MANAGED BY:
SENIN
06 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 08 Mei 2016 14:56
Masih Kalah dengan Batik

PROKAL.CO, Di  balik kepopuleran namanya, para perajin dan pedagang kain Sasirangan justru kesulitan dalam memasarkannya. Selain proses pembuatannya yang lumayan rumit, para pedagang juga harus bersusah payah dalam memasarkan kain sasirangan tersebut.

 

Seperti dituturkan oleh salah satu perajin sekaligus pedagang kain sasirangan asal Banjarmasin bernama Dinar. Diakuinya, menjual sasirangan sekarang sangat sulit. Padahal, promosi yang dilakukannya sudah gencar. "Promosi kita mulai dari mulut ke mulut, hingga promosi secara online. Namun, tetap saja daya beli masyarakat sudah tidak seperti dulu lagi. Konsumen banyak membeli produk kain lain, seperti batik khas Jawa atau kain songket khas Palembang," ungkap pemilik Dinar Sasirangan ini.

 

Dinar menambahkan, walaupun di Banjarmasin dikenal dengan Kampung Sasirangan, namun tak banyak membantu promosi kain sasirangan. "Sekarang bahkan sudah banyak beredar di pasaran sasirangan printing buatan Cina. Walaupun imitasi, tapi kelihatan seperti asli juga. Dan konsumen banyak yang beli, karena harganya jauh lebih murah dari sasirangan asli," ujarnya.

 

Sebagai perbandingan, kain sasirangan asli dijual antara Rp250ribu hingga Rp350 ribu per helai. Sementara, kain sasirangan printing kabarnya hanya Rp150ribuan hingga Rp200 ribuan. “Dari segi harga saja sudah kalah bersaing," keluhnya.  Untuk itu, kata Dinar, jangankan ingin untung besar, terjual sehelai dua dalam sehari juga syukur. "Kalau masih bertahan dengan pola klasik pasti akan semakin sulit menjualnya. Lebih baik sekarang berinovasi dan berkreasi semaksimal mungkin, supaya sasirangan lebih beragam dan disukai konsumen," ujarnya.

 

Atas dasar pemikiran itulah, Dinar kemudian memutar otak. Kain sasirangan yang mulanya hanya berpola gambar "menyirang", kini dikreasikannya dengan pola lain. "Saya buat pola wayang dan keris khas Jawa. Jadi, polanya tidak khas Banjar melulu, ada pola-pola lain. Konsumen juga bisa menentukan sendiri pola yang diinginkan," tambahnya.

 

Menurut salah satu perajin tenun asal Kalsel, Sri Hidayah, komoditas kain sasirangan hanyak terkenal secara lokal. Sementara, untuk pasaran luar negeri masih kurang dikenal. "Penyebabnya karena kurang promosi," ungkap Sri yang merupakan jebolan S2 ekonomi mikro di sebuah universitas di Afrika Selatan itu.

 

Menurut Sri, promosi menjadi kunci untuk mempopulerkan kain sasirangan. Tidak sekadar promosi lewat mulut ke mulut atau bahkan lewat media, promosi kain sasirangan harus meniru promosi kain batik. "Batik sekarang digunakan oleh para pejabat negara. Bahkan, ada Hari Batik Nasional. Ini kan secara tidak langsung turut mendongkrak promosi batik. Coba kalau promosi sasirangan seperti itu, saya yakin pasti cepat populer," ujarnya.

 

Cara yang paling sederhana dalam mempopulerkan kain sasirangan adalah dengan cara mengenakannya. "Misalnya, di kalangan pejabat Kalsel, PNS, anak sekolah, atau karyawan diwajibkan mengenakan baju sasirangan seminggu sekali di tempat kerja. Dengan demikian, ini akan menimbulkan rasa cinta dan kebanggaan, sekaligus memperkenalkan kain sasirangan. Kalau sudah dikenal, tentu akan mudah memasarkannya," urainya.

 

Cara lain yang menurut Sri juga tak kalah efektif adalah dengan mengikutsertakan kain sasirangan dalam berbagai event fesyen bergengsi. "Tentunya, ini membutuhkan modal dan keahlian. Sasirangan harus dibuat menjadi pakaian yang modis, lantas diperagakan di cat walk minimal tingkat ASEAN. Saya kira cara ini sangat ampuh, dan bisa langsung melejitkan popularitas kain sasirangan," urainya.

 

"Tinggal pemerintah daerah saja, mau tidak menyediakan anggaran untuk mempromosikan kain sasirangan," tukasnya.  Di sisi lain, Sri juga kerap melakukan kolaborasi desain kain sasirangan. Yang terbaru, Sri mengkombinasikan desain kain sasirangan dengan tenun Pagatan. "Memang baru sekadar ujicoba. Tapi, hasilnya menurut saya lumayan bagus. Ke depan, saya akan coba pasarkan secara massal," kata wanita yang rajin ikutan pameran Tenun Pagatan hingga ke Malaysia dan Vietnam itu. (oza/by/ran/tof)


BACA JUGA

Kamis, 30 Januari 2020 11:43

HPN 2020 di Kalsel, Jokowi Bakal Tanam Pohon di Forest City

Puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini, pada 6…

Kamis, 30 Januari 2020 11:15

Gotong Royong, Warga Tapin Pasang Lampu Hias di Jalur Menuju Haul

RANTAU - Inisiatif warga Jalan Cangkring Kelurahan Rantau Kanan Kecamatan…

Rabu, 29 Januari 2020 12:19

Reguler di Tahun ini, Taman Budaya akan Gelar Musik Panting di Kiram

BANJARMASIN - Unit Pelayanan Teknis Dinas Taman Budaya (UPTD Tambud)…

Rabu, 29 Januari 2020 11:59

Bupati Banjar Berencana Pamerkan Barang Peninggalan Nabi, Saifullah Ragukan Keaslian Artefak

MARTAPURA - Bupati Banjar, Khalilurrahman berencana memamerkan barang-barang peninggalan Nabi…

Rabu, 29 Januari 2020 09:27
Dafam Q Hotel

Ratusan Anak Peringati HGN di Dafam

BANJARBARU - Hari Gizi Nasional (HGN) ke-60 diperingati setiap 25…

Selasa, 28 Januari 2020 15:54

Siapkan Mahasiswa Magang Tiga Semester, ULM Dukung Program Menteri Nadiem Makarim

BANJARMASIN - Rencana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim memperpanjang…

Selasa, 28 Januari 2020 10:44

Ingin Punya Anak Tapi Tak Ada Biaya, Pakar Bayi Tabung ini Beri Solusi Paling Mudah

Hadirnya seorang anak di tengah keluarga menjadi anugerah tak ternilai.…

Selasa, 28 Januari 2020 09:57

Datangi SMK, Agar Pelajar Tak Terjerumus Narkoba

BANJARMASIN - Tim Dokkes Polda Kalsel menyambangi SMKN 4 Banjarmasin…

Selasa, 28 Januari 2020 09:56

Semakin Sukses dan Diberkahi

BANJARMASIN- Kemarin menjadi hari yang spesial bagi seluruh karyawan Radar…

Selasa, 28 Januari 2020 09:53

Tingkatkan Kemampuan, 35 Penyidik Polresta Banjarmasin Dilatih

BANJARMASIN - Demi meningkatkan kemampuan SDM Polresta Banjarmasin, digelar pelatihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers