MANAGED BY:
JUMAT
05 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 02 April 2020 14:56
Sibuknya Peserta dan Alumni Pelatihan Menjahit Saat Pandemi

Banyak Pesanan Masker Kain, Mulai Sulit Mencari Karet

SIBUK: Penjahit alumni pelatihan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Tapin, membuat masker kain. | Foto: Rasidi Fadli/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Akibat Covid-19, masker bedah dipasaran menjadi langka. Untuk menyiasati itu, peserta pelatihan dan alumni pelatihan di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Tapin, membuat masker kain.

-- Oleh: RASIDI FADLI, Rantau --

Tepat pukul 12.00 Wita, Kepala Dinas Tenaga Kerja Tapin, Fauziah, bersama satu orang stafnya, membawa penulis untuk mendatangi tukang jahit yang memproduksi masker kain.

Ada dua orang yang didatangi. Nurul Wahidah dan Hamdiah, Posisi mereka di wilayah perkotaan. Mereka adalah alumni pelatihan menjahit di Dinas Tenaga Kejar (Disnaker) Tapin.

Saat sampai ke dua tempat tersebut. Masing-masing sedang asyik menggunakan mesin jahit. Mereka, terlihat cekatan untuk mengolah masker kain. Ada yang menggunakan kain katun ada juga yang menggunakan kain sasirangan.

"Setiap hari, selalu ada yang memesan masker ini," ungkap Nurul Wahidah warga Kecamatan Tapin Utara, Rabu (1/4).

Diungkapkan Nurul Wahidah, pembuatan masker kain, ia lakukan sejak satu Minggu yang lalu. Awalnya permintaan dari Disnaker, agar alumni pelatihan bisa membuat masker untuk disumbangkan.

"Jadi, masing-masing sukarela berapa kesanggupannya untuk membuat masker kain," tuturnya.

Setelah membuat masker kain, ternyata menjadi berkah buatnya, karena banyak permintaan dari masyarakat. Bahkan, ada dari perusahaan yang memesan untuk dibuatkan masker kain.

"Untuk satu hari saya bisa memproduksi masker sekitar 20 lembar. Itu tidak full seharian," jelasnya.

Adapun penjahit lainnya, Hamdiah, menuturkan bahwa ia memproduksi dua macam masker kain. Pertama yang lapis satu dijual 5 ribu perlembarnya dan lapis dua dijual 8 sampai 10 ribu perlembarnya.

"Yang lapis dua itu, bahannya dari kain sasirangan," tuturnya, seraya berkata dalam sehari mampu membuat masker sekitar 2 lusin.

Adapun kendala yang dihadapinya, karena banyak permintaan. Ia kesulitan dalam mencari bahan baku, terutama karet, yang sekarang ini sulit dicari dipasaran.

"Saya harus mencari karet ke Kabupaten tetangga baru ada," tuturnya, warga Jalan Pelita Kelurahan Rangda Malingkung ini.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Tapin, Fauziah, menuturkan bahwa ada 800 masker kain yang sudah dibuat oleh siswa pelatihan dan alumni pelatihan.

"400 masker kain dibagikan ke BLK Bekasi, 200 untuk Pemerintah Daerah dan 200 untuk masyarakat," ucapnya.

Memang awalnya para alumni pelatihan yang sudah berhasil membuka usaha sendiri, dihubungi untuk membantu membuat masker kain untuk disumbangkan, ternyata mereka setuju.

"Total ada 15 pembuat masker, baik itu peserta pelatihan maupun alumni pelatihan yang membuat masker," katanya.

Masker yang dibuat mereka menggunakan bahan yang baru. Bukan dari kain bekas, bahkan setelah selesai masker tersebut langsung dicuci, dijemur dan disetrika.

"Untuk memesan masker tersebut, bisa langsung datangi para penjahit atau bisa hubungi Disnaker. Kami akan menghubungi para penjahit-penjahit tersebut," tuturnya.

Ana, salah seorang yang ikut memesan masker kain di penjahit Hamdiah, menuturkan bahwa dipasaran masker memang sudah langka. Oleh sebab itulah, ia memesan masker yang lain.

"Sekarang ini sangat sulit dicari," tuturnya. (*/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers