MANAGED BY:
SELASA
24 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 09 Mei 2016 16:30
Murid Habis, Satu Persatu Sekolah di Balangan Tutup Demi Tambang

“Menjaga Bubur Agar Tak Jadi Kerak”

MEMIRISKAN HATI - Salah satu kelas di SDN Lamida Atas yang hanya memiliki satu orang siswa. Dulu, sekolah ini mempunyai siswa ratusan, peralihan lahan ke perusahaan tambang membuat siswa satu persatu pergi.

PROKAL.CO,

 

Periode kelam dunia pendidikan Balangan tampaknya belum akan beranjak.  Satu persatu sekolah di daerah yang kaya tambang ini tutup demi aktivitas pertambangan. Kuasa lahan

 

Jiah melangkah perlahan menusuri jalanan berdebu menuju sekolahnya. Dia menutup matanya dengan tangan menghindari terpaan matahari pagi yang mulai hangat. Hawa panas begitu cepat terasa menelan kesejukan pagi di Desa Sumber Rezeki.

Guru  di SDN Juai itu mengenang saat pertama kali dia mengajar di sekolah itu. “Dulu di sini sangat sejuk,” katanya mengatakan kelas pertamanya di  tahun 1995.
Saat ini, Juai mengatakan kondisi ekologi  telah jauh berubah. Setelah adanya aktivitas tambang batu bara di sekitar sekolah, hawa begitu cepat panas.

“Kian tahun terik matahari terasa semakin panas, dan udara sekitar yang dipenuhi debu sudah kurang baik untuk kesehatan siswa maupun guru," tandasnya.

Kondisi ini membuat aktivitas ajar-mengajar menjadi tidak nyaman. Semua seakan mengerti bahwa sekolah ini tidak akan berumur lama. Ujung-ujungnya, mereka merasa sekolah mereka akan menemui nasib sebagaimana beberapa sekolah lain di Kabupaten Balangan. Semua karena tambang.

Jiah berharap kalau memang sekolah harus ditutup, semua siswa difasilitasi dengan sebaik mungkin. Termasuk akses untuk menuju sekolah yang baru supaya tidak ada yang putus sekolah. Kekhawatirannya sangat beralasan karena penutupan sekolah gara-gara aktivitas tambang menjadi sesuatu yang “biasa” di Balangan.

Radar Banjarmasin mencatat hingga  saat ini, setidaknya sudah ada dua sekolah di Kabupaten Balangan yang dihapuskan lantaran masuk dalam wilayah operasional perusahaan pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, yaitu SDN Bata dan SDN Sirap 03.

Kedua sekolah yang berlokasi di Kecamatan Juai tersebut resmi tidak digunakan lagi semenjak tahun ajaran 2015 - 2016.

Penyebab utamanya, ketiadaan murid karena penduduk yang bermukim di sekitarnya sudah tidak tinggal di sana lagi, setelah lahan mereka dibebaskan untuk keperluan perluasan wilayah operasional pertambangan PT Adaro Indonesia, guna  mendukung target produksi dari 45 ke 80 juta ton pertahun.

---------- SPLIT TEXT ----------

Berdasarkan data yang dirilis oleh Dinas Pendidikan setempat pada akhir tahun 2014 lalu, total ada enam sekolah yang masuk dalam perluasan wilayah operasional pertambangan PT Adaro Indonesia, yakni SDN Bata dan SDN Sirap 03 yang sudah lebih dulu ditutup, empat lainnya yaitu SDN Sirap 02, SDN Juai dan SDN Teluk Bayur 03 yang semuanya berlokasi di Kecamatan Juai serta SDN Lamida Atas di Kecamatan Paringin, ibukota Balangan.

SDN Lamida Atas punya cerita sendiri. Tak seperti SD lainnya yang berlokasi di kecamatan, SD yang berada di ibukota kabupaten  pun tak luput dari ancaman tergusur oleh pertambangan.

Dulu, SDN ini pernah mengalami masa kejayaan.  Itulah saat Perkebunan Inti Rakyat Khusus (Pirsus) II Afdeling Paringin PT Perkebunan Negara (PTPN) Persero  berlokasi di dekat lingkungan SDN. Perusahaan yang masih aktif sebagai salah satu penyumbang produksi karet terbesar di Kalsel itu me-mess-kan ribuan karyawannya di sekitar lokasi sekolah.

Ekonomi pun terdampak. Demikian juga pendidikan. Di masanya dulu, ada  ratusan anak-anak dari karyawan dan buruh yang sekolah di SD ini.

Semua berubah kala Pirsus II Afdeling Paringin PTPN dengan luasan 2071 hektare itu resmi di take over ke PT Adaro Indonesia  22 Mei 2014 silam.

Ribuan karyawan memilih pulang kampung. Buruh merantau mencari kebun karet lain yang bisa disadap.  Tentunya dengan membawa istri beserta anak-anaknya. SDN Lamida Atas pun sekarang hanya menyisakan 27 murid.

"Melihat banyak temannya yang serentak angkat kaki dari sekolah, anak saya sempat mengungkapkan kesedihanya, tapi sekarang sudah terbiasa dengan kondisi sekolah yang sepi," ungkap Nor Muhammad salah satu wali murid yang tiga anaknya masih bertahan di SDN Lamida Atas.

Salah seorang pengajar SDN Lamida Atas, Siti Rahmah mengungkapkan, pasca migrasi besar-besaran yang dilakukan oleh anak didiknya, hal itu berdampak pada psikologis siswa-siswi yang masih memilih bersekolah di sana.

"Anak-anak jadi kurang bergairah dalam bersekolah. Tidak ada lagi interaksi di dalam kelas. Karena di kelas saya saja muridnya sisa satu orang," keluhnya.
Kurang semangatnya anak-anak mengikuti pembelajaran sekolah juga dapat dilihat dari seragam yang dikenakan saat masuk sekolah, sebagian besar memilih untuk menggunakan sandal.

 "Buat apa pakai sepatu, sekolahnya mau tutup juga," celetuknya yang mengaku isu penutupan sekolah telah santer diketahui.   
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Balangan melalui Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Abdul Basyid mengatakan, dari hasil survei dan pengkajian yang dilakukan tim penutupan sekolah, sekolah yang ditutup sudah tidak memenuhi syarat pendirian satuan pendidikan dengan beberapa alasan yang membuat tim akhirnya terpaksa harus menutup dua sekolah tersebut.

---------- SPLIT TEXT ----------

Halaman:
loading...

BACA JUGA

Sabtu, 21 November 2020 10:17

Pembaca Kartu Tarot di Banjarmasin: Hapus Stigma Negatif, Kerap Dicap Dukun

Membaca diri melalui kartu tarot tak ubahnya seperti sesi curhat.…

Sabtu, 21 November 2020 10:08

Sibuk Berkampanye, Ketemu Wakil Hanya Saat Debat

Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj…

Kamis, 19 November 2020 15:04

Terkulai Setelah Sumpitan Kedua, Monyet Liar ini Dievakuasi dari Pemukiman

Ketika jarum bius pertama mengenai pahanya, si monyet liar hanya…

Selasa, 17 November 2020 11:05

Hari Pertama Simulasi Pembukaan SMP: Antara Senang dan Khawatir

Tak ada tanda silang di bangku siswa, thermo gun telat…

Senin, 16 November 2020 11:17

Viral Dulu, Maaf Kemudian: Perayaan Hari Kesehatan Nasional yang Kebablasan

Puncak perayaan Hari Kesehatan Nasional menuai protes warganet. Kepala Dinas…

Jumat, 13 November 2020 11:41

Bernilai Ekonomis dan Ada Hal Mistis, Melihat Koleksi Bambu Unik Warga Desa Antasari

Bambu bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari membuat rangka…

Kamis, 12 November 2020 11:05

Kepala Badut Dipinjam Ngelem, Fenomena Badut Jalanan di Banjarmasin

Badut jalanan semakin marak di jalan-jalan kota. Memprihatinkan karena ada…

Rabu, 11 November 2020 10:58

Robot Antasari, Si Robot Perawat Pasien Covid Buatan Anak Banua

Pangeran Antasari berjuang melawan penjajah Belanda. Robot Antasari berjuang melawan…

Selasa, 10 November 2020 11:07

Sampai Tidur di Poskamling, 19 Hari Setelah Kebakaran Pulau Bromo

Dua pekan setelah kebakaran besar itu, korban kebakaran di Pulau…

Senin, 09 November 2020 11:27

Jamas Pusaka di Haul Raja, Melihat Maturi Dahar dari Dekat

Maturi Dahar bukan sekadar ritual mengenang jasa leluhur. Di sini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers