MANAGED BY:
JUMAT
05 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 01 April 2020 13:05
Kala Dokter Menginisiasi Produksi APD Secara Mandiri; Libatkan Guru, Anak SMK hingga Tukang Ojek
TELATEN: Para siswi SMKN 3 Banjarbaru saat ikut terlibat menjahit APD di sekolahnya, kemarin. Pembuatan APD ini merupakan inisiasi dari seorang dokter spesialis jantung bernama Gusti Rifansyah. | FOTO: SUTRISNO/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Minimnya ketersediaan alat pelindung diri (APD) untuk para tenaga medis dalam menangani pasien virus corona, membuat sejumlah pihak turun tangan untuk bisa memproduksinya. Di Kota Banjarbaru, melalui inisiatif seorang dokter spesialis jantung bernama Gusti Rifansyah. Sejumlah guru, siswa SMK hingga tukang ojek online ikut terlibat dalam pembuatan APD secara mandiri.

-- Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru --

Radar Banjarmasin, kemarin (31/3) sengaja datang ke SMKN 3 Banjarbaru untuk melihat proses pembuatan APD yang diinisiasi oleh dr Gusti Rifansyah. Karena di sana menjadi salah satu tempat produksi APD yang melibatkan para guru dan siswa.

Sesampainya di sekolah yang beralamat di Jalan Taruna Praja, Banjarbaru tersebut, terdengar suara mesin jahit bersahut-sahutan di salah satu ruang kelas. Di situ lah, para siswa dan guru mengolah lembaran kain menjadi APD.

Ada sekitar enam siswa tampak menyambungkan helai demi helai kain dengan menggunakan mesin jahit. Sedangkan para gurunya, ada tiga orang bertugas mengukur dan menggunting lembaran kain, sebelum dijahit.

Kepala SMKN 3 Banjarbaru Parjiono mengatakan, kemarin merupakan hari kedua mereka memproduksi APD. Di mana, semua bahannya dikirim oleh salah seorang dokter spesialis jantung di Banjarbaru: Gusti Rifansyah. "Beliau (dr Gusti Rifansyah) yang menginisiasi pembuatan APD ini," katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, dr Gusti Rifansyah mengajak mereka memproduksi APD lantaran memiliki jurusan tata busana dan peralatan menjahit yang lumayan lengkap. "Saat beliau menelpon mengajak membuat APD, saya langsung meresponnya dan menghubungi para guru di jurusan tata busana," ungkapnya.

Awalnya Parjiono ragu para guru dan siswa mau terlibat dalam pembuatan APD, lantaran pemerintah sedang mengambil kebijakan belajar dari rumah. "Ternyata mereka mau, dan kemarin langsung kami mulai mengerjakan setelah diberi arahan oleh Dokter Ifan (panggilan dari dr Gusti Rifansyah)," beber Parjiono.

Dia menambahkan, berbekal ilmu menjahit yang didapatkan dari sekolah, para siswa setiap harinya bergantian masuk sekolah untuk menjahit APD. "Dari 22 siswa dari jurusan tata busana kelas 12, setiap harinya mungkin enam siswa yang kami minta ikut menjahit. Ini menjadi salah satu penilaian UKK (uji kompetensi keahlian)," tambahnya.

Tak lama wartawan berbincang-bincang dengan Parjiono, mobil dinas Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan tiba. Orang nomor dua di Banjarbaru tersebut datang bersama dr Gusti Rifansyah untuk meninjau pembuatan APD di sana.

Usai melakukan peninjauan, wartawan koran ini menanyai dr Gusti Rifansyah, apa yang membuat dirinya berinisiatif menginisiasi pembuatan APD secara mandiri? Jawabnya, hal itu berawal dari rasa keprihatinannya melihat banyaknya tim medis yang ikut terserang virus corona lantaran minimnya APD.

"Melihat fenomena itu, kami berfikir bagaimana supaya bisa membantu para dokter, perawat dan siapapun yang menangani pasien corona. Dan ide pembuatan APD pun muncul. Kebetulan istri juga bisa menjahit," katanya.

Lanjutnya, setelah mendapatkan ide, dia langsung mulai merancang pembuatan APD yang baik dan benar. Setelah itu, Minggu (29/3) mulai mencoba memproduksinya di workshop-nya di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Sungai Besar, Banjarbaru. "Saat kami launching pada hari Minggu itu, hari itu juga langsung banyak pesanan dari berbagai daerah. Ada sekitar 600 pesanan," ujarnya.

Banyaknya pesanan membuat Ifan sadar bahwa mereka perlu tambahan tenaga untuk bisa melayani semuanya. "Saya pun berinisiatif untuk mengajak para ibu penjual warung makan, tukang ojek online, panti asuhan dan sekolah-sekolah. Alhamdulillah semua bersedia," beber Ifan.

Dia mengungkapkan, saat ini ada empat tempat produksi APD di Banjarbaru berkat inisiatifnya. Yakni, di workshop-nya, serta di SMKN 1 Banjarbaru, SMKN 3 Banjarbaru dan di Panti Asuhan Budi Mulia. "Bahan baku kami yang menyediakan. Alhamdulillah ada teman yang punya toko kain bisa menyetok barangnya," ungkapnya.

Dia menjelaskan, bahan baku yang mereka gunakan ialah kain jenis spunbond. Di mana, saat ini ketersediaannya mulai langka. "Dengan kain ini APD hanya bisa untuk satu kali pakai. Kami berharap, pemerintah bisa membantu ketersediaan bahan baku lantaran sudah mulai langka," jelasnya.

Lalu berapa APD dijual? Ifan menyampaikan, mereka mematoknya Rp50 ribu per lembarnya. Namun, dia menolak jika itu disebut sebagai harga. "Itu adalah infaq, sebab uangnya untuk tali asih para penjahitnya. Seperti, ibu penjual makanan, tukang ojek dan lain-lain yang terdampak dengan virus corona," paparnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Banjarbaru Darmawan Jaya Setiawan mengapresiasi Ifan dan semua orang yang terlibat atas pembuatan APD secara mandiri. "Kita tahu APD diperlukan dalam penanganan wabah corona. Sedangkan, ketersediaannya sekarang sangat langka. Alhamdulillah ini ternyata bisa diproduksi di Banjarbaru," ucapnya.

Dia berjanji Pemko Banjarbaru akan mendukung proses produksi APD yang diinisiasi Ifan. Baik itu penambahan perlengkapan ataupun bahan baku. "Kami juga akan pesan 600 lembar untuk RSD Idaman. Dinas Kesehatan juga kami minta memesan untuk keperluan tim medis kita," pungkasnya. (ris/ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers