MANAGED BY:
SABTU
06 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Jumat, 13 Maret 2020 13:57
Gula Impor Setop, Gula Lokal Belum Produksi; Harga Gula pun Tak Lagi Manis
MAHAL: Pedagang menimbang gula di Pasar Harum Manis Banjamasin. Sudah lebih sebulan, harga gula melonjak. | FOTO: M OSCAR FRABY/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Harga gula pasir di sejumlah pasar tradisional terus mengalami kenaikan. Dalam sepekan terakhir, harga gula pasir sudah tembus Rp18 ribu per kilogramnya. Apa yang terjadi?

-----

Fathul kaget bukan kepalang. Ia misuh-misuh di pasar harian Kotabaru, Kamis (12/3) kemarin. "Asli, larang banar gula wayah ini," ujarnya dalam bahasa Banjar.

Karena stok di dapur habis. Terpaksa ia merogoh kocek dalam. "Hampir dua puluh ribu tadi sekilo," katanya kepada Radar Banjarmasin.

Istri Haji Undul, belasan tahun berjualan gula di pasar harian mengatakan, gula naik duluan di pemasok. "Naik dari empat belas ribu. Jadi delapan belas ribu sekilo. Kalau di kampung sudah tembus dua puluh ribu," ujarnya.

Di sebelah tokonya, Nisa juga menjual sama. "Sama kami semua. Delapan belas ribu. Ini pertama naik begini gula di Kotabaru," kata wanita berkerudung itu.

Masimah, salah seorang pedagang di Banjarbaru mengatakan, harga gula pasir sudah mulai naik sejak sepekan terakhir. "Naiknya cepat. Dari Rp13 ribu (per kilogram), langsung Rp14 ribu sampai sekarang Rp18 ribu," katanya.

Dia mengaku tidak tahu kenapa harga gula pasir langsung melonjak cepat, padahal stoknya hingga kini masih aman. "Setiap pesan ke distributor, barangnya pasti ada. Hanya saja harganya memang sudah mahal dari sana (distributor)," bebernya.

Lanjutnya, tingginya harga gula mulai mempengaruhi penjualan mereka. Pasalnya, para pelanggannya sekarang memilih untuk membatasi pembelian gula. "Yang biasanya beli 1 kilogram, sekarang cuma beli setengah kilogram. Lantaran harganya yang mahal," ujarnya.

Lutfi Ikhsan, pengecer gula pasir di Pasar Harum Manis Banjamasin menerangkan sudah lebih sebulan tak ada pasokan gula pasir impor. Praktis, pengecer pun hanya menjual gula pasir lokal yang stoknya terus berkurang.

“Gula impor tak ada masuk. Sementara, stok gula lokal sudah tak banyak. Di tempat saya tersisa sekitar 5 ton saja,” terang Lutfi kemarin.

Lantaran hanya mengandalkan sokongan gula lokal, praktis ketika permintaan banyak dan stoknya tak banyak, harga pun berpengaruh dan naik tinggi. Lutfi mengaku, dia mendapat harga dari distributor per kilogramnya sudah Rp16.500.

Sebelumnya sebut Lutfi, harga yang dia dapat di distributor hanya sekitar Rp12 ribu per kilogramnya. “Kalau saya hitung kenaikannya sudah tiga kali. Sekarang sudah mencapai Rp16.500 per kilogramnya,” tuturnya.

Meroketnya harga gula pasir membuat permintaan pun mengalami penurunan. Dia menyebut, sebelum harga tinggi sekarang penjualan bisa sampai 20-30 karung. Sekarang, permintaan pun hanya berkisar 10-15 karung. “Memang ketika ada gula pasir impor, harga sangat normal. Saya menjual paling Rp13-14 ribu per kilogramnya,” sebutnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel Birhasani membenarkan jika harga gula pasir saat ini sedang meroket. Menurutnya, hal itu terjadi lantaran ketersediaannya sedang kritis secara nasional.

"Ketersediaan kritis disebabkan oleh pasokan tebu sebagai bahan baku gula dalam negeri terhenti, karena bulan Juni baru panen. Selain itu, gula mentah impor juga belum masuk," bebernya.

Dia mengungkapkan, meroketnya harga gula pasir bukan hanya terjadi di Kalsel. Melainkan hampir di semua provinsi. "Bahkan daerah-daerah yang punya pabrik industri gula, seperti Jatim, Sulawesi dan Lampung pun kekurangan gula. Harga gula di daerah tersebut juga sudah mencapai Rp17 ribu hingga Rp18 ribu," ungkapnya.

Untuk menindaklanjuti hal itu, Birhasani menyampaikan, Kementerian Perdagangan sudah menerbitkan Permendag nomor 14/2020 tentang impor gula. Di mana, penugasan impor sudah diberikan kepada Bulog sebesar 29.750 ton.

"Janjinya paling lambat dua pekan ke depan gula impor sudah didistribusikan ke Bulog se-Indonesia. Izin impor gula juga diberikan kepada perusahaan-perusahaan swasta," ucapnya.

Sambil menunggu stok gula impor masuk ke Kalsel, dia memastikan bahwa ketersediaan gula di Banua saat ini masih aman hingga satu bulan ke depan. "Pasokannya juga tetap berjalan. Jadi, masyarakat diharapkan tidak cemas," pungkasnya.

Lalu kenapa gula melinjak? Ketua Asosiasi Gula Bersatu Kalsel, Aftahuddin menerangkan, melonjaknya harga gula di pasaran lantaran salah satu bahan baku gula yakni tebu sudah habis masa gilingnya. Sehingga kebutuhan nasional pun tidak mencukupi. 

Aftah mengharapkan, dengan kondisi ini, pemerintah harus segera melakukan impor gula agar bisa mencukupi kebutuhan gula nasional. “Kalau dengan kondisi sekarang tanpa impor. Pastinya bukan gejolak lagi, tapi kita juga kekurangan pasokan gula,” ujarnya. (zal/ris/mof/ran/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers