MANAGED BY:
MINGGU
23 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Senin, 06 Januari 2020 14:00
Semua Waspada! Hujan Ekstrim, Banjir Bakal Datang
GENDONG ANAK: Seorang Bapak menggendong anaknya. Banjir kemarin pagi membuat 20 RT di Cempaka dan Sungai Tiung terendam. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Waspadalah, karena ancaman bencana alam meliputi banjir, longsor dan angin puting beliung telah nyata di depan mata. Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) bahkan telah memetakan ada ribuan titik rawan banjir, longsor dan puting beliung yang tersebar di semua daerah di Kalsel.

Kabupaten Banjar menjadi daerah paling rentan dihantam musibah. Daerah ini memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap bencana,  baik kebakaran hutan maupun lahan, banjir, puting beliung, tanah longsor, kekeringan atau krisis air bersih dan gelombang tinggi air pasang (ROB).

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar HM Hilman menjelaskan, ada dua sungai besar yang melintas di Kabupaten Banjar, yaitu Riam Kanan dan Kiwa. Untuk Riam Kanan, sudah dikendalikan dengan bendungan Riam Kanan. Seperti 2005 lalu, bila permukaan air begitu tinggi akan jadi rawan. Bila  pintu aira dibuka maka air akan melimpah.

Sedangkan aliran Sungai Riam Kiwa masih menjadi penyebab banjir. Rutin terjadi setiap musim hujan. Hujan deras dari hulu membuat Sungai Riam Kiwa meluap dan membawa air sampai ke daerah bawah hingga berdampak di Kecamatan Sungai Pinang, Pengaron, Simpang Empat, Astambul,  Martapura kota. Paling ujung adalah di Sungai Tabuk.

Menurutnya, ujung air dari Kabupaten Banjar berakhir ke Sungai Tabuk. Bisa terjadi banjir di Sungai Tabuk karena ketinggian air Sungai Martapura. Di  Banjarmasin juga tinggi karena curah hujan yang tinggi. Padahal Banjarmasin berada 2 meter di bawah permukaan air laut.

Dikatakannya, sudah ada grand desain bersama Pemerintah Banjar dengan pemerintah pusat melalui Dirjen SDA Kementerian PUPR. Banjar juga telah mengantisipasi melalui merestruktisasi banjir.

“Upaya kami tentu saja normalisasi sebagian Sungai Riam Kiwa, yang diarahkan ke Sungai Tuan, Sungai Ambulung, dan selanjutnya keluar lagi ke Sungai Martapura,” pungkasnya.

Di kawasan Kota Banjarbaru, kerawanan bencana alam masih didominasi oleh ancaman banjir. Untuk ancaman atau potensi longsor sendiri dapat dikatakan belum terpantau, lantaran letak geografis Kota Banjarbaru yang minim perbukitan atau tebing.

Terkait banjir, Kepala Pelaksana BPBD Kota Banjarbaru, Zaini menyebut ada dua daerah rawan. Yakni Kecamatan Cempaka serta Liang Anggang. Disebutnya, Kecamatan Landasan Uli juga termasuk rawan, meski belum ada kejadian akhir-akhir ini.

"Untuk yang rawan dan sudah terdampak yakni di Cempaka, tepatnya di Kelurahan Cempaka dan Sungai Tiung. Namun yang lumayan parah ada di Kelurahan Cempaka seperti di Kertak Baru," kata Zaini.

Untuk di Liang Anggang, menurut Zaini kejadiannya tergolong tidak parah. Yakni hanya tergenang saja. "Lokasinya tepatnya di Kelurahan Jalan Nugraha, Landasan Ulin Barat, Liang Anggang. Ini hanya genangan saja di pemukiman," ujarnya.

Terkait faktor penyebab, Zaini menyebut intensitas hujan adalah hal yang tak terhindarkan. Lantaran ini faktor alam. Sedangkan faktor lainnya katanya adalah terkait daya tampung aliran sungai dan beberapa drainase yang sempit.

"Kalau di Cempaka karena aliran sungainya sempit sehingga meluap dan meluber ke pemukiman. Tapi ini sudah berkurang karena dibantu keberadaan embung dan ada normalisasi sungai," tambahnya.

Ditanya tindakan BPBD Banjarbaru atas ancaman potensi banjir, Zaini mengatakan saat ini beberapa personelnya telah disiagakan di titik-titik rawan.

"Kalau memang terdeteksi akan parah kita akan siagakan posko darurat di lokasi. Namun sekarang belum digelar, karena warga yang terdampak juga belum ada yang sampai mengungsi," ujarnya.

Tingkat keparahan banjir kali ini menurutnya tidak begitu parah. Ketinggian air pun katanya maksimal berkisar di angka 50 sentimeter.

"Tetapi kita tetap siaga dan memantau perkembangan terbaru. Alhamdulillah baru yang awal tahun terjadi banjir, selanjutnya sampai hari ini tidak ada laporan," pungkasnya. 

Hampir sama dengan Banjarbaru, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarmasin, Muhammad Hilmi, mengungkapkan di Banjarmasin ada 13 titik yang sering mengalami banjir rob atau air pasang, namun tidak sampai banjir besar seperti di daerah lain.

Itupun terjadi jika debit air laut sedang tinggi. Posisi Banjarmasin sendiri berada di bawah permukaan air laut. Sehingga jika debit air laut sedang pasang, diiringi hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Banjarmasin, saat itulah biasanya terjadi banjir rob.

"Tapi, meski Banjarmasin sedang diguyur hujan dengan intensitas tinggi, jika debit air laut masih rendah, banjir rob bisa dibilang tidak pernah terjadi. Paling genangan air saja di beberapa titik," terangnya.

Di Kabupaten Tapin, Kepala Pelaksana BPBD Tapin, Said Abdul Nasir menuturkan bahwa salah satu penyebab banjir di wilayahnya karena Sungai Tapin mengalami pendangkalan yang disebabkan banyaknya sampah. "Kalau sungai dangkal, menyebabkan air yang ditampung sedikit," ucapnya, Jumat (3/1).

Lanjutnya, kalau wilayah pegunungan hujan, daerah perkotaan siap-siap menerima imbasnya. Apalagi saat air pasang, otomatis akan terdampak banjir. "Namun, untuk banjir di Tapin tidak berlangsung kama. Rata-rata berlangsung sekitar 8 jam," jelasnya.

Mantan staf ahli Bupati ini mengimbau kepada masyarakat Tapin agar jangan lagi membuang sampah di sungai. Baik itu sampah rumah tangga ataupun sampah botol dan plastik. "Terutama masyarakat yang ada di bantaran sungai," tuturnya.

Ditambahkan Kabid Kedaruratan Logistik (Darlog) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, Akhmad Sofyan bahwa langkah antisipasi sudah dilakukan pihaknya untuk menanggulangi banjir dan tanah longsor.

"Kita akan membuka posko pada setiap kecamatan yang terdampak dan juga akan membuka dapur umum," bebernya.

Sementara Badan Penanggulangan Bencana, Kesatuan Bangsa dan Politik (PB dan Kesbangpol) Hulu Sungai Selatan telah memetakan delapan Kecamatan rawan banjir, yaitu Kecamatan Loskado, Padang Batung, Angkinang, Kecamatan Sungai Raya, Kandangan, Daha Utara, Daha Selatan dan Daha Barat.

Sedangkan daerah rawan longsor diantaranya, Kecamatan Loskado, Padang Batung dan Telaga Langsat. “Kecamatan Kandangan sebagai kota Kabupaten HSS biasanya kalau banjir hanya kiriman air yang lewat. Sedangkan wilayah tiga Daha, terendam karena daerah cekungan,” ujarnya.

Faktor dominan yang memicu terjadi banjir atau longsor di Kabupaten HSS, menurutnya hanya karena faktor cuaca. “Wilayah kabupaten secara geofrafis merupakan daerah lintasan Sungai Loksado, Amandit dan Sungai Nagara,” sebut Efran.

Di Kabupaten HSS memang debit air sempat meninggi, tetapi itu tidak akan berlangsung lama. Karena Kabupaten HSS hanya sebagai daerah lintasan air.

Kabupaten HSS sudah melakukan mitigasi dengan menetapkan status darurat banjir, tanah longsor dan puting beliung berdasarkan keputusan Bupati HSS, Achmad Fikry, dengan nomor 188.45/381/KUM/2019 dan berlaku sejak 1 Desember 2019 sampai 31 Januari 2020  mendatang.

“Posko siaga juga sudah diaktifkan. Alat berat juga sudah disiagakan,” tutur Efran seraya menyebut rakor lintas sektor mengantisipasi bencana  sampai koordinasi dengan tim reaksi cepat jika terjadi bencana juga sudah dilakukan.

Ketua Tagana Kabupaten HSS, Samsuni mengatakan bahwa 67 anggota Tagana telah tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten HSS. Mereka terus memantau atau memonitor perkembangan air jika hujan terjadi.

“Selama 24 jam semua anggota Tagana siap di posko jika terjadi bencana,” ujarnya seraya menambahkan peralatan seperti perahu karet, tenda sampai mobil dapur umum siap digunakan jika terjadi suatu saat terjadi bencana alam.

Di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), tanda-tanda naiknya permukaan air sudah terjadi pada dua aliran sungai utama yang membelah Kota Amuntai, yakni Sungai Balangan dan Negara. Meskipun begitu, kondisi tersebut masih normal pada Jumat (3/1) sore.

"Meski intensitas hujan mulai tinggi, namun kondisi debit air di wilayah HSU masih berstatus aman sampai hari ini (Jumat)," kata

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HSU, Sugeng Riyadi.

Pihaknya belum bergerak secara signifikan mengingat banjir belum terjadi. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pemantauan dan koordinasi dengan pihak desa, kecamatan dan kelurahan yang menjadi perlintasan sungai.

Dari 10 kecamatan di HSU, ungkap mantan Camat Danau Panggang ini, sembilan kecamatan potensi banjir. Terkecuali Kecamatan Paminggir yang memang dibangun dan berdiri di atas rawa dan bibir Sungai Barito.

Menurut pengalaman Sugeng, HSU bisa banjir bila kantong-kantong air yang ada di Polder Alabio sudah full terisi air. Ditambah dengan kiriman air dari hulu sungai seperti Nagara, Tabalong dan Balangan dipastikan air sungai meluap.

"Kami ada perahu motor  yang digunakan untuk memantau kondisi air. Bahkan akhir tahun 2019 kemarin telah melaksanakan pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi relawan," jawab Sugeng. 

Sementara itu, Kabag Ops Polres HSU Kompol Sukardi mengatakan, bila terjadi banjir pihaknya bersama BPBD HSU mendirikan posko bersama dengan titik di sekitar siring tugu itik Amuntai.

"Kami punya perlengkapan evakuasi seperti pelampung, perahu karet bahkan speedboat. Termasuk anggota yang memiliki spesifikasi SAR," kata perwira menengah ini.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), selain berpotensi terjadinya luapan air, hujan yang terus mengguyu, juga dapat mengakibatkan terjadinya banjir bandang. Peristiwa banjir bandang pernah terjadi pada tahun 2016 lalu  di Desa Alat, Kecamatan Hantakan. Dalam kejadian itu sebanyak 33 rumah penduduk lenyap dan 27 rumah lainnya yang terletak di tepian sungai rusak berat.

Berkaca dari peristiwa itu, di desa tersebut kini sudah dibangun kanal banjir. Disusul kemudian dengan pemasangan alat pendeteksi dini banjir. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HST, Budi Haryanto, mengungkapkan bahwa terjadinya banjir bandang beberapa tahun lalu diakibatkan kawasan pegunungan telah terjadi perubahan ekologi. Seperti misalnya, adanya pembalakan liar.

“Jadi, banjir bandang yang terjadi sifatnya kasuistik,” ungkapnya ketika dikonfirmasi Radar Banjarmasin, Jumat (3/1). Di samping itu, melihat curah hujan yang saat ini cukup meningkat, sebagai upaya pencegahan TRC BPBD terus melakukan pemantauan di wilayah yang dianggap rawan bencana.

“Rencana tanggal 7 Januari atau hari Selasa mendatang kami melakukan rapat penetapan siaga bencana. Selain penetapan siaga banjir, juga siaga dalam hal bencana lainnya seperti misalnya bencana angin puting beliung,” tuntas Budi Haryanto.

Di Balangan, dari 8 kecamatan di kawasan kabupaten pemekaran tersebut, sebanyak 7 kecamatan terdeteksi rawan bencana. Tujuh kecamatan berpotensi banjir saat musim hujan, diantaranya Halong, Juai, Lampihong, Awayan, Paringin, Paringin Selatan dan Tebing Tinggi. Hanya Kecamatan Batumandi yang tidak termasuk dalam kawasan rawan banjir.

Sedangkan untuk bencana longsor, biasanya terjadi di Kecamatan Halong, Tebing Tinggi, Paringin dan Awayan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan, Alive Joesfah Love, melalui Kasi Kedaruratan M Syuhada mengatakan, untuk bencana longsor terbagi menjadi dua jenis, yaitu longsor tebing biasanya terjadi di Kecamatan Haling dan Tebing Tinggi.

Sedangkan longsor bantaran sungai sering ditemui di Paringin dan Awayan. Meskipun sebenarnya semua kecamatan bantaran sungainya berpotensi longsor. “Sementara itu untuk bencana banjir yang terjadi di Balangan sifatnya hanya sekadar lewat saja. Biasanya tidak lama, sekitar dua-tiga jam,” ungkapnya.

Di Kabupaten Tabalong lokasi titik rawan banjir cukup banyak dan hampir merata di seluruh wilayah. Beberapa titik kecamatan, mulai dari Kecamatan Tanjung dan Murung Pudak yang menjadi kawasan perkotaan termasuk di dalamnya.  Lokasi lainnya berada di Kecamatan Upau, Haruai, Pugaan, Kelua, Bintang Ara, Muara Uya dan Muara Harus.

Menurut data yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tabalong, di Kecamatan Benua Lawas dan Bintang Ara menjadi lokasi terbanyak. Sementara kecamatan lain, tidak seberapa.  Selain banjir, data tanah longsor Kecamatan Benua Lawas turut menyumbang kawasan rawan. Berikutnya Kecamatan Tanjung, Jaro dan Bintang Ara.

Plt Kepala BPBD Kabupaten Tabalong, Zakaria menjelaskan, banjir di Tabalong sering kali dikarenakan luapan air sungai. Untuk longsor lantaran gerusan aliran sungai. "Penanggulangan bencana yang bisa kami lakukan paling membantu membuka dapur umum, memasang tenda darurat dan evakuasi warga ke tempat aman," katanya.

Dikatakannya, untuk penanganan fisik lokasi rawan bencana banyak ditangani Dinas PUPR Kabupaten Tabalong. Tapi untuk skala besar mengusulkan ke pemerintah pusat. "Kami usulkan melalui dana tanggap darurat. Tahun 2019 kami usulkan sebesar Rp6 miliar lebih," terangnya.

Kabupaten Tanbu juga menjadi salah satu kabupaten di Provinsi Kalsel yang paling rawan banjir. Dari 10 kecamatan, hampir semua pernah mengalami banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanbu menyebut kecamatan yang paling parah mengalami banjir setiap tahunnya adalah Kecamatan Kusan Hulu, Kusan Hilir dan Satui.

“Ketiga kecamatan itu memang rawan terjadinya musibah banjir. Tiap tahun musibah banjirnya parah sekali,” ujar Kepala BPBD Tanbu Eryanto Rais, kepada Radar Banjarmasin.

Musibah banjir terparah dialami warga yang bermukim di bantaran sungai. Maklum saja, ketiga kecamatan tersebut dialiri sungai satui dan sungai kusan.

“Biasanya kalau hujan deras tidak berhenti-berhenti, air sungai meluap dan menggenangi permukiman warga sekitar bantaran sungai. Hampir rata-rata yang bermukim dibantaran sungai terkena dampak yang parah. Begitu juga di Kecamatan Sungai Loban, hanya warga yang bermukim dipinggiran sungai saja yang mengalami musibah banjir,” papar Eryanto.

Sementara Kecamatan Angsana, Karang Bintang, Simpang Empat dan Kuranji, hanya banjir sebentar saja. “Banjirnya tidak begitu lama. Sementara di Kecamatan Batulicin, nyaris tidak pernah terjadi musibah banjir. Walaupun pernah tapi hanya menggenangi jalan saja,” jelasnya.

Eryanto pun mengungkapkan penyebab banjir di Kabupaten Tanah Bumbu. “Selain curah hujan yang sangat tinggi, penebangan pohon di hutan dan tambang batu bara juga bisa menjadi penyebab terjadinya banjir,” ujarnya.

Namun, menurutnya, pertambangan batu bara tidak menjadi penyebab utama terjadinya musibah banjir.

“Tambang batu bara tidak terlalu signifikan berpengaruh,” jelasnya. Untuk mengatasi persoalan banjir di Kabupaten Tanbu, Eryanto mengatakan perlu dilakukan normalisasi sungai, khususnya di daerah-daerah yang rawan banjir. “Kembalikan sungai ke fungsi aslinya,” tegasnya.

Selain musibah banjir, Tanah Bumbu juga berpotensi mengalami tanah longsor dan abrasi pantai. Beberapa hari lalu, tanah longsor terjadi di kilometer 79 Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe. “Di Kabupaten Tanbu, tanah longsor hanya terjadi di Kecamatan Mantewe saja. Yakni di km 79, km 81 dan km 82 Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe,” jelas Eryanto.

Abrasi pantai juga rutin dialami Kabupaten Tanbu setiap tahunnya. Menurut Eryanto, ada dua desa yang mengalami abrasi hebat di tahun 2019 lalu. Yakni Desa Setarap Kecamatan Satui dan Desa Sungai Dua Laut Kecamatan Sungai Loban.

Di Kabupaten Tanahlaut, Kepala BPBD Tala M Kusri mengatakan, pihaknya sekarang ini terus memantau debit air di daerah rawan banjir seperti kawasan Asam-Asam, Kecamatan Jorong, Kecamatan Kurau, Kecamatan Bati-Bati, Desa Panjaratan Kecamatan Pelaihari, dan beberapa wilayah di Kecamatan Kintap. "Masih melakukan pemantauan debit air," terangnya.

Sampai saat ini pihaknya belum mengeluarkan dana untuk antisipasi penanggulangan bencana. Pihaknya juga tidak membuat posko di titik rawan banjir. "Belum ada dana dikeluarkan, kami masih melakukan pemantauan debit air di lokasi kawasan rawan banjir," jelasnya.

Terkait latar belakang penyebab banjir di Tala, menurut Kusri, selain curah hujan cukup tinggi, juga adanya beberapa sungai mengalami pendangkalan akibat sedimentasi tanah yang turun ke sungai. Terkait tanah longsor, pihaknya tidak melakukan pemantauan secara spesifik seperti wilayah rawan banjir.

Sebab, berdasarkan pengalaman, longsor biasanya terjadi di kawasan mulut tambang manual, seperti tambang emas dan batu bara. “Dari pengalaman tidak ada longsor merugikan wilayah pemukiman,” katanya.

Sebagai daerah yang hampir dikelilingi sungai, di Batola juga tidak luput dari ancaman banjir. Beberapa wilayah Batola bahkan ada yang harus mengalami banjir setiap tahunnya. Seperti Kecamatan Kuripan, Tabukan, dan Bakumpai.

Tiga wi


BACA JUGA

Sabtu, 22 Februari 2020 17:13

Dewan Gali Raperda Perlindungan Hukum Tenaga Kerja

PARINGIN – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Balangan,…

Sabtu, 22 Februari 2020 14:00

Haru-Tawa, Forkopimda Sambut Kapolres HSU AKBP Pipit dan Lepas AKBP Ahmad Arif

AMUNTAI -- Acara kenal pamit berlangsung hari di halaman Polres…

Sabtu, 22 Februari 2020 12:00

Guru Zuhdi: Jangan Saling Menghina dan Mengganggu

MARTAPURA - Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor mengajak segenap…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:58

Akhirnya, Pilgub Tanpa Calon Perseorangan

BANJARMASIN – Pemilihan Gubernur Kalsel tahun ini, dipastikan tak ada…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:54

MALU-MALU..! Koalisi Pilgub Masih Abu-abu

BANJARMASIN - Meski sudah mencukupi syarat kursi di DPRD Kalsel,…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:51
HAUL ABAH GURU SEKUMPUL KE-15

Bersiap Sambut Dua Juta Umat, Siapkan RS Lapangan di Sekumpul

MARTAPURA – Haul Abah Guru Sekumpul agenda terbesar melibatkan lintas…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:46

Jalan Aida ke Senayan Terbuka

BANJARMASIN - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) telah mengumumkan sejumlah…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:35

MELELAHKAN..! Jalur Perseorangan Tertatih Kumpulkan Dukungan

KOTABARU - Bakal calon Bupati jalur perseorangan Kotabaru, Burhanudin, keteteran…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:33

Pasangan MK-ZA Mendaftar di Tanbu

BATULICIN - Pasangan Hj Mila Karmila dan Zainal Arifin (MK-ZA)…

Sabtu, 22 Februari 2020 11:30

Dari Tiktok, Ungkap Prostitusi Online Anak di Banjarbaru

BANJARBARU - Berawal dari video Tiktok yang viral tersebar di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers