MANAGED BY:
KAMIS
27 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 29 Januari 2020 12:13
Bertemu Setelah 30 Tahun Kehilangan Anaknya di Arab, Tangis Siti Aisyah Pecah

30 Tahun Titip Foto kepada Jemaah Umrah

BERSAMA SANG IBU: Mohammed Adnan Awadh bersama ibunya Siti Aisyah memperlihatkan foto-foto waktu mereka masih bersama di Arab Saudi. | Foto: Rasidi Fadli/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Seorang ibu di Kecamatan Tapin terpisah dengan anaknya selama 30 tahun dengan anaknya di Arab Saudi. Radar Banjarmasin merekam momen-momen dramatis cerita pertemuannya dengan anaknya.

-- Oleh: RASIDI FADLI, Rantau --

Minggu (26/1) dini hari, keheningan malam pecah oleh tangis di Puri Casabalanca Jakarta. Mohammed Adnan Awadh, warga Negara Arab Saudi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat bertemu ibunya, Siti Aisyah, warga Jalam Hakim Samad Desa Kepayang Rt 02 Kecamatan Tapin Tengah.

Pertemuan dua orang sedarah ini berkat kerja keras tim relawan pencari dari Martapura dengan salah satu staf KJRI Jeddah Muhammad Hatta Zainuddin. Saat itu Zainuddin menghubungi adiknya di Martapura, Abdul Malik. Melalui Whatsapp, dia menyuruh untuk mencari orang.

"Waktu itu kami hanya dikasih fotokopi pasport keluaran kantor Imigrasi Banjarmasin tahun 1986 dengan nomor A241424," ucap Abdul Malik membuka cerita kepada Radar Banjarmasin.

Pencarian pun dilakuan. 20 Januari 2020 tadi tim di Kalsel mencoba untuk ke Kabupaten Tapin. Berbekal pasport tersebut yang beralamat di Desa Sungai Rutas, satu persatu rumah warga pun didatangi. "Kebanyakan mereka tidak mengetahui," bebernya.

Alih-alih dapat, warga kampung yang curiga bahkan mengira mereka pengumpul tenaga kerja Indonesia (TKI) illegal. Hal ini memang sering terjadi karena desa-desa di Tapin banyak yang warganya menjadi TKI melalui jalur tak resmi.

Namun, mereka tak putus asa. Pencarian pun terus berlanjut. Hingga sampai ke Desa Kepayang Kecamatan Tapin Tengah. Di sana mereka bertemu seorang pria tua yang mengaku mengenal foto yang berada di dokumen itu. "Ternyata ia mengetahui dan langsung mengantarkan kami ke rumah orang yang ada di pasport tersebut," ucapnya.

Setelah bertemu orang yang ada di pasport tersebut, Abdul Malik langsung mengirimkan pesan itu kepada kakaknya. Saat itu, dia belum mengetahui bahwa dia dalam misi mempertemukan anak dan ibu. Dia hanya disuruh mencari orang di pasport. Dia tidak tahu untuk keperluan apa. Begitu dikabari kakaknya, dia segera memprioritaskan untuk bertemu.

"Tiga hari kemudian, saya bersama tim langsung ke sana untuk menanyakan kepada ibu Siti Aisyah," kata pria berkacamata ini. Siti Aisyah ternyata selama 30 tahun berusaha untuk mencari anak kandungnya. Hasil pernikahannya dengan warga negara Arab Saudi, almarhum Mohammed Hamid Awadh.

Sang ibu kaget dan tak menyangka akhirnya ada kabar dari anaknya setelah 30 tahun berpisah. Siti Aisyah menceritakan bahwa sejak tahun 1985 ia menikah dengan bapak Adnan di desanya. "Waktu itu kebetulan dikenalkan oleh teman," kata wanita yang sekarang berumur 58 tahun.

Setelah menikah, suaminya membawa Siti Aisyah untuk pergi ke Arab Saudi menggunakan Visa Umroh. Tiga tahun di sana, mereka sudah dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun, visa Siti Aisyah harus diperpanjang.

"Saat Adnan berumur lebih dari 1 tahun saya pulang ke Indonesia untuk memperbaiki izin tinggal untuk mendapatkan iqomah melalui panggilan suami," katanya.

Namun, sambil menunggu proses visa, ia mendapat kabar melalui sebuah surat bahwa suaminya meninggal dunia, karena kecelakaan di Jeddah saat hendak ke Indonesia. "Waktu itu saya tidak percaya. Langsung saya telepon teman yang ada di Arab Saudi, ternyata memang benar," katanya.

Kesedihan mendalam pun dialaminya. Tak sampai di situ, ia kemudian mencoba untuk bertemu mencari kabar tentang keberadaan anaknya. Ternyata sang anak sudah dirawat oleh kakak tiri sang suami.

"Waktu itu sulit untuk berkomunikasi, membuat komunikasi kami terputus," tuturnya.

Segenap upaya pun dilakukan untuk mencari kabar anaknya, termasuk meminta bantuan kepada teman yang berangkat haji dan umroh. Hingga 2018 tadi, ia masih berusaha menitip pesan kepada tetangga-tetangga dan warga desa yang berangkat umroh. "Tapi memang sulit, Karena alamat yang saya datangi tidak ada lagi," jelasnya.

Dia mengaku terus berdoa untuk bisa bertemu anaknya. Waktu berlalu, doanya akhirnya dikabulkan Tuhan. Berkat usaha Abdul Malik yang tak berhenti mencari, dia akhirnya memiliki harapan untuk bisa bertemu anaknya.

Setelah bertemu dengan Siti Aisyah, Malik pun menghubungi kakaknya untuk mengatur pertemuan. "Disepakati pertemuan di Jakarta, tanggal 26 Januari tadi. Saya membawa Siti Aisyah dan kakak saya membawa Mohammed Adnan Awadh," katanya.

Jelang pertemuan, Siti Aisyah tidak bisa makan. Selama 30 tahun memendam rindu, perasaannya campur aduk. Dia membayangkan anaknya dan terbetik juga rasa takut bahwa semua harapannya hilang.

Minggu (26/1) dini hari, dia bertemu Mohammed Adnan Awadh. Disaksikan oleh Abdul Malik dan Zainuddin serta staf dan keluarga, momen-momen pertemuan itu penuh rasa haru. Saat pertama bertemu, Siti Aisyah dan Adnan Awadh bahkan tidak bisa berkata-kata. mereka hanya langsung berpelukan lama.

Kepada tim, Adnan mengaku sejak kecil sudah berusaha untuk mencari ibu kandungnya. Bahkan, setiap ada jemaah haji dan umroh dari Indonesia, ia selalu bertanya keberadaan ibunya.

"Rata-rata mereka tidak tahu," ucapnya, dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Abdul Malik Zainuddin.

Hingga suatu saat ia bercerita dengan bos di tempat kerjanya, bahwa Adnan mempunyai ibu kandung yang ada di Indonesia. Kebetulan bosnya tersebut kenal dengan orang di KJRI Jeddah karena sering mengurus visa.

"Saya bercerita, bahwa mencari ibu yang ada di Banjarmasin. Dan ingin mengetahui apakah beliau sudah meninggal atau tidak," katanya.

Mendengar kabar, bahwa ibunya masih hidup dan ada di Desa Kepayang Kabupaten Tapin, Adnan begitu senang, Jumat (24/1) tadi ia tiba di Indonesia ditemani Muhammad Hatta Zainuddin.

"Saat pertama kali bertemu, hanya kata syukur yang bisa saya ucapkan," jelasnya.

Setelah bertemu di Jakarta, Adnan dibawa ibunya pulangi ke Banjarmasin, dengan tujuan melihat kampung halaman ibundanya.

Abdul Malik pun mengantar mereka ke desa. "Senin (27/1) malam, ia dan ibunya sudah kami antar ke sini," ungkapnya.

Abdul Malik mengatakan dia dan relawan mempertemukan ibu dan anak ini hanya ingin membantu. Bahkan, mereka sempat ditawari untuk diberi uang oleh bos tempat Adnan bekerja di Arab Saudi, untuk mengganti uang pencarian.

"Kami tolak. Karena ingin membantu. Mereka sudah bertemu saja sudah menjadi kepuasan batin kita," ucapnya.

Rencananya Adnan sendiri akan membawa ibunya ke Mekah. Dia berterima kasih kepada relawan dan pihak-pihak yang sudah membantunya. "Ibu akan saya bawa ke Arab Saud," ucapnya. (by/ran/ema)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers