufie sendiri sudah dua tahun ini tidak pulang ke Indonesia, lantaran padatnya waktu semenjak ditunjuk jadi asisten profesor.

"Budaya di sana disiplinnya sangat ketat, sehingga Shoufie belum bisa pulang. Padahal waktu kuliah dulu, setiap tahun dia bisa pulang," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Jumat, 17 Januari 2020 11:48

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Kalau super car Lamborghini melesat di jalan tol, mungkin sudah…

Jumat, 17 Januari 2020 11:41

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pemerintah mulai kewalahan dengan ulah para peretas. Mereka menyerang situs-situs…

Kamis, 16 Januari 2020 10:05

Upaya Pengendalian Banjir di Cempaka: Warga Masih Tak Rela Penataan Menghapus Kenangan

Hujan memang kerap dijadikan alasan. Namun terlepas dari faktor alam.…

Kamis, 16 Januari 2020 09:57

SDN 4 Haruyan Dayak, Sekolah dengan Medan Terjal di Hunjur Meratus

Harapan masyarakat Desa Haruyan Dayak, akhirnya terwujud. Fasilitas pendidikan bertambah.…

Rabu, 15 Januari 2020 11:50

Hanya Coba-coba, Eh Berhasil, Ternyata Lahan Eks Tambang Bisa Dimanfaatkan

Bagi sebagian orang lahan eks tambang sulit untuk dimanfaatkan. Tapi,…

Minggu, 12 Januari 2020 10:58

TYPO BIKIN HEBOH..! Kepala Desa Salah Ketik Volume Air, Ratusan Pelajar Dievakuasi

Agar informasi bisa langsung tersampaikan, kecepatan mungkin adalah kunci. Namun,…

Minggu, 12 Januari 2020 10:38

Bangga Disebut Anak Banua, Dari TNI AU Terbang ke Dunia Entertainment

Setelah sukses dengan single pertamanya 'Ingin Bersamamu' pada tahun 2017…

Sabtu, 11 Januari 2020 08:49

Terasing di Musim Hujan, Mau Pulang Tipis Kemungkinan

Sepuluh tahun menghuni wilayah transmigrasi di Desa Lajar-Pupuyuan, Kecamatan Lampihong,…

Rabu, 08 Januari 2020 14:33

Berkemah di Pinggir Sungai Batang Alai: Air Bah Tiba-Tiba Datang di Pagi yang Dingin

Gemar berwisata di kawasan pegunungan? Berhati-hatilah. Di musim penghujan, jangan…

Rabu, 08 Januari 2020 11:43

Karir Politiknya Jadi Objek Penelitian Skripsi, Rudy Resnawan Langsung Datang Sebagai Penguji

Mahasiswi FKIP Prodi Studi Pendidikan IPS Universitas Lambung Mangkurat, Sri…

DURIAN OH DURIAN... Macet Total, Jalan Kaki 2 Km, Luka dan Pingsan karena Rebutan Durian

Dugaan Tindakan Asusila, KPU Kalsel Bakal Panggil Gusti Makmur

Siswa MTsN 11 Tabalong Kunjungi Radar Banjarmasin: Lihat Proses Pembuatan Koran

Bukit Batu di Riam Kanan ini, Diproyeksi Jadi Tempat Wisata

Perkantoran Gubernur Dikepung, Ratusan Pembalap Liar Ditilang

Tanpa Antre di Ruangan Khusus, Penyandang Disabilitas Bisa dapat SIM

Karlina: Jangan Ragu Pakai Dana Kelurahan

Piton Tertangkap, Plafon Hancur

Pagu Siring Teluk Kelayan Rp10,4 Miliar, Deadline Pembongkaran: April

Ibnu Sina Kecewa dengan Pemprov, Gara-gara PDAM Cuma Bisa Jadi Perseroda
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers