MANAGED BY:
MINGGU
07 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 09 April 2020 10:40
Tak Tinggal di Rumah Saat Corona; Nafkahi Anak dan Cucu, 30 Ribu Saja Sudah Syukur
WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN TULANG PUNGGUNG KELUARGA: Sihan menjajakan buah berkeliling kota. Dia tak bisa tinggal di rumah di era corona.

PROKAL.CO, Virus corona mengubah dunia, tapi tidak kehidupan. Ada orang-orang yang terus berjuang di jalan karena mereka tak punya pilihan.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

Awan hitam tampak merubung langit Kota Banjarmasin, kemarin (8/4) siang. Berjam-jam menjajakan dagangan, Sihan, kakek berumur 70 tahun satu orang cucu itu baru mengantongi uang Rp10ribu. Tepatnya, setelah seorang perempuan membeli setengah kilo jeruk dagangannya.

Sihan, lahir di Alabio, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Setiap hari, dia mengayuh sepeda tua dengan keranjang berisi buah-buahan segar. Hasil dari penjualan, selain dipakai untuk kebutuhan di rumah, sebagian lain disisihkan untuk membeli buah-buahan, langsung dari agen buah di pasaran.

"Kalau tidak punya uang, buah-buahan saya utang dulu. Saya bayar ketika uang sudah terkumpul," ucapnya, kemudian tersenyum.

Bangku di trotoar pinggir Jalan A Yani, Kilometer 5 Banjarmasin, menjadi tempat favorit Sihan melepas penat. Sesekali, matanya melirik ke sepeda tuanya. Di dalam keranjang, hanya ada dua jenis buah yang dijualnya. Pisang dan jeruk.

"Sekarang yang musim cuma dua jenis buah ini. Biasanya saya juga bawa rambutan," tuturnya.

Sudah 30 tahun, Sihan menjajakan buah. Namun menurutnya, baru kali ini dia merasa benar-benar penat. Bukan karena persoalan umurnya, melainkan karena pandemi corona membuat banyak orang ketakutan turun ke jalan. Termasuk dirinya.

"Saya tidak bisa lagi leluasa berkeliling kota mengayuh sepeda. Pergerakan rasanya seperti dibatasi dan diawasi," ungkapnya sembari membetulkan letak masker yang menutupi separuh bagian wajahnya itu.

Ya. Sebelum pandemi melanda, Sihan, mengaku sanggup berkeliling ke seluruh penjuru Kota Banjarmasin. Memasuki kawasan demi kawasan, hingga buah-buahan yang dibawanya habis terjual. Namun kini, dia membatasi mengaku tetpaksa membatasi diri.

"Sekarang, hanya sanggup mengayuh hingga kilometer 5 ini saja. Selebihnya, saya masuk ke beberapa gang yang ada di sekitar sini," beber kakek yang tinggal di kawasan Manarap Kecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, ini.

Dan bila sebelum pandemi melanda, Sihan mampu membawa pulang Rp50 ribu, hal itu berbeda di situasi sekarang. Dengan lirih Sihan mengatakan penghasilannya kini jauh berkurang.

"Bisa membawa pulang Rp20 ribu saja sudah syukur. Beberapa hari lalu, Rp30 ribu," tururnya.

Sebagai kepala keluarga, Sihan harus menafkahi seorang istri, dua orang anak dan seorang cucunya. Dia tidak punya pilihan lain selain bekerja meski situasi sulit seperti sekarang.

"Anak pertama saya, masih harus beristirahat setelah mengalami cidera kaki ketika bekerja. Anak saya yang seorang lagi, sesekali bekerja sebagai tukang cuci motor. Istri saya, menemani cucu yang ditinggal wafat oleh ibunya yang merupakan istri dari anak pertama saya," urainya.

Sihan adalah salah satu contoh orang yang tetap bekerja di tengah pandemi. Dia, jelas berbeda seperti mereka yang masih bisa bekerja mulai rumah.

"Seusai seusai salat, saya hanya bisa berdoa semoga pandemi cepat berlalu," tuntasnya. (bersambung)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers