MANAGED BY:
SELASA
25 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Sabtu, 18 Januari 2020 09:52
Subsidi LPG Belum Dicabut Saja Sudah Berat, Apalagi Dicabut..!!
BIKIN SUSAH RAKYAT: Kebijakan pencabutan subsidi gas LPG dirasakan berat oleh masyarakat.

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Kabar pemerintah mengubah skema subsidi gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 Kg di pertengahan tahun nanti, sudah membuat pedagang makanan resah. Bahkan, beberapa pedagang sudah berencana menaikkan harga.

“Kabar ini sudah saya dengar sepekan lalu. Katanya tak lagi disubsidi pemerintah, sehingga harganya bisa mencapai Rp30 ribu lebih,” ujar acil Sanah, pedagang gorengan di Banjarmasin kemarin.

Dia pun dilema, mau meninggalkan gas melon ini, menggantinya dengan minyak tanah. Tapi minyak tanah sendiri sudah sangat langka di masyarakat. Bahkan hampir tak ada lagi.

“Kalau nanti harganya naik, otomatis harga jualan saya pun akan naik juga,” tukasnya.

Dalam sepekan, paling tidak Sanah menghabiskan sekitar 4 tabung. Itu pun sudah diirit. Untuk beli gas elpiji 5,5 Kg (bright gas) apalagi elpiji yang isi 12 Kg, Sanah mengaku agak berat.

“Jualan saya kecil-kecilan. Nyarinya saja kadang susah, belum lagi kalau harganya naik. Bisa-bisa saya gulung tikar,” ucapnya.

Seperti diketahui, harga eceran tertinggi (HET) gas melon hanya Rp17.500 per 3 Kg. Namun, harga ini sangat jarang ditemukan ditingkat pengecer. Kadang harganya bisa sampai Rp25-40 ribu. Sanah khawatir, jika tak lagi disubsidi pemerintah, harganya bisa saja akan semakin melambung tinggi.

“Yang disubsidi saja, harganya bisa melebihi harga tertinggi. Bagaimana jika subsidi dicabut. Bisa semakin mahal,” ujarnya.

Hal senada dituturkan Purwanto, pedagang pentol di Banjarmasin. Menurutnya, jika harga gas melon ini tak lagi disubsidi, dia memastikan harga dagangannya pun ikut naik.

“Kalau tak naik, paling tidak bahan baku yang akan dikurangi dari biasanya,” ucapnya.

Mengurangi bahan baku sebutnya, ditakutkan akan membuat kualitas dagangannya menurun. Sementara, jika menaikan harga, para pembeli pun akan berpikir dua kali membeli. “Dilematis bagi saya. Mudah-mudahan wacana ini dibatalkan,” harapnya.

Keresahan juga terlihat dari wajah Bagong, pedagang bakso keliling di Banjarmasin. Menurutnya, di saat sekarang ekonomi yang tak stabil, sungguh tak tepat menghapus subsidi elpiji 3 Kg. Dia blak-blakan, yang harusnya ditindak pemerintah sebutnya adalah masyarakat yang berduit namun tetap membeli gas melon ini tanpa rasa malu.

Dia membandingkan, penghasilan dirinya yang paling banter Rp150-200 ribu per hari sangat jauh berbeda dengan para pegawai yang memiliki gaji jutaan Rupiah per bulan. Namun, mereka tetap memakai elpiji 3 Kg.

“Kalau subsidi dihapus, kasihan kami. Saat ini saja kadang susah dicari. Jika ada pun, harganya bisa sampai Rp20 ribu lebih,” keluhnya.

Sementara, Noor Laila pedagang nasi kuning tak bisa berbuat banyak jika subsidi gas melon ditarik. Dia sudah berencana menggantinya dengan bright gas dalam waktu dekat. “Mau bagaimana lagi. Kadang sudah juga mencarinya,” ujarnya.

Ketua Hiswana Migas Kalsel, Saibani mengaku, pihaknya sebagai mitra hanya bisa mengikuti jika kebijakan ini dijalankan. Namun, pihaknya berharap. Masih banyaknya masyarakat yang tak mampu, akan tetap ada alokasi dana untuk subsidi gas melon ini.

Dikatakannya, harga normal (non subsidi) gas epiji per kilogramnya berkisar Rp11 ribu sampai Rp12 ribu. Nah, jika tak lagi disubsidi, harga untuk gas elpiji tabung 3 Kg, artinya mencapai Rp33 ribu. Atau mengalami kenaikan Rp15.500 dari HET sekarang Rp17.500 per 3 Kg.

“Kami menyarankan, mantapkan dulu mekanismenya dan jangan buru-buru. Karena tak semua masyarakat mampu,” ujar Saibani kemarin.

Sementara, Heppy Wulansari, Manager Region Communication Relation dan CSR Kalimantan mengatakan, subsidi gas melon bukan dicabut. Namun distribusinya akan tertutup agar tepat sasaran.

“Untuk mekanisme dan sistemnya, kami juga masih menunggu dari pemerintah. Yang pasti nanti hanya rakyat miskin yang diharapkan mendapatkan subsidi LPG 3 Kg ini,” ujarnya. (mof/by/bin)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers