MANAGED BY:
MINGGU
23 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 22 Desember 2019 08:35
Pameran Lukisan Bersisian: Demi Bumi yang Sakit

PROKAL.CO, Akhmad Noor dan Maui, dua perupa dari generasi dan aliran lukis berbeda berbagi ruang yang sama. Hasilnya adalah Pameran Bersisian.

-- Oleh: SYARAFUDDIN, Radar Banjarmasin --

PAMERAN Bersisian dibuka kemarin (21/12) sore di Bengkel Lukis Sholihin, Taman Budaya Kalsel, Jalan Hasan Basry.

"Biarlah saya yang mewakili sisi tuanya. Dan Maui mewakili generasi muda," seloroh Akhmad Noor.

Pelukis 46 tahun itu memajang belasan lukisan bergaya realis. "Realis fotografis. Maksudnya, karya saya selalu berangkat dari selembar foto," tambah pria kurus itu.

Noor tak punya pelukis idola. Pada masa mudanya, referensi berkisar di majalah-majalah luar negeri. Sekarang, berkat media sosial, ia punya referensi melimpah.

Beberapa karyanya sudah pernah mejeng di pameran nasional. Sebutlah lukisan 'Menjaring Postmo' yang dipamerkan di Bali, dua tahun silam. Atau 'Galang Persatuan' yang dipamerkan di Jakarta, setahun lewat. Dipamerkan berkat bantuan Galeri Nasional Indonesia (Galnas).

Noor sudah menggambar sejak SD. Tapi mulai serius melukis pada awal tahun 2000. Sempat kuliah di FKIP Universitas Lambung Mangkurat, Noor memilih berhenti.

"Saya ingin kuliah di jurusan seni rupa, tapi di Banjarmasin kan tak ada. Mungkin karena itu saya berhenti kuliah," kenangnya.

Kalimantan Selatan memang tak punya akademi seni. Imbasnya, perkembangan seni rupa di Kalsel terbilang lamban. Naik dan turun, lebih sering turun memang.

Maka menggelar pameran selama sebulan penuh di Banjarmasin, boleh dikata nekat. "Ada yang mau beli syukur, tak ada pun saya bahagia," ujarnya.

Apa yang salah? Noor mengambil contoh Jawa. Di sana, membeli sebuah lukisan mahal merupakan sebuah kebanggaan. Di Banua, dianggap mubazir. Orang kaya Banjar lebih senang membeli batu akik atau pergi haji berkali-kali.

"Memajang lukisan Affandi di ruang tamu, sama hebatnya dengan memiliki mobil Ferrari di garasi. Budayanya memang berbeda," tukasnya.

Kesimpulannya, jika Anda menetap di Kalsel dan mau hidup dari melukis, mental Anda harus sekuat baja. Tapi tuhan toh sudah menjatah rejeki orang. "Paling mahal sih terjual Rp7 juta," sebutnya.

Sekarang, bagian wawancara Maui. Cewek 21 tahun itu masih kuliah di Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Malang.

Karya-karya Maui dalam pameran ini selalu menunjukkan sosok perempuan muda yang sama. Siapa sebenarnya dia? "Perempuan ini melambangkan ibu bumi. Yang menjaga dan merawat bumi," jawab Maui.

Maui ingin mengajak pengunjung pameran merenung. "Ibaratkan bumi sebagai tubuh kita. Apabila sakit, tentu mencari tahu penyakit untuk mengobatinya. Semestinya, kita mencintai bumi selayaknya mencintai tubuh sendiri," jelasnya.

Soal gaya melukis, Maui terinspirasi dari lukisan era Art Nouveau. Lukisan dekoratif dengan nuansa flora. "Sulur-sulur yang meliuk-liuk. Anggun dan indah sekali," ujarnya.

Kembali pada pameran ini, dua pelukis (laki-laki dan perempuan), generasi tua dan muda, dan gaya melukis yang berbeda, apa sebenarnya yang menyatukan mereka?

"Kebetulan kami tinggal di kawasan yang sama. Sama-sama dari Banua Anyar (Banjarmasin Timur)," tukasnya. Jawaban yang sungguh sederhana.

 

Kisah dari Wajah Yngwie

 

YANG menyenangkan dari sebuah pameran kecil semacam ini, pelukis dan pengunjung bisa berbincang hangat. Kawan lama datang menyapa, kawan baru langsung akrab.

 

Salah satu pengunjung, Merkurius, ternyata teman sekelas Akhmad Noor di SMA 7 Banjarmasin. Dia mengaku masih memajang sebuah lukisan karya Noor di kamarnya.

 

"Itu masih zaman Orde Baru. Saya berangkat ke Solo menonton konser Yngwie Malmsteen. Reportasenya kemudian saya tulis pakai mesin ketik," kisahnya.

 

Yngwie adalah gitaris rock asal Swedia. Dia manggung di Indonesia pada tahun 1990. Pemilik album 'Rising Force' itu sekarang berusia 56 tahun.

 

Noor menyumbangkan sebuah lukisan potret Yngwie kepada Merkurius. Reportase dan lukisan itu kemudian dipajang di majalah dinding sekolah.

 

"Kawan-kawan menyerbu mading kami. Tapi saya tahu, mereka lebih tertarik dengan lukisan Noor ketimbang tulisan saya," aku Merkurius tergelak.

 

Keduanya memang teman akrab. Bahkan mereka pernah bikin geng. Namanya Glasnos. "Singkatan dari Gabungan Laskar Nekat Sosial Kelas Satu," ujarnya terbahak. (fud/ema)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 22 Februari 2020 11:48

Upaya MTsN 8 HST Menekan Keberadaan Sampah Plastik

Resah dengan banyaknya sampah plastik menjadi pemicu. Sikap tegas pun…

Selasa, 18 Februari 2020 12:23

Selebgram Jelajahi Tempat-tempat Wisata di Kalimantan; Kemana-mana Naik Roda Dua, Ditimpuk Batu Saat Melintasi Jalan Sunyi

Peraih gelar Putri Pariwisata Favorit Palangkaraya Tahun 2018, Hana Pira…

Selasa, 18 Februari 2020 10:43

Cetak Pemuda Berakhlak Demi Tangkal Radikalisme

Suasana Alam Roh, Kiram Park, kemarin (17/2) ramai sekali. Banyak…

Senin, 17 Februari 2020 11:02

Mengenal Legislator yang Suka Menulis: Sebagai Pedoman Sesama Anggota Dewan

Salah satu tugas anggota DPRD adalah membuat peraturan daerah. Apapun…

Minggu, 16 Februari 2020 06:58

Kalsel Bakal Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Semoga ini bisa menjadi solusi, agar sistem kelistrikan di Banua…

Sabtu, 15 Februari 2020 10:11

Perjalanan Biker Sirath Touring Borneo Lintas Tiga Negara

Hasrat mencapai puncak Pulau Kalimantan menggunakan sepeda motor akhirnya tercapai.…

Kamis, 13 Februari 2020 12:00

Gaduk, Minuman Oplosan yang Kebal Regulasi: Bisa Bikin Mati Mendadak, Tengah Malam Bisa Jual Lebih Mahal

Fungsinya sudah jelas. Alkohol tunggal dengan kadar mencapai 95% bukan…

Kamis, 13 Februari 2020 10:35

Biker Banua Terkesan Kemulusan Aspal Negeri Jiran

Perjalanan tiga anggota Biker Sirath dari Banjarmasin menuju Tip of…

Rabu, 12 Februari 2020 12:27

Nasib Bendungan Pipitak Jaya yang Direncanakan Bakal Tanggulangi Banjir Tapin

Dikerjakan sejak tahun 2015 silam. Bendungan Pipitak Jaya, yang terletak…

Selasa, 11 Februari 2020 11:36

Pamer Buah-Buah Langka, Ada Buah yang Tidak Bisa Diperjualbelikan

Marajai, desa yang terletak di lereng pegunungan Meratus ini, menunjukkan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers