MANAGED BY:
SABTU
06 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 28 Januari 2020 10:48
Geliat Pasar Subuh Amuntai, Jago Nawar Bisa Bawa Pulang Berbagai Anyaman
NEGOSIASI: Pedagang dan pengepul kerajinan saat tawar menawar di Pasar Subuh Amuntai dengan sistem kodi atau partai. | FOTO: AKBAR/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Pasar Subuh Amuntai hanya buka maksimal 4 jam pada hari Kamis setiap pekan. Aneka produk rumah tangga tersedia di pasar ini. Tawar menawar hal sangat lumrah di pasar ini.

-- Foto: MUHAMMAD AKBAR, Amuntai --

SELEPAS Salat Subuh, sekitar pukul 05:30 Wita pagi geliat Pasar Subuh Amuntai sudah mulai terasa. Hiruk pikuk aktivitas jual beli anyaman di pasar tersebut berlangsung.

Diketahui pasar yang berada di Jalan Basuki Rahmat Kecamatan Amuntai Tengah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) tersebut, merupakan salah satu pasar tertua di wilayah ini.

Bukanya hanya hitungan jam yakni subuh jam 5 sampai 9 pagi. Diharapkan pembelian yang ingin menuju ke pasar ini tidak melebihi waktu tersebut. Sebab bisa kehilangan jejak pasar subuh itu sendiri.

Adapun jualan kerajinan yang dijajakan yakni tikar purun, lampit, lukah (alat perangkap ikan,red) anyaman kerajinan piring lidi atau rotan termasuk yang kekinian tas keranjang plastik belanjaan aneka warna sampai sapu ijuk.

Pedagang yang berjualan di lokasi ini mengaku sudah berjualan sekitar 30 tahunan. Padahal waktu itu usianya masih belasan. "Mungkin sudah puluhan tahun pasar ini. Bahkan sejak kecil sudah ada," kata H Jai salah satu pedagang di pasar tersebut baru-baru ini.

Dari pasar ini juga jangan harap menemukan lapak seperti di pasar umum. Mereka melapak menggunakan trotoar dan sebagian jalan. Bahkan ada yang berjualan di atas pikap. Sehingga memudahkan memindahkan barang atau mengangkut kembali bila tak berhasil terjual.

"Bukan tak laku. Laku tapi tidak semua barang yang kami bawa terjual semuanya. Hanya sebagian. Namanya saja berjualan," ungkap Jai.

Di pasar ini, pembeli dapat bernegosiasi atau tawar menawar sampai harga kedua belah pihak cocok. Untuk lampit ukuran 150x100 cm dijual dengan harga kisaran Rp 150 ribu. Bila jago menawar dipastikan pengunjung pasar ini membeli di bawah harga tersebut.

"Banyak tipikal pembeli mulai yang jago nawar. Ada yang tanpa nawar langsung membungkus produk anyaman yang diminati," ungkapnya.

Pedagang yang berasal dari Kecamatan Amuntai Selatan tepatnya di Desa Sungai Banar ini mengaku hasil kerajinan di pasar ini beredar di hampir wilayah Kalimantan.

Bila tidak jualan di sini sambungnya kerajinan dibawa ke luar daerah diantaranya ke Batu Kajang dan Penajam Paser Provinsi Kaltim. Begitu perputaran kerajinan ini.

Salah satu pengunjung Imah asal Provinsi Kaltim mengatakan datang ke HSU untuk liburan. Di Amuntai ia menginap di tempat keluarga. Dirinya kaget ketika mendengar harga kerajinan yang ada di pasar tersebut.

Seperti misalnya Kipas sate dijual Rp 5000 per lembar. Tikar purun seharga Rp20 ribuan. Ambil kodi isi 12 lembar dijual Rp200 ribu terhitung sangat murah. Sebab di daerahnya bisa mahal lagi.

"Harganya jauh lebih murah. Makanya saya kaget. Mumpung di sini, jadi beli banyak," singkatnya. (*/mat/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers