MANAGED BY:
MINGGU
07 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 30 Maret 2020 12:36
Berita Baik di Tengah Pandemi Corona: Barista Kopi Dibalik Gerakan Pasang Keran Gratis
MENGINSPIRASI: Muhammad Afniannur, berdiri di warung kopinya nan sederhana di Jalan Banua Anyar, Banjarmasin Timur. | FOTO: SYARAFUDDIN/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Dalam perang melawan wabah, Anda tak perlu menunggu menjadi hartawan atau ilmuwan. Bersenjatakan gunting pipa pun sudah cukup.

-- Oleh: SYARAFUDDIN, Banjarmasin --

WORK from home adalah kemewahan. Tidak semua warga Banjarmasin bisa melakoninya. Tak keluar rumah, tak bisa bekerja. Tanpa penghasilan artinya keluarga di rumah tidak makan.

"Saya memperhatikan ojol, kurir paket, dan sales tisu. Menghadapi risiko tinggi tapi tak bisa mengelak," kata Muhammad Afniannur, Sabtu (28/3) malam.

Sarjana ekonomi lulusan Universitas Lambung Mangkurat itu membuka kedai kopi kecil di Jalan Banua Anyar, Banjarmasin Timur, tak jauh dari rumahnya.

Sebelumnya, ia menjadi barista kopi di sebuah kafe di Jalan Bali, Banjarmasin Tengah. Lalu, apa istimewanya kisah pemuda 30 tahun ini?

Begini, selama vaksin COVID-19 belum ditemukan, ada tiga jurus utama untuk melawannya. Berdiam di rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak interaksi.

Di media sosial, ia menemukan foto ojol yang mencuci tangan dari keran yang terpasang di luar pagar rumahnya. Agar sebelum menyentuh barang apapun, tangannya sudah bersih setelah seharian keluyuran di jalan.

Untuk tertular virus ini, hanya butuh satu kesalahan kecil. Sebuah kesialan kecil. Semisal lupa mencuci tangan setelah pulang bekerja.

Foto itu menyadarkannya, bahwa tak banyak warga Banjarmasin yang memiliki keran seperti itu. Terutama keluarga dengan penghasilan pas-pasan.

"Sesama wong cilik harus saling membantu. Mau berharap pada pemerintah? Sorry, suka kelamaan," cecar Afni, sapaan akrabnya.

Dia kemudian mengunggah sebuah pesan di Insta Story akunnya @muh_afni. Afni bersedia memasangkan keran tanpa memungut bayaran. Pesan itu juga dibagikan ke bebarapa grup WhatsApp.

Warga cukup menyediakan pipa dan keran. Selebihnya, ia yang berkeringat mengerjakan dengan tas perkakasnya. "Saya tak pernah bekerja di PDAM. Tapi senang mengutak-atik sendiri kalau ada kerusakan leding di rumah," jelasnya.

Maka dimulailah petulangan Afni dan sepeda motornya. Dari Sungai Andai sampai Gunung Sari. "Modal saya cuma bensin," tukasnya.

Beberapa permintaan tampak ngeyel. Dia mengurut dada ketika yang meminta bantuan ternyata sebuah rumah makan besar di Banjarmasin. Adapula toko gedongan yang menjual smartphone.

"Pas tiba di lokasi, kaget. Padahal niat saya kan membantu warga tidak mampu. Bukan mereka yang pelit dan hobi gratisan," keluhnya.

Tentu ia juga harus memikirkan keselamatan dirinya. Apalagi di rumah, istri dan anaknya sudah menunggu. Afni lalu mematok aturan. Selama mengerjakan keran, selalu menjaga jarak dengan si pemilik rumah. "Berjabat tangan saja tidak," ujarnya.

Di era digital seperti sekarang, mudah sekali untuk menuduh motivasinya ingin menjadi viral. Tapi motivasi Afni justru bersumber dari amarah.

Dia geram ketika mendengar masker dan hand sanitizer ditimbun dan langka. Kalaupun tersedia, dijual dengan harga mahal.

"Andaikan saya bos batu bara, sudah saya borong maskernya dan bagikan kepada masyarakat," ujarnya. "Sayangnya, saya bukan dokter atau perawat. Apalagi orang sugih (kaya). Saya cuma lihai mengutak-atik keran," tutupnya. (fud/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers