MANAGED BY:
MINGGU
07 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Kamis, 09 April 2020 10:32
Sudah 1.438 Karyawan Hotel Dirumahkan, Pengamat: Ekonomi Kalsel akan Cepat Bangkit
Pakar ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, Prof Alim Bachri (kiri). | Foto: Ulm.ac.id

PROKAL.CO, BANJARBARU - Anjloknya tingkat okupansi hotel sepanjang pandemi virus corona membuat sejumlah hotel di Banua mengurangi biaya operasional. Bahkan, beberapa diantaranya sampai harus merumahkan karyawannya agar pengeluaran dapat ditekan.

Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kalimantan Selatan mencatat hingga kemarin (8/4) sudah ada sekitar 1.438 karyawan hotel yang dirumahkan. "Karyawan yang dirumahkan ini tidak lagi dibayar," kata Sekretaris BPD PHRI Kalsel, Fahmi.

Dia mengungkapkan, hotel-hotel memilih merumahkan sebagian karyawannya lantaran butuh banyak biaya dalam operasional. "Minimal hotel harus terisi 40 persen okupansi baru biaya operasional bisa tertutup. Sekarang rata-rata okupansi di bawah itu," ungkapnya.

Selain banyak karyawan yang dirumahkan, Fahmi menuturkan bahwa jumlah hotel yang memilih tutup juga terus bertambah. Dikarenakan tingkat huniannya yang turun drastis. "Bahkan ada yang tingkat huniannya nol persen. Hal itu tentu membuat hotel kekurangan biaya operasional," tuturnya.

Lanjutnya, berdasarkan informasi yang mereka himpun, sampai saat ini sudah ada 12 hotel yang tutup. Dari total 89 hotel anggota PHRI Kalsel. "Paling banyak tutup, hotel non bintang dan hotel bintang 3. Masing-masing ada 4 hotel yang tutup. Sisanya, hotel bintang 2 dan 4," ujarnya.

Lalu apakah pembebasan pajak dari pemerintah bisa membantu hotel agar bisa bertahan di tengah pandemi? Menurutnya, itu hanya cukup membuat hotel bertahan agar karyawan tidak dirumahkan semuanya. Pasalnya, pajak hanya sebesar 10 persen dari total pendapatan kamar. "Kalau untuk operasional tetap tidak menutup," bebernya.

Fahmi memaparkan, satu-satunya yang bisa membuat biaya operasional hotel tertutupi hanyalah tingkat okupansi yang bisa mencapai 40 persen. "Karena pendapatan hotel satu-satunya adalah kamar. Kalau yang menginap sedikit, maka pendapatan juga akan minim," paparnya.

Maka dari itu, dia mengatakan, saat ini hotel-hotel terus berupaya meningkatkan okupansi. Dengan cara menawarkan paket-paket menginap yang menarik untuk konsumen. "PHRI sendiri tidak ada kewenangan untuk mematok harga kamar terendah. Yang penting, hotel bisa bersaing sehat," katanya.

Meski ada yang mematok harga kamar murah, namun menurutnya hotel-hotel akan tetap berupaya mencari keuntungan dengan tidak menyewakan kamar jauh di bawah harga pasaran. "Karena kalau harga kamar terlalu murah, akan berakibat berkurangnya benefit(keuntungan). Bahkan, hingga kerugian untuk perusahaan," ujarnya.

Secara terpisah, GM Grand Dafam Q Hotel Banjarbaru Roy Amazon mengungkapkan, rendahnya tingkat okupansi saat ini benar-benar membuat mereka harus memutar otak agar bisa menekan biaya operasional. "Kebijakan yang kami lakukan ialah mengurangi hari kerja karyawan," sebutnya.

Selain berupaya menekan biaya operasional, Roy menyampaikan bahwa pihaknya juga masih mencoba menarik minat tamu dengan memberikan promo harga kamar.

"Kami juga melakukan penanganan pencegahan virus dengan mengecek suhu tubuh semua pengunjung dan karyawan yang datang. Serta, menyediakan hand sanitizer di seluruh area terbuka dan pembersihan seluruh area hotel dengan disinfektan," pungkasnya.

Ketua Banua Hotel Community, Devy Antonius mengungkapkan, lantaran sepinya tamu, sudah ada empat hotel di Banjarmasin yang operasionalnya berhenti sementara.

Pihaknya masih sangat berharap, kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemko Banjarbaru dan Pemkab Banjar, dikeluarkan pula oleh Pemko Banjarmasin dalam waktu dekat. Setidaknya, dengan adanya relaksasi pajak hotel dan restoran akan dapat meringankan pelaku bisnis perhotelan “Sementara, ini yang kami harapkan selain pandemic Covid-19 berlalu,” harapnya.

---

Sementara itu, pakar ekonomi Universitas Lambung Mangkurat, Prof Alim Bachri memprediksi ekonomi Kalsel akan cepat pulih seperti sediakala selesai pandemi ini. “Misalkan wabah ini berakhir bulan Mei, sekitar bulan Oktober perekonomian Kalsel akan kembali seperti biasa,” yakinnya.

Dia memiliki alasan untuk itu, potensi ekonomi Kalsel seperti pertambangan batu bara dan perkebunan kelapa sawit yang sudah berkembang, akan menopang perekonomian. “Sektor ini boleh dikatakan tak terlalu terdampak. Jika ekonomi pulih, investor kembali datang,” sebutnya.

Alim tak berharap banyak di sektor pariwisata di masa sekarang ini. Pasalnya di masa pandemi, orang-orang akan menyimpan uang terlebih dahulu. “Saat ini tak ada aktivitas ekonomi yang signifikan dari kelompok masyarakat. Artinya mereka juga tak banyak memiliki uang,” katanya.

Lalu sampai kapan pengusaha bisa bertahan dengan kondisi saat ini? guru besar ekonomi ULM yang juga menjabat sebagai Regional Chief Economist Bank BNI Wilayah Kalimantan ini mengatakan jawabannya sangat tergantung kekuatan pemilik modal. 

Akan tetapi, kekuatan modal ini berhubungan erat dengan respon pasar. Terlebih, banyaknya kabar-kabar di media sosial yang menyampaikan kabar tak bagus dengan pandemi Covid-19 ini. “Ketika dapat kabar tak bagus. Mana mau orang datang. Di sini peran pemerintah nanti, agar ekonomi cepat pulih,” tandasnya.

Dia memprediksi jika pandemic Covid-19 ini tak berlalu sampai akhir tahun, maka akan terjadi resesi ekonomi dunia. “Semoga saja ini tak terjadi. Sangat ngeri jika Covid-19 ini berkepanjangan,” ujar Alim kemarin. (ris/mof/ran/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers