MANAGED BY:
JUMAT
29 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Kamis, 20 Februari 2020 10:12
Harga Gula di Banjarmasin..? Tak Semanis Itu
TIMBANG GULA: Pedagang di Pasar Sentra Antasari menimbang dan membungkus gula pasir. Pedagang tak punya pilihan selain menjual dengan harga mahal. | Foto: Maulana/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, BANJARMASIN - Harga gula di sejumlah pasar tradisional di Banjarmasin melambung tinggi. Beberapa hari terakhir, sudah mendekati Rp15 ribu per kilogram.

Contoh di Pasar Sentra Antasari di Jalan Pangeran Antasari, salah satu pusat perbelanjaan terbesar di pusat kota.

Ketika Radar Banjarmasin menyambangi Toko Arif Maulana, pemilik kios menceritakan, dua pekan lalu harga gula masih Rp12.500 per kilogram. Sempat naik seribu rupiah, kini sudah Rp14.500 per kilogram.

"HET (Harga Eceran Tertinggi) yang ditetapkan pemerintah sebenarnya Rp12.500, tapi mau bagaimana lagi, kami membelinya sudah mahal. Otomatis harganya harus dinaikkan," kata pedagang yang enggan namanya dikorankan tersebut, kemarin (19/2).

Menurutnya, kondisinya kian parah dalam sepekan terakhir. Pelanggan pun berteriak. Selain harga, stok barang juga langka.

"Hampir 50 persen pasokan kami hilang. Sekarang dijatah kalau mau mengambil. Pembeli sudah pasti mengeluh. Saya kasihan juga sama ibu-ibu, terutama yang punya usaha rumahan dengan mengolah roti dan kue," kisahnya.

Apa penyebabnya? Sepengetahuannya akibat kesulitan bahan baku. Bahkan, setahunya sudah ada yang menjual Rp16 ribu per kilogram! "Di lapak lain sudah segitu," tukasnya.

Senada dengan keluhan Ijah, pedagang di Pasar Lama di Jalan Perintis Kemerdekaan. "Saya menjual Rp14.500 per kilogram. Katanya karena bahan baku menipis," ujarnya.

Ijah mengaku serba salah menghadapi keluhan pembeli. "Harapan kami tidak banyak, kembalikan lagi harganya seperti semula," harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Bierhasani mengatakan kenaikan harga gula sudah terjadi sejak lama.

Akibat bahan baku seperti tebu yang mulai menipis. Musim panen tebu di beberapa daerah juga sudah berakhir. Ketiadaan gula rafinasi juga menurutnya kian memperparah keadaan.

"Kendalanya, kementerian tidak menyetujui izin distribusi gula rafinasi untuk distributor di Kalsel," tegasnya.

Ditekankannya, gula rafinasi masih dibutuhkan untuk mem-back up stok gula lokal. Khususnya untuk pembuatan wadai (kue) khas Banjar yang terkenal manis.

Bierhasani berharap, Kementerian Perdagangan mau membuka mata atas kondisi ini. "Kami sudah sampaikan pentingnya izin distribusi gula rafinasi. Semoga cepat," pungkasnya. (lan/fud/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers