MANAGED BY:
KAMIS
09 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 25 Februari 2020 10:56
Aruh Basambu di Desa Kiyu: Pendakian Ditutup Sementara, Melanggar Dikenai Denda
PENGHULU ADAT: Balian (memakai penutup kepala) duduk di samping sesaji, sebelum dimulainya ritual. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Doa dilantunkan beriringan gemerincing hiang, beradu dengan tabuhan gendang dan kalimpat. Semakin malam, semakin nyaring bunyi yang dihasilkan. Mengharap hama dan wabah penyakit tak menyerang tanaman padi, hingga keselamatan penduduk. 

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai --

Di Hunjur Meratus Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), tanaman padi mulai tumbuh. Tampak tinggi dan menghijau di lereng-lereng perbukitan, dan di tanah lapang. Tinggal menunggu waktu, padi yang ditanam berbuah. Menguning, dan siap untuk dipanen.

Sementara itu, jauh dari keramaian. Di Balai Adat Desa Kiyu, yang berjarak sekira lebih dari 46 kilometer dari Barabai, jantung Kabupaten HST. Sejak Minggu (23/2) pagi yang dingin, seluruh warga menyibukkan diri dalam gelaran ritual adat Aruh Basambu. Atau, ritual adat menolak bala.

Aruh Basambu umumnya hanya digelar ketika padi yang ditanam tampak tumbuh. Harapannya, agar padi tidak diserang oleh hama penyakit, hingga menghasilkan panen yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

“Ritual ini juga ditujukan untuk keselamatan penduduk. Prosesinya hanya berlangsung selama sehari,” tutur Maribut, Balian atau tokoh adat di Desa Kiyu.

Ada lebih 20 umbung atau kepala keluarga, yang berhajat dalam prosesi Aruh Basambu yang digelar. Masing-masing kepala keluarga menyumbangkan sejumlah dana. Nominalnya beragam. Mulai dari puluhan hingga ratusan ribu. Tidak ada patokan terkait nominal dana yang disumbangkan. Semuanya sukarela.

Pelaksanaannya digelar di dua tempat. Sebelum dipusatkan di Balai Adat, pelaksanaan Aruh Basambu digelar di ladang masing-masing. Doa berisi harapan dilantunkan oleh Balian, ditutup dengan acara makan bersama di saung. Yang menjadi tempat warga beristrirahat ketika bekerja di ladang.

“Ayo dinikmati. Jangan sungkan-sungkan. Makan yang banyak,” ucap pemilik saung, Irmuniah.

Menu siang itu, sepiring nasi putih dan ayam kuah santan. Isiannya, ada labu kuning, kacang panjang dan timun. Jangan tanya rasanya. Tentu saja enak. Kuah santannya kental, labu kuningnya lumer di mulut. Dan segelas air putih es menambah lengkap nikmatnya makan siang kami.

Seusai di ladang, warga bergeser untuk persiapan puncak Aruh Basambu di Balai Adat. Kaum laki-laki mau pun perempuan bahu membahu menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari menyediakan kayu bakar, memasak nasi, sayur, ikan hingga membuat kue di wajan-wajan berukuran besar. Sementara bocah-bocah yang tampak ramai meriung di sekitar Balai Adat, lebih banyak bermain sembari cekikikan.

Memasuki malam, seorang warga, melalui pengeras suara, memanggil-manggil warga lainnya untuk memasuki Balai Adat. Di dalam balai, tepat di tengah-tengah ruangan, kini sudah terhampar berpiring-piring makanan dan kue yang sebelumnya dimasak oleh warga.

Ya, jamuan makan, bincang-bincang antar warga dan tamu hingga kerabat dari berbagai daerah pun menjadi pembuka, dalam pelaksanaan puncak Aruh Basambu.

Malam semakin merayap. Piring-piring yang semula berisi hidangan makanan pun disingkirkan. Berganti dengan sesajen serta pernak pernik ritual yang diletakkan warga di tengah-tengah balai. Mulai dari sejumlah dedaunan, buntelan kain, kue dodol, bakul berisi kelapa, gula, beras, ketan, dan lain-lain.

Yang paling mencolok, adalah kue yang dibuat mengikuti bentuk hewan-hewan kecil, seperti lipan, semut, belalang dan kutu. Semuanya itu, perlambang hewan-hewan yang kerap ditemui atau mengganggu warga yang menggarap ladang.

Sementara itu, seorang tokoh adat atau Balian lainnya, tampak duduk di sekitar sesajen. Mulutnya komat kamit. Dia adalah Sihatdri, yang malam itu menjadi penghulu ritual.

Tepat di pertengahan malam, Sihatdri, yang mengenakan penutup kepala bercorak batik dan menyampirkan selendang di leher, berdiri mengentakkan kakinya ke lantai. Dia mengibaskan dedaunan di tangan kanannya ke beberapa penjuru bangunan balai. Sementara tangan kirinya, bergerak membunyikan gelang hiang yang terselip di jari-jari.

Tidak lama, seisi balai mendadak riuh dengan entakan kaki. Tua, muda hingga anak-anak, memutari sesaji di tengah-tengah balai mengikuti Sihatdri. Entakan kaki semakin terdengar nyaring, diiringi bunyi hiang, gendang dan kalimpat yang ditabuh. Semua ritual itu, dilakukan semalam suntuk. Berhenti, ketika terbit fajar.

“Setelah acara ritual selesai, maka selama tiga hari ke depan, tidak diperbolehkan seorang pun pengunjung yang diizinkan untuk mendaki Gunung Halau Halau (Gunung Besar, Red),” ungkap Maribut.

Hal itu, dilakukan bukan tanpa alasan. Sesaji yang semula diletakkan dan didoakan di Balai Adat, nantinya akan dibawa ke kawasan hutan, yang berada di dataran tertinggi Kalimantan selatan, itu.

“Yang melanggar atau nekat melakukan pendakian, maka akan kami denda adat,” tambah lelaki, yang di tahun 2020 ini berumur tepat 101 tahun.

Denda adat sendiri bermacam-macam. Mulai dari melepas pakaian yang dikenakan, hingga harus meninggalkan senjata tajam yang kerap dibawa apabila hendak mendaki gunung. Adapun sifatnya, hanya sementara. Sesudah tiga hari, barang-barang itu akan dikembalikan.

“Ritual ini adalah hajat orang banyak. Kami hanya ingin gelaran ritual bisa berjalan dengan khidmat, dan tidak mendapat gangguan. Yang menikmati hasilnya nanti bukan hanya kami. Tapi juga pengunjung ketika Aruh Bawanang (ritual merayakan hasil panen, red) digelar,” tuntas Maribut. (war/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 08 April 2020 12:02

Di Era Physical Distancing, Pangkas Rambut Legendaris ini Coba Bertahan

WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global, beberapa waktu lalu. Hal…

Selasa, 07 April 2020 11:56

Dilema Dokter Gigi Buka Praktik di Musim Corona

Dokter gigi salah satu yang rawan terpapar Covid-19. Tak seperti…

Selasa, 07 April 2020 11:04

Good News dari Pandemi: SMK 5 Produksi Visor untuk Tenaga Medis

Minimnya alat pelindung diri (APD) bagi tenaga medis, menggelisahkan banyak…

Senin, 06 April 2020 11:26

Kala Video Ayah dan Balita Viral di Tengah Pandemi; Berawal dari Iseng, Diputar TV Nasional

Dalam sepekan terakhir, warga Banua sedang diramaikan dengan salah satu…

Minggu, 05 April 2020 09:30

Cerita Dokter dan Perawat di Era Corona; Lebih Sibuk, Kini Mandi pun di Rumah Sakit

Dokter dan perawat berada di garis terdepan dalam melawan virus…

Minggu, 05 April 2020 09:13

Program Acil Asmah; Belanja Sayur Bisa Lewat WhatsApp

Banyak cara untuk meringankan beban warga di tengah pandemi. Salah…

Kamis, 02 April 2020 14:56

Sibuknya Peserta dan Alumni Pelatihan Menjahit Saat Pandemi

Akibat Covid-19, masker bedah dipasaran menjadi langka. Untuk menyiasati itu,…

Rabu, 01 April 2020 13:05

Kala Dokter Menginisiasi Produksi APD Secara Mandiri; Libatkan Guru, Anak SMK hingga Tukang Ojek

Minimnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis…

Senin, 30 Maret 2020 12:36

Berita Baik di Tengah Pandemi Corona: Barista Kopi Dibalik Gerakan Pasang Keran Gratis

Dalam perang melawan wabah, Anda tak perlu menunggu menjadi hartawan…

Jumat, 27 Maret 2020 11:51

Fenomena Takhayul Pesisir Kalsel di Tengah Corona

Optimisme beberapa pejabat pemerintah, yang percaya warga akan disiplin tanpa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers