MANAGED BY:
JUMAT
29 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Selasa, 31 Maret 2020 11:14
Hotel-Hotel Mulai Rumahkan Karyawan, Permintaan Peniadaan Pajak Ditangguhkan Pemko Banjarmasin
MASIH LENGANG: Lobi hotel Roditha Banjarbaru terlhat lengang. Penurunan hunian hotel membuat pengelola hotel menjerit. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARMASIN – Sudah lebih sepekan, pengusaha hotel kelimpungan. Sepinya tamu yang menginap berdampak terhadap pendapatan mereka. Belum lagi memikirkan biaya operasional yang terbilang tinggi. Pandemi Covid-19 membuat tamu yang datang hanya hitungan jari. Bahkan, ada hotel yang mengaku tak ada lagi tamu yang menginap.

“Sudah lebih sepekan tamu yang datang menurun drastis. Kamar pun hanya laku di bawah 10 kamar. Biasanya ketika normal sebelum mewabahnya corona, kamar kami paling sedikit terisi 50 persen,” terang General Manager Swiss Belhotel Borneo Banjarmasin, Tjatur Ariefianto kepada Radar Banjarmasin.

Untuk menaikkan tingkat hunian, berbagai upaya sudah dilakukan pihaknya, seperti memberi harga khusus dan menurunkan harga kamar. Namun, tetap saja tak seramai dulu. “Sekarang pendapatan tak lagi menutup biaya operasional,” sebutnya.

Dengan kondisi sekarang, dia tak yakin bisa bertahan lama. Apalagi tak sebandingnya pendapatan dengan biaya operasional. “Dipaksakan pasti minus. Kami akan evaluasi sampai akhir bulan Maret ini,” ujar Tjatur sembari menyebut biaya operasional yang harus dikeluarkan tiap bulan sekitar Rp70-100 juta.

Jika kondisinya masih tetap seperti sekarang, opsi menghentikan operasional sudah dipikirkan oleh manajemen. Menurutnya, arah ke sana sudah dibicarakan sejak dua pekan lalu lalu dengan melibatkan operator dan pemilik hotel. “Melihat kondisi sekarang, mereka tinggal mengambil keputusan,” terangnya.

Bisa saja opsi ini tak dilaksanakan. Dengan catatan, pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan yang bisa menyelamatkan hotel. Salah satunya menghapus sementara pajak hotel yang tiap bulan dibayarkan pihaknya. “Jika pajak ditiadakan, bisa kami pindahkan untuk membayar gaji karyawan,” katanya.

Tjatur juga mengaku bingung dengan pajak ini. Dengan keadaan seperti ini, ujarnya, biaya untuk membayar pun tak ada. “Di daerah lain sudah mengeluarkan kebijakan meniadakan pajak sementara. Semoga di daerah ini seperti itu. Ketika disuruh membayar pajak pun, uangnya juga tak ada,” tukasnya.

Padahal, pihaknya sangat berharap ada pemasukan ketika bulan Ramadan nanti. Yakni dengan promo paket buka puasa yang dapat menambah pendapatan. Namun, keluarnya kebijakan Kapolri yang melarang berkumpulnya orang banyak, membuat peluang ini semakin tertutup.

“Saat Ramadan di tahun-tahun sebelumnya, walaupun jumlah kamar tak signifikan terisi, tapi masih ditutup dengan paket berbuka puasa. Sekarang, kamar sudah tidak laku, ditambah even buka puasa dilarang. Ini sangat berat bagi kami,” tandasnya.

Hal senada dituturkan GM Pyramid Suites Hotel Banjarmasin, Arie Soleh Mulia. Dikatakannya, tamu yang datang menurun drastis. Kamar hotel yang biasaya rata-rata terisi 50-60 persen, sekarang hanya hitungan jari. “Sekarang paling banyak terisi lima kamar,” keluh Arie.

Jumlah hunian yang hanya berkisar 5 kamar itu, menurutnya sangat berat untuk menutup biaya operasional. Untuk bayar biaya listrik saja, terangnya, tak mencukupi. Belum biaya lain, termasuk membayar gaji karyawan. “Untuk biaya operasional tak bisa menutup. Apalagi jumlah karyawan kami cukup banyak. Jika tak ada pemasukan, apa yang dibayarkan,” ujarnya.

Dia sangat berharap, Pemko Banjarmasin mengeluarkan kebijakan yang dapat meringankan biaya operasional di tengah keadaan sekarang. “Kami sangat berterima kasih jika wali kota mengambil kebijakan demi meringankan operasional,” harapnya.

Karyawan di hotelnya mencapai 100 orang. Mereka ini tentu berharap tak ada penutupan. Tapi jika kondisinya tetap seperti ini, pihaknya sudah mengkaji menutup. Namun, masih memikirkan karyawan yang akan kehilangan pekerjaan. “Dengan kondisi sekarang susah juga. Banyak orang hidup mencari makan di sini,” ujarnya.

Terpisah, Ketua Banua Hotel Community, Devy Antonius menyebut, tingkat hunian hotel berada di kondisi terburuk. Lebih parah jika dibandingkan dengan hunian saat bulan Ramadan. “Penurunan hunian hotel di tempat saya mencapai 70-80 persen,” ujar pria yang juga menjabat GM Fave Hotel Banjarmasin itu.

Diungkapkannya, biaya operasional yang tak bisa ditunda adalah seperti biaya air dan listrik. Sementara, pendapatan jauh menurun. Alhasil, untuk menutup biaya operasional, pihaknya meminta pengertian dengan karyawan. “Kami tetap berusaha memanusiakan manusia. Senang sama-sama, susah sama-sama,” sebutnya.

Devy mengungkapkan, dalam sebulan uang yang harus dikeluarkan untuk operasional hotel mencapai Rp1 miliar. Uang tersebut termasuk membayar pajak dan bunga bank. Khusus pajak, dia mengatakan yang dibayarkan nilainya tak sedikit.

Ketika sepinya tamu ini, dia berharap pajak daerah ini dapat ditiadakan sementara oleh pemko. Menurutnya, dengan ditiadakan pajak daerah ini, mereka bisa mengalihkan uangnya untuk operasioal.

Menurutnya, kontribusi yang diberikan ke pemko tak sedikit. Rata-rata mencapai Rp200-300 juta. Nah, ketika ada kebijakan penghapusan pajak daerah tersebut, maka uangnya bisa digunakan untuk membayar gaji karyawan.

“Sekarang gantian lah, pemerintah yang memberi keringanan. Kondisi sekarang harus ada yang berkorban. Kami hanya meminta pajak ini dihilangkan. Ini juga untuk memanusiakan manusia. Kasihan juga mereka ketika dirumahkan, mau makan apa nanti,” ujarnya.

Jika beberapa hotel ada yang berniat menutup, pihaknya belum memikirkan sejauh itu. Lantaran tak ingin mengganggu psikologi karyawan. “Kalau tutup, dapat diartikan mereka kehilangan pekerjaan. Mungkin kalau kami paling dirumahkan. Tak ingin juga menghilangkan harapan karyawan. Kami terus berjuang bertahan hidup. Semua diefisiensikan,” Kondisi okupansi yang langsung terjun payung juga dirasakan manajemen Hotel Mercure. Saat ini tingkat hunian Hotel Mercure sangat minim di bawah 1 persen.

Hotel di kawasan Duta Mal ini juga mulai merumahkan karyawan karena tamu hotel yang sangat sedikit.
"Okupansi kami mungkin sekarang di bawah 1 persen, karena hanya 1 hingga  3 kamar saja yang terisi," aku GM Hotel Mercure, Sugiharto.

Diakuinya, sekarang ini karyawan yang dipekerjakan hanya sekitar 5 orang saja setiap hari dengan sistem shif dari total 90 karyawan. 

"Kami sebenarnya tidak mau merumahkan mereka, cuma kondisi seperti ini sangat sepi dan karyawan memahaminya," tandasnya.

Ery Sudarisman, GM Hotel Banjarmasin Internasional juga mengaku, okupansi HBI sangat terpuruk karena dampak corona. Hal ini karena banyak acara nasional yang ditunda karena wabah corona.

"Semua acara nasional ditunda, otomatis berdampak pada tingkat hunian hotel, jadi sekarang benar-benar sepi," ucapnya.

Ia pun berharap pemerintah bisa menangani masalah corona dengan cepat dan jangan sampai ada lockdown karena akan merugikan dunia bisnis.

"Tidak bisa membayangkan kalau ada lockdown, pasti ada perumahan karyawan karena tidak ada operasional hotel," jelasnya.

Sama dengan kondisi hotel lainnya, Aston Hotel juga mengalami penurunan okupansi yang cukup tinggi.
Diakui GM Aston Andri Kurniawan, penurunan okupansi mencapai 40 persen dari okupansi di tahun lalu. "Sekarang rata-rata okupansi kami berkisar 10 sampai 20 persen saja," ucapnya.

Menurutnya, sekarang ini manajemen Hotel Aston sudah mulai kesulitan dalam biaya pengeluaran."Satu-satunya cara merumahkan 50 persen karyawan untuk menekan biaya pengeluaran," jelasnya lagi. Ia mengaku prihatin dengan kondisi ini, namun ini menjadi satu-satunya cara untuk bisa bertahan saat ini.

Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina sudah menegaskan bahwa Balai kota belum akan mengambil kebijakan untuk memberi dispensasi, apalagi menghapuskan pajak hotel dan restoran. Hal itu sudah ia sampaikan melalui surat resmi pekan lalu. Surat itu dikirim menanggapi permohonan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalsel.

Pada situasi ini, ujarnya, Pemkot bukannya tak peduli. Mereka paham kegelisahan pengusaha hotel ataupun restoran. Tapi apa boleh buat, pemko tetap mengacu pada kebijakan pusat.

"Pemko masih menunggu PMK resmi dari Kementerian Keuangan. Apakah Banjarmasin termasuk daerah yang diberikan stimulus penghapusan pajak hotel dan restoran atau tidak," jelas Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina.

Berdasarkan instruksi Kementerian Keuangan, pembebasan pajak hanya berlaku di sepuluh daerah destinasi wisata. Yakni Sumatera Utara, Yogyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bangka Belitung, Batam dan Kepulauan Riau. Kalsel tak termasuk.
Selain itu, pemko juga masih menunggu petunjuk teknis penggantian pendapatan pajak hotel dan restoran. Jika memang nantinya harus dibebaskan. "Melalui mekanisme hibah ke daerah sebagai kompensasi," katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Banjarmasin, Muhammad Faisal Hariyadi sependapat dengan pemko. Bahwa tak harus ada dispensasi apalagi pembebasan pajak hotel."Sebenarnya pembayaran pajak ini dibebankan kepada konsumen. Dalam hal ini tamu hotel. Jadi setorannya sesuai dengan penghasilan masing-masing hotel," sebut politikus Parta Amanat Nasional (PAN) itu.

Yang ia maksud, besaran setoran pajak sesuai dengan penghasilan. Karena tidak dipatok, melainkan berdasarkan persentasi. "Berdasarkan perda 10 persen. Ditarik dari tamu," katanya.

Lagipula, ujarnya, wabah corona ini tak hanya berdampak pada pelaku usaha perhotelan. Tapi semua sektor. Tak ada yang terlepas. Jadi bukan momen tepat untuk mengeluh. "Mau kaya, mau miskin. Semua merasakan imbasnya," sentilnya.

Bagaimanapun, lanjutnya, tak ada yang ingin merugi karena wabah ini. Tapi apa daya. Semuanya harus saling menerima, mendukung dan lapang dada. "Yang terpenting saat ini, bagaimana caranya kita saling mendukung, membantu menghentikan penyebaran virus," pungkasnya.
(mof/sya/nur/ran/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers