MANAGED BY:
MINGGU
23 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Sabtu, 04 Januari 2020 10:20
Jual Wisata Alam, Jauh Lebih Mudah
WISATA ALAM: Industri pariwisata Jawa Timur (Jatim) terus berkembang. | Foto: Jawa Pos

PROKAL.CO, JAKARTA – Meski banyak kendala, industri pariwisata Jawa Timur (Jatim) terus berkembang. Tahun ini tren pertumbuhannya akan tetap positif. Apalagi, belakangan sering bermunculan destinasi wisata baru selain alam. Yakni, budaya.

Ketua Dewan Tata Krama Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jatim Nanik Sutaningtyas mengatakan bahwa wisata alam adalah komoditas utama industri pariwisata Jatim. Artinya, menjual wisata alam jauh lebih mudah. Terutama kepada wisatawan mancanegara (wisman). Karena itulah, pemerintah maupun swasta berlomba-lomba menggenjot pembangunan wisata alam di Jatim.

Belakangan, menurut Nanik, bermunculan juga banyak desa wisata yang mengemas budaya dan tradisi sebagai komoditas. Misalnya, desa wisata Tulung Rejo di Batu, desa wisata Lali Gadget di Sidoarjo, dan Kampung Blekok di Situbondo.

“Alhamdulillah, sekarang hampir semuanya berlomba-lomba membangun pariwisata di daerah masing-masing sehingga industri ini semakin bergairah,” ucap owner Akdirasa Travel itu Rabu (1/1).

Tahun ini Nanik yakin industri pariwisata Jatim tumbuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan bahwa wisman yang masuk dari Bandara Juanda pada Oktober lalu naik 2,09 persen daripada bulan sebelumnya.

“Kami rasa tahun depan akan lebih meningkat karena banyak pengembangan desa wisata di Jatim yang menjadi daya tarik tersendiri,” tutur Nanik, Rabu (1/1).

Sejauh ini, wisman terbanyak Jatim berasal dari Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Destinasi mereka adalah wisata alam.

Sebagian besar ke kawasan wisata yang memang menjadi program pemerintah pusat, yakni Bromo Tengger Semeru (BTS). Tapi, objek wisata lokal yang pengembangannya bergantung pada APBD atau swadaya masyarakat juga mulai dilirik.

“Intinya, industri ini masih prospektif, tidak akan ada habisnya. Sebab, masyarakat pasti butuh refreshing dalam hidup,” tegas Nanik.

Namun, industri pariwisata Jatim punya banyak kendala. Yang paling besar adalah harga tiket pesawat. Nanik menegaskan bahwa pemerintah harus bisa segera merumuskan kebijakan terkait dengan harga tiket pesawat itu. Mengingat, bandara menjadi gerbang utama arus kedatangan wisman.

“Karena meskipun banyak dikembangkan objek wisata menarik, jika harga tiket tidak terjangkau, animo wisatawan juga akan rendah,” tuturnya.

Sebab, Indonesia adalah negara kepulauan. Jika harga tiket pesawat yang bisa membuat wisman berkunjung dari satu daerah ke daerah lain dengan mudah terjangkau, industri pariwisata akan tumbuh maksimal. “Masalah ini sangat urgen untuk perkembangan di daerah, apalagi yang sulit terjangkau,” ungkapnya. (jpg/ij/mat)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers