MANAGED BY:
JUMAT
24 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 08 Januari 2020 14:33
Berkemah di Pinggir Sungai Batang Alai: Air Bah Tiba-Tiba Datang di Pagi yang Dingin
MENYEJUKKAN: Panorama alam di Tabur Pasir, Desa Nateh, sebelum dilanda air bah, pada Minggu (5/1) pekan lalu. Tampak seorang penduduk membawa ternaknya menyeberangi sungai yang jernih. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Gemar berwisata di kawasan pegunungan? Berhati-hatilah. Di musim penghujan, jangan coba-coba berkemah tepat di pinggir sungai. Air bah bisa datang tiba-tiba menerjang semuanya. 

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

Langit di kawasan Desa Nateh, membiru. Matahari pun bersinar terik pada Sabtu (4/1) pekan itu. Menghabiskan waktu akhir pekan di kawasan ini merupakan pilihan yang pas. Bukan tanpa alasan. Desa yang berjarak sekira 28 kilometer dari Barabai yang menjadi pusat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), itu menyuguhkan panorama alam yang memukau.

Deretan karst yang kekar menjulang tinggi, hingga aliran air Sungai Batang Alai yang dingin. Tempat yang nyaman untuk mencari ketenangan. Mengendarai kendaraan roda dua, penulis bersama seorang rekan pegiat wisata alam bebas, M Hudari, tiba di sebuah tanah lapang berpasir dan berbatu. Oleh penduduk Desa Nateh dinamai Tabur Pasir.

Dinamakan demikian, karena kawasan ini dulunya dijadikan sebagian penduduk sebagai tempat mengambil batu sungai dan pasir, untuk kemudian dijual. Selain penulis, beberapa saat kemudian, datang tiga orang rekan lainnya. Badru Alam, Heri Kurniawan dan Ahmad Fahmi. Ketiganya juga pegiat wisata alam bebas.

Tabur Pasir menjadi lokasi yang cukup strategis untuk mendirikan kemah. Tidak perlu repot berjalan kaki, karena kendaraan bisa langsung dibawa ke lokasi. Di samping tanah lapangnya, ada sungai yang berjeram, dengan berdinding karst. Dan tentu saja, hawa pegunungan yang sejuk.

Bersama Hudari, penulis mendirikan tenda dengan jarak lima belas meter dari sungai. Hal yang sama dilakukan oleh tiga rekan lainnya. Melihat cuaca yang cerah sore itu, maka tidak ada kekhawatiran bila mendirikan kemah berdekatan dengan sungai.

“Kalau air sungainya pasang, tidak sampai ke tenda ini kok, Bang. Aman. Paling, cuma sampai di bebatuan itu,” ucap Hudari meyakinkan. Dia juga mengaku kerap berkemah di kawasan itu. Memang, tidak ada tanda-tanda hujan bakal turun Sabtu (4/1) itu. Hingga sore hari, cuacanya begitu sangat bersahabat. Kecuali malam hari. Rembulan yang semula bersinar terang, kini dirubung awan hitam.

Tidak sampai di situ. Tepat di pertengahan malam, hujan gerimis pun mengguyur wilayah Tabur Pasir. Malam itu hujan turun dua kali. Tidak deras. Dan tidak memakan waktu lama. Hanya sekira 10 hingga 15 menit.

Semalam suntuk, penulis bersama tiga rekan lainnya hanya bisa meringkuk, bercengkrama, sembari menyeruput bergelas-gelas kopi. Sesekali, alat penerangan berupa senter diarahkan ke sungai, memantau debit air, apakah bakal naik atau tidak.

Menjelang waktu subuh, tidak ada tanda-tanda air meninggi atau terjadi bah. Namun, semuanya berubah, tepat pukul tujuh pagi. “Air bah Bang, cepat keluar dari tenda,” ucap Badru, sembari menepuk-nepuk tenda.  Penulis tersentak kaget. Membuka tenda, air sungai sudah meluap hingga mendekati posisi tenda. Jaraknya air hanya sekira lima sentimeter dari sisi tenda.

Air sungai, di Minggu (5/1) pagi yang murung, itu berubah warna menjadi kecokelatan. Selain debit air yang naik, arusnya juga cukup deras. Tampak potongan pohon yang sudah lapuk dan berbagai ukuran, terombang ambing di sungai. Kemudian hanyut.

Bersama-sama rekan lainnya, penulis bergegas mengepak tenda. Mengumpulkan properti yang kami bawa untuk berkemah, kemudian berpindah ke tempat yang lebih tinggi. Tentu saja, agar aman dari luapan dan terjangan air bah yang datang. Kami benar-benar keliru dan salah menebak. Rupanya, di kawasan pegunungan sudah lebih dulu turun hujan yang cukup deras malam itu, hingga paginya mengantarkan air ke tempat kami berkemah.

Pada 31 Desember 2019 lalu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Hulu Sungai Tengah (BPBD HST), Budi Haryanto, sudah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat di Kabupaten HST. Untuk lebih waspada terhadap luapan air, mengingat intensitas curah hujan yang cukup meningkat. “Terlebih, masyarakat yang tinggal di kawasan bantaran sungai,” ucapnya.

Usai mengepak barang penulis mengecek kembali barang bawaan. Ternyata, tidak semuanya berhasil diselamatkan. Badru Alam, mengatakan bahwa alat memasak, bank daya, dan sebuah senter lenyap digerus air bah. “Mungkin, umurnya sudah sampai,” ucap Badru, kemudian tertawa.

Ahmad Fahmi, yang masih mengarahkan pandangannya ke tempat awal kami berkemah, tiba-tiba angkat suara. Dia mengatakan, bahwa tasnya sempat hanyut. Beruntung, masih bisa diselamatkan.

“Gara-gara terlalu asyik menyelamatkan motor, Bang. Tahu-tahu, air sudah setinggi jok motor saya,” ucap Fahmi yang memarkirkan sepeda motornya tepat di pinggir sungai itu.

Arus air benar-benar tenang, dan debitnya kembali turun sekira pukul 12 siang. Pada Minggu (5/1) yang masih saja tampak murung itu. Penasaran apakah air bah juga sampai menerjang kawasan permukiman, penulis bersama rekan-rekan menyusuri kawasan aliran sungai.

Beruntung, yang dikhawatirkan tidak terjadi. Air bah hanya mengubah warna air sungai yang semula bening menjadi kecokelatan. Dan tentunya memberikan penulis sebuah pengalaman yang setidaknya bisa dibagikan kepada para pembaca. Bahwa tidak sepatutnya, kita meremehkan kondisi alam. (war/ema)

KECOKELATAN: Selain debit air yang meninggi, arus yang deras, warna air pun berubah menjadi kecokelatan ketika terjadi bah. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

KECOKELATAN: Selain debit air yang meninggi, arus yang deras, warna air pun berubah menjadi kecokelatan ketika terjadi bah. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

loading...

BACA JUGA

Kamis, 23 Januari 2020 10:26

Prahara Penanganan Fenomena Remaja Ngelem di Kota Idaman

Bukan tergolong narkoba. Tapi efeknya sangat berbahaya. Lem bak primadona.…

Kamis, 23 Januari 2020 09:31

Mengenal Lebih Dekat Organisasi Bikers Brotherhood 1% MC Chapter Banjarbaru

Klub, komunitas atau organisasi penggeber roda dua di Banua terus…

Senin, 20 Januari 2020 07:56

Kopdar Bareng Komunitas Youtuber Borneo: Jadi Wadah Belajar dan Bermain

Berangkat dari siring Patung Bekantan, kemarin (19/1) pagi, sebanyak 40…

Jumat, 17 Januari 2020 11:48

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Kalau super car Lamborghini melesat di jalan tol, mungkin sudah…

Jumat, 17 Januari 2020 11:41

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pemerintah mulai kewalahan dengan ulah para peretas. Mereka menyerang situs-situs…

Kamis, 16 Januari 2020 10:05

Upaya Pengendalian Banjir di Cempaka: Warga Masih Tak Rela Penataan Menghapus Kenangan

Hujan memang kerap dijadikan alasan. Namun terlepas dari faktor alam.…

Kamis, 16 Januari 2020 09:57

SDN 4 Haruyan Dayak, Sekolah dengan Medan Terjal di Hunjur Meratus

Harapan masyarakat Desa Haruyan Dayak, akhirnya terwujud. Fasilitas pendidikan bertambah.…

Rabu, 15 Januari 2020 11:50

Hanya Coba-coba, Eh Berhasil, Ternyata Lahan Eks Tambang Bisa Dimanfaatkan

Bagi sebagian orang lahan eks tambang sulit untuk dimanfaatkan. Tapi,…

Minggu, 12 Januari 2020 10:58

TYPO BIKIN HEBOH..! Kepala Desa Salah Ketik Volume Air, Ratusan Pelajar Dievakuasi

Agar informasi bisa langsung tersampaikan, kecepatan mungkin adalah kunci. Namun,…

Minggu, 12 Januari 2020 10:38

Bangga Disebut Anak Banua, Dari TNI AU Terbang ke Dunia Entertainment

Setelah sukses dengan single pertamanya 'Ingin Bersamamu' pada tahun 2017…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers