MANAGED BY:
MINGGU
23 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 16 Januari 2020 10:05
Upaya Pengendalian Banjir di Cempaka: Warga Masih Tak Rela Penataan Menghapus Kenangan
RUMAH DI ATAS SUNGAI: Aliran sungai di kawasan pemukiman di Kertak Baru Kelurahan Cempaka mengalami penyempitan dan pendangkalan. Pemko Banjarbaru berencana melakukan pelebaran dalam upaya pengendalian banjir, namun program ini terkendala karena keberadaan beberapa rumah warga yang berdiri di bantaran sungai. | Foto: Muhammad Rivani/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Hujan memang kerap dijadikan alasan. Namun terlepas dari faktor alam. Kesiapan infrastruktur dan penataan ruang di wilayah rawan patut dilihat ulang.

-----------------

Cempaka. Perkampungan tua di pinggiran kota sering dilibas luapan air. Bahkan cukup rutin. Di awal tahun tadi, 2.517 jiwa terdampak. Total 19 RT di dua kelurahan di Kecamatan Cempaka setidaknya tergenang. Meski tidak memakan korban jiwa, tapi banjir ini tentu menjadi polemik nyata.

Disebut ada beberapa faktor penyebab banjir. Mulai dari berubahnya fungsi resapan air di bagian hulu, lalu dangkalnya sungai karena sedimentasi hingga adanya penyempitan sungai di kawasan padat penduduk.

Ya, salah satu kawasan terdampak parah ada di titik padat pemukiman. Misalnya wilayah Kertak Baru dan Los Basung. Di Kertak Baru sungai sudah sangat sempit dan dangkal. Mengingat di bantarannya berdiri pemukiman milik warga. Bahkan ada tiang pondasi rumah warga yang berdiri di badan sungai. Yang terparah, beberapa bagian rumah warga juga berada di atas sungai. Alhasil fungsi aliran sungai terhambat.

Dari pantauan Radar Banjarmasin di Kertak Baru. Pemukiman sudah sangat berdempetan dengan aliran sungai. Sungai juga terpantau sangat dangkal. Paling hanya setinggi pinggang orang dewasa. Sampah juga terlihat menumpuk atau nyangkut di tiang-tiang rumah.

Pemerintah Kota Banjarbaru berencana melakukan pelebaran terhadap sungai ini. Juga bakal dinormalisasi. Hanya saja, kendalanya pelebaran terhambat pemukiman milik warga di bantaran.

Kepala Dinas Pertamanan dan Pemukiman (Disperkim) Banjarbaru, Muriyani mengatakan bahwa pihaknya memang ingin melakukan penataan tersebut. Tapi ia berharap bahwa masyarakat bisa bekerja sama akan hal tersebut.

"Di tahun 2019 sudah dipetakan, karena memang kawasan ini rawan potensi banjir. Karena ada pemukiman di bantaran sungai dan membuat sungai menyempit, nah kita ingin memperbaiki dan mengatasi ini," katanya.

Hanya saja, untuk ini kata Muriyani perlu sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat. Lantaran pelebaran otomatis akan berdampak terhadap pemukiman warga.

"Makanya kita berharap bisa kooperatif. Kita pada prinsipnya siap untuk pembebasan dengan konsep tali asih namun secara bertahap. Tapi kita berharap juga biaya ganti ruginya dalam konteks wajar, karena anggaran kita juga terbatas," bebernya.

Lalu dari sisi pembangunan infrastruktur. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarbaru menyebut jika memang ada program normalisasi sekaligus pelebaran ini. Karena ini disebut juga jadi salah satu penyebab luapan selama ini.

"Sungai yang ada lebarnya paling 1-2 meter. Nah kita ingin selebar-lebarnya agar aliran air bisa lancar meski debitnya tinggi sehingga tidak meluber ke pemukiman. Ini juga terus kita godok, rencana tahun ini juga (pelebaran)," kata Kabid Sumber Daya Air (SDA), Subrianto.

Ditegaskan Subrianto, bahwa sungai tersebut harus bebas dari segala macam halangan. Khususnya di beberapa titik yang terjadi penyempitan dan pendangkalan.

"Memang di program penanganan banjir ini kita sudah ada embung untuk membantu menampung. Tapi memang kondisi sungai juga penting. Jadi di tahun ini kita akan normalisasi sungai dan mengeruk embung juga," katanya.

Menurutnya, pihaknya telah menganggarkan sekitar Rp600 juta dalam hal upaya pengendalian banjir di Cempaka. Khususnya daerah rawan. "Untuk normalisasi sungai dianggarkan Rp200 juta, untuk (pengerukan) embung Rp400 juta."

Sementara itu, Ketua RT 23 RW 008, Ahmad Sayuti di Kertak Baru Cempaka yang wilayahnya terdampak juga mengutarakan harapannya. Meski terkesan sudah biasa berkutat dengan banjir, namun katanya ia sendiri dan warganya berharap wilayahnya tak banjir lagi.

"Tentu saya berharap tidak ada banjir lagi. Kemarin cukup parah, ini beberapa perabotan rumah belum rapi dibersihkan. Kalau soal itu (pelebaran sungai), saya sepakat saja," katanya.

Hanya saja, meski telah mengetahui rencana ini. Ia berucap tak dapat menggaransi semua warga bisa sepakat. Apalagi katanya tak sedikit warga yang rumahnya langsung berdempetan dengan aliran sungai.

"Kalau secara umumnya mungkin warga setuju saja jika ada pelebaran. Tapi bila rumahnya dipotong atau bahkan dibebaskan, nah mungkin ini berat bagi warga di sini, soalnya sudah berdiam lama sekali di sini," ceritanya.

Ia sendiri sadar bahwa sungai yang sempit dan dangkal memicu banjir cepat meluap. Apalagi rumahnya langsung membelakangi bibir sungai. Namun apa mau dikata, rumah-rumah ini katanya sudah dari dulu telah berdiri.

"Untuk kondisinya bermacam-macam. Ada yang pondasinya saja di bagian sungai, ada yang dapurnya, ada yang separo masuk sungai, ada juga yang rumahnya menyeberangi sungai. Karena memang rapat sekali," katanya yang membawahi sekitar 100 KK ini.

Sebelum banjir melanda, pihak warga katanya sudah melakukan pelebaran di sungai. Namun hanya seadanya dengan peralatan manual. "Ternyata juga tidak cukup, masih saja meluap."

Beralih ke warga yang bermukim di pinggiran sungai. Dinarsih, warga RT 8 RW 003 Kelurahan Cempaka di Kertak Baru mengutarakan kejujurannya. Menurutnya, jika pelebaran harus memotong bagian rumah apalagi sampai digusur, ia sangat keberatan.

"Asal jangan dipotong, misalnya diakalin saja agar bangunan rumah tetap seperti ini. Terkait semisal ada ganti rugi, Wallahu alam ya. Kalau mau direlokasi, saya mohon maaf sepertinya tidak bisa, tapi kalau mau melebarkannya saya setuju saja agar tidak banjir lagi," kisahnya yang bagian teras rumahnya masuk ke aliran sungai.

Senada, Adaniah, warga RT 23 RW 008 yang rumahnya masih satu kawasan dengan Dinarsih berpandangan tak jauh beda. Dikisahkannya bahwa rumah yang ditinggali sekarang merupakan warisan orang tuanya. Bahkan ia telah berpuluh-puluh tahun tinggal di rumahnya meski disadari bahwa salah satu sudut bangunan rumah memang mengenai badan sungai.

"Yang masuk sungai kan tiang pondasi sama bagian dapur dan WC. Nah kalau itu dirubah saya tidak apa-apa, cuman jika dihancur sangat keberatan. Ini rumah orang tua dari kecil, sayang sekali," jujurnya.

Ia sendiri berharap bahwa ada jalan keluar. Yang mana pelebaran bisa dilakukan namun tidak merugikan warga. "Sebaiknya ada musyawarah kalau memang rencana ini bakal dilakukan," ucapnya.

Penanganan dan pengendalian banjir di Cempaka memang tergolong dilematis. Satu sisi pemerintah ingin menata, namun warga tak sedikit yang tak rela. Apabila pelebaran merenggut bangunan rumahnya.

Kota Banjarbaru tentu selalu tumbuh dan berkembang. Meski di tengah pertumbuhannya itu, sulit bisa lepas dari ancaman banjir. Apalagi berbenturan dengan kultur masyarakat dan pemukiman yang padat di wilayah rawan. (rvn/by/bin/ema)


BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 12:23

Selebgram Jelajahi Tempat-tempat Wisata di Kalimantan; Kemana-mana Naik Roda Dua, Ditimpuk Batu Saat Melintasi Jalan Sunyi

Peraih gelar Putri Pariwisata Favorit Palangkaraya Tahun 2018, Hana Pira…

Selasa, 18 Februari 2020 10:43

Cetak Pemuda Berakhlak Demi Tangkal Radikalisme

Suasana Alam Roh, Kiram Park, kemarin (17/2) ramai sekali. Banyak…

Senin, 17 Februari 2020 11:02

Mengenal Legislator yang Suka Menulis: Sebagai Pedoman Sesama Anggota Dewan

Salah satu tugas anggota DPRD adalah membuat peraturan daerah. Apapun…

Minggu, 16 Februari 2020 06:58

Kalsel Bakal Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Semoga ini bisa menjadi solusi, agar sistem kelistrikan di Banua…

Sabtu, 15 Februari 2020 10:11

Perjalanan Biker Sirath Touring Borneo Lintas Tiga Negara

Hasrat mencapai puncak Pulau Kalimantan menggunakan sepeda motor akhirnya tercapai.…

Kamis, 13 Februari 2020 12:00

Gaduk, Minuman Oplosan yang Kebal Regulasi: Bisa Bikin Mati Mendadak, Tengah Malam Bisa Jual Lebih Mahal

Fungsinya sudah jelas. Alkohol tunggal dengan kadar mencapai 95% bukan…

Kamis, 13 Februari 2020 10:35

Biker Banua Terkesan Kemulusan Aspal Negeri Jiran

Perjalanan tiga anggota Biker Sirath dari Banjarmasin menuju Tip of…

Rabu, 12 Februari 2020 12:27

Nasib Bendungan Pipitak Jaya yang Direncanakan Bakal Tanggulangi Banjir Tapin

Dikerjakan sejak tahun 2015 silam. Bendungan Pipitak Jaya, yang terletak…

Selasa, 11 Februari 2020 11:36

Pamer Buah-Buah Langka, Ada Buah yang Tidak Bisa Diperjualbelikan

Marajai, desa yang terletak di lereng pegunungan Meratus ini, menunjukkan…

Minggu, 09 Februari 2020 10:08

Kebakaran Beruntun 4 Gedung Sekolah di HST: Curiga Disengaja, Datangkan Tim Ahli Forensik dari Surabaya

Kebakaran yang menghanguskan gedung sekolah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers