MANAGED BY:
KAMIS
27 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 26 Januari 2020 08:24
Tenun Pagatan di Desa Manurung Kusan Hilir, Dipesan Orang Luar Negeri, Biaya Kirim Sampai Rp4 Juta
PROSES PEMBUATAN : Proses pembuatan tenun pagatan menggunakan alat tenun tradisional di Desa Manurung. (kanan) Tenun pagatan juga bisa dirajut menjadi tas yang cantik. | FOTO: KARYONO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Selain penghasil ikan, Kecamatan Kusan Hilir juga dikenal sebagai daerah pengrajin Tenun Pagatan. Salah satu yang paling terkenal dengan kerajinan ini ada di Desa Manurung.

-- Oleh: KARYONO, Pagatan --

TENUN Pagatan sudah dikenal luas. Kain kerajinan berasal dari Kabupaten Tanah Bumbu ini sudah tersohor indah di luar kabupaten. Bahkan, namanya sudah dikenal sampai luar negeri. Seperti negara Singapura dan Thailand.

Setidaknya inilah yang dikatakan Abdul Ajis (52), pengrajin yang mengaku pernah menjual kain tenun olahannya ke dua negara tersebut melalui internet (online).

“Biaya kirimnya memang cukup besar. Mulai Rp1 juta hingga Rp4 juta,” ujar Abdul Azis, kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Abdul Azis merupakan pengrajin kain tenun di Usaha Tenun Pagatan Salmah yang lokasinya berada di Desa Manurung Kecamatan Kusan Hilir. Usaha ini dibuka Ibu Salmah (67), sejak puluhan tahun lalu, yang meneruskan usaha orang tuanya.

“Usaha ini mulai digeluti orang tua saya sejak saya sekolah SD dulu. Saya cuma meneruskan saja. Bisa dikatakan usaha turun temurunlah,” kata Salmah.

Di usaha miliknya itu, Salmah menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) untuk mengolah kain tenun. Dengan alat ini, katanya proses pembuatan tenun bisa menjadi lebih cepat.

“Alat ini mulai berkembang sejak tahun 2010. Dalam satu hari bisa menghasilkan kain tenun ukuran 1.3 x 2.2 meter. Semua motif bisa selesai dalam satu hari,” terangnya.

Sementara itu, proses sebelum kain ditenun ada 14 tahapan. Seperti dipaparkan Abdul Azis, tahapannya mulai dari pengulangan benang, nyekkir benang, pembikinan bum, ngeteng benang dan memotif. Kemudian mengikat bengang, merendam benang, pewarnaan sampai dengan pencucian habis pewarnaan. Selanjutnya penjemuran pakaian, pelepasan tali ikatan motif,bongkar pakaian, pemaletan benang atau menggulung benang dan persiapan penenunan.


Selain kain tenun ATBM, Usaha Tenun Pagatan Salmah juga bisa menghasilkan kein tenun geddok. Proses pembuatan kain ini lumayan panjang, bisa sampai 15 hari. “Untuk pembuatan kain tenun geddok ini menggunakan benang sutra. Lebar kain 40 cm dan panjang 4 meter,” ucap Abdul Azis.

Usaha Tenun Pagatan Salmah mempekerjakan 12 orang, semua warga Desa Manurung. Hebatnya mereka juga melakukan pembinaan kepada anak-anak putus sekolah. Ada sekitar 8 orang yang rata-rata berusia 16 tahun yang bekerja di sana.

“Kami memang sengaja ikut memberdayakan anak-anak putus sekolah, daripada salah pergaulan lebh baik saya bina. Alhamdulillah mereka sudah banyak menghasilkan kain tenun ATBM,” paparnya.

Hasil tenun olahan anak-anak putus sekolah ini juga sudah mulai dipasarkan. Baik melalui online maupun dipasarkan langsung ke pelanggan.

“Kalau online kami sudah memasarkan sampai ke Surabaya, Bandung, Kaltim dan daerah lainnya di Indonesia. Prospeknya cukup bagus, bahkan saya pernah mereka orderan dari Singapura dan Thailand. Alhamdulillah mereka puas dengan hasil kerja kami,” kata Abdul Azis.

“Cuma ongkos kirimnya yang mahal, untuk 3 potong kain Rp1.5 juta dan 8 potong kain sekitar Rp4 juta,” imbuhnya.

Selain online, Usaha Tenun Pagatan Salmah juga menjual kain tenun langsung. Galeri mereka ada di Banjarmasin, Batulicin dan daerah lain di Kalsel. Meski usaha ini cukup maju, namun mereka masih terbentur modal.“Kalau modal banyak bisa dijual kemana-mana,” ujarnya.

Dalam satu bulan, Usaha Tenun Pagatan Salmah bisa menjual kain tenun ATBM sebanyak 150 potong dan kain geddok bs 10 potong. Harga jual bervariasi. Untuk kain ATBM dijual Rp200 ribu sampai Rp400 ribu, sementara kain tenun geddok mulai Rp800 ribu sampai Rp3.5 juta.

“Alhamdulillah dalam satu bulan omzet kami bisa mencapai Rp15 jutaan, dipotong biaya produksi dan gaji karyawan sisanya sekitar Rp6 juta bersih,” sebutnya seraya mengatakan mendekati acara puncak pesta laut Mappanretasi yang dilaksanakan pada bulan April 2020 mendatang, pesanan kain Pagatan akan meningkat.

Sementara itu, Kepala Desa Manurung Rusliyadi menyambut positif keberadaan pengrajin kain tenun pagatan di desanya. “Alhamdulillah bagus dan berpotensi meningkatkan perekonomian warga desa,” ujarnya.

Keberadaan pengrajin tenun pagatan ini kata Rusliyadi membantu mengurangi jumlah pengangguran." Mereka mempekerjakan pemuda yang putus sekolah. Mereka dilatih hingga bisa membuat tenun pagatan sendiri,” jelasnya.

Dia berharap, kedepannya Pemkab Tanbu bisa membantu permodalan, mengingat potensi kerajinan tenun pagatan ini cukup menjanjikan.“Kami berharap pemerintah daerah bisa memberikan bantuan permodalan untuk mereka, mengingat biaya produksi yang mereka keluarkan cukup besar,” pungkas Rusliyadi. (kry/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers