MANAGED BY:
JUMAT
29 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 04 Mei 2020 11:05
Mengantar untuk yang Terakhir, Kalsel Berkabung Kepergian Guru Zuhdi
BERDUKA: Para jemaah menyambut ambulans yang membawa jenazah KH Ahmad Zuhdiannor di Belakang Masjid Jami Banjarmasin, Sabtu (2/5) sore. | FOTO: M OSCAR FRABY/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Sabtu sore itu hujan turun deras di langit Kalimantan Selatan. Langit seperti turut berduka akan kepergian KH Ahmad Zuhdiannor. Sang ulama yang terkenal dengan ketinggian akhlaknya itu diantar dengan iringan tangis warga banua.

---

Raungan tangis dan salawat mengiringi kedatangan jenazah Guru Zuhdi, panggilan akrab KH Ahmad Zuhdiannor. Ambulans yang membawa jasad Sang Guru meluncur pelan ke rumah duka di Belakang Masjid Jami Banjarmasin. Hujan yang turun membuat suasan semakin haru.

Pelayat sudah menunggu sejak pagi di sekitar rumah duka. Kabar yang sampai, Guru Zuhdi yang meninggal di RS Medistra Jakarta memang langsung diterbangkan ke banua.

Begitu dapat kabar bahwa pagi itu juga jenazah Guru Zuhdi diterbangkan ke banua, para jemaah menunggu di bandara. Ratusan anggota pemadam kebakaran (damkar) dan jemaah berdatangan di depan gerbang Lanud Syamsudin Noor, Jalan Angkasa, Landasan Ulin, Banjarbaru.

Salah seorang anggota Kesatuan Balakar 564 Banjarmasin, Iwan mengatakan, hampir semua damkar di Banjarmasin datang menjemput jenazah Guru Zuhdi di bandara untuk mengantarkan ke tempat pemakaman. "Karena beliau merupakan panutan kami. Serta, ulama besar kebanggaan kami," katanya.

Bukan hanya itu, diungkapkannya bahwa para anggota damkar juga ingin menunjukkan rasa solidaritas terhadap Almarhum yang selama ini ikut aktif sebagai relawan pemadam kebakaran. "Beliau merupakan Ketua BPK Majta di Masjid Jami Sungai Jingah. Dan selalu turun ketika ada kebakaran," ungkapnya.

Selain di bandara, ribuan jemaah juga berdatangan ke Kota Citra Graha, Jalan A Yani Km 17,5, Banjarbaru. Lantaran, beredar kabar jenazah Guru Zuhdi akan dimakamkan di sana.

Tampak area parkir di depan kompleks penuh dengan kendaraan. Sedangkan, di gerbang sejumlah petugas sibuk melakukan penyemprotan disinfektan terhadap para jemaah yang masuk.

Sementara itu, di dekat area yang disebut-sebut bakal menjadi lokasi pemakanan, yakni di sebelah Masjid Harun Aliyah, Kota Citra Graha, terlihat dipadati sejumlah jemaah. Mereka setia berjam-jam menunggu kedatangan jenazah.

Ramiyansyah misalnya, dia mengaku datang dari Sungai Jingah, Banjarmasin sejak pukul 11.00 Wita demi bisa melihat prosesi pemakaman jenazah Guru Zuhdi. "Padahal rumah saya dekat dengan Masjid Jami. Tapi karena infonya dimakamkan di sini, jadi saya ke sini," ujarnya.

Hingga pukul 14.00 Wita, jemaah masih terus berdatangan. Sementara, jenazah Guru Zuhdi belum juga tiba di Kota Citra Graha.

Pada akhirnya, sekitar pukul 16.00 Wita para jemaah mendapat kabar bahwa jenazah Ulama yang dikenal murah senyum tersebut ternyata dimakamkan di dekat kediamannya di Banjarmasin. Mendengar hal itu, jemaah kemudian membubarkan diri.

Sebagian jemaah ada yang mencoba mendatangi ke lokasi pemakaman di Banjarmasin. Sedangkan sisanya, memilih berdiam diri di pinggir Jalan A Yani Km 17,5 untuk menunggu ambulans yang membawa jenazah Guru Zuhdi melintas dari Bandara Syamsudin Noor.

Benar saja, sekitar pukul 17.30 Wita rombongan jenazah Guru Zuhdi melewati Kota Citra Graha (KCG), Jalan A Yani Km 17.5 dengan iring-iringan sejumlah armada damkar dan jemaah.

Sontak hal itu pun membangunkan euforia para jemaah yang sudah menunggu selama berjam-jam. Sebagian dari mereka ada yang ikut mengawal dan mengiringi ke Banjarmasin.

Jenazah sendiri sebelumnya tiba di Bandara Internasional Syamsudin Noor pukul 16.30 wita, dengan menggunakan maskapai Lion Air Boeing 737-9GP (ER) dari Bandara Internasional Soekarno Hatta.

Begitu mobil ambulan yang membawa jasad almarhum tiba Jalan Masjid Jami, jemaah menyemut langsung menyambutnya. Para relawan sempat kewalahan untuk mengatur jalan masuk.

Suasana haru begitu terasa saat iringan rombongan memasuki jalan menuju kediaman almarhum. Tak sedikit yang menangis dan berurai air mata. “Beliau sangat bersahaja,” tutur Aslami salah satu pengikut almarhum yang tak pernah absen setiap kali pengajian di Masjid Jami Banjarmasin.

Dengan air mata terurai, dia mengatakan, banyak ilmu agama yang didapat dirinya ketika mengikuti pengajian sang guru. “Yang paling saya ingat, beliau berpesan agar jangan mengeluh dan tetap bersyukur dengan keadaan,” sebutnya.

Hal senada disampaikan Zailani, mengikuti pengajian Guru Zuhdi sejak tiga tahun silam sebutnya, dia tak pernah absen ketika pengajian di Masjid Jami. “Tak bisa lagi saya berkata-kata,” tuturnya dengan mata berkaca.

Di jajaran para pejabat, terlihat Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina, Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol Rachmat Hendrawan dan Dandim 1007/Banjarmasin. Rachmat Hendrawan bahkan sejak siang sudah berada di lokasi untuk mengatur jemaah yang sudah menunggu. Terlihat pula Kapolsek Banjarmasin Utara AKP Gita Suhandi Achmadi.

Saking banyaknya jemaah yang datang, pagar Kompleks Guru Zuhdi sempat hampir roboh. Para petugas pun terus agar jemaah melakukan social distancing.

"Sabar-sabar, mohon dimaklumi ini demi semua. Nanti para jemaah juga dipersilakan untuk melihat lokasi makam almarhum guru. Biarkan dulu pihak keluarga," pinta Gita Suhandi Achmadi dengan pengeras suara.

Usai dikeluarkan dari mobil ambulans, jenazah Guru Zuhdi dibawa masuk ke dalam rumah. Usai salat magrib jenazah dikeluarkan dan disalatkan.

Salat fardu kifayah berlangsung bergiliran untuk menghindari kerumunan lebih banyak. Hal ini membuat salat fardu kifayah berlangsung lama, dari Maghrib hingga bada isya.

Guru Zuhdi akhirnya dimakamkan sekitar pukul 22.00 Wita di Aula Majta, hanya beberapa meter dari kediaman Jalan Antasan Kecil Timur Banjarmasin Utara. Proses pemakaman pun berjalan lancar. Namun beberapa saat setelah itu hujan deras turun diserta angin.

Rahmat 19, pemuda asal Anjir Pasar Batola, salah satu jemaah rutin yang mengikuti pengajian guru zuhdi mengatakan dia beruntung bisa masuk ke dalam area pemakaman. " Tadinya kesini dengan beberapa teman, tapi yang lain tidak bisa masuk," ucapnya.

Rahmat mengaku dia tak bisa menghadiri pengajian terakhir almarhum guru sebelum masa pandemi. " Ini yang terakhir dan alhamdulillah saya diberikan kesempatan di hari terakhir bertemu beliau ini. Selamat Jalan Guru, bimbingan dan ilmu agama yang diberikan akan kami amalkan," ucapnya.

---

KH Ahmad Zuhdiannoor kelahiran Alabio 10 Februari 1972 silam. Selain dikenal humoris dia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tak jarang, dia terlihat ikut bahu-membahu dengan para pemadam di Banjarmasin untuk memadamkan api. Banjarmasin memang kota dengan intensitas kebakaran yang sering. 

Guru Zuhdi memang memiliki darah keturunan ulama. Sang kakek, KH Asli adalah tokoh ulama di Alabio, Hulu Sungai Utara. Tak hanya itu, sang ayah, KH Muhammad, adalah mantan pemimpin pesantren Al-Falah Banjarbaru.

Guru Zuhdi hanya sempat mengenyam pendidikan formal di tingkat SD. Selebihnya dia belajar ilmu agama. Dia sempat belajar agama di Pesantren Al Falah. Kemudian belajar ke sang kakek di Alabio. Selama setahun almarhum belajar ilmu fikih, tajwid, tashrif, tauhid hingga tasawuf. 

Setelah itu, Sang Guru juga menimba ilmu kepada Tuan Guru Abdus Syukur, Teluk Tiram Banjarmasin. Abdus Syukur adalah ulama yang pernah mengecap pendidikan agama di Tanah Haram kurang lebih 25 tahun. Selama di sana, beliau menuntut ilmu kepada banyak ulama. Salah satunya Sayyid Muhammad Amin Al Qutbi, salah satu guru dari Syekh Muhammad Syarwani Abdan Bangil dan Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul.

Dengan Syekh Abdus Syukur, Guru Zuhdi cukup lama belajar agama. Bahkan hingga sang guru wafat. Setelah itu almarhum melanjutkan belajar agama kembali dengan Guru Sekumpul Martapura.

Pengaruh Guru Sekumpul sangat kuat di jiwa Guru Zuhdi. Terlihat dari gaya penyampain saat berdakwah, hingga gaya pakaian seperti memakai sorban putih yang sering dipakai Guru Sekumpul.

Guru Zuhdi memulai pengajian di rumah pribadinya di belakang Masjid Jami Banjarmasin sekitar tahun 2005 silam. Kala itu, pengajian hanya diikuti puluhan jemaah. Namun, kharisma dan gaya dakwah almarhum membuat jemaah terus bertambah.

Seiring berjalan, almarhum memulai pengajian di luar rumah yang pertama kali. Yakni di rumah salah satu keluarganya di Jalan Sulawesi Banjarmasin. Lantaran jemaah terus bertambah, pengajian dipindah ke Masjid Al Aman, Pasar Lama. 

Cara berceramah yang kaya dengan cerita jenaka serta petuah yang damai membuat banyak jemaah terpukau. Hingga sebelum wafatnya, pengajian Guru Zuhdi di Masjid Jami Banjarmasin selalu didatangi ribuan jemaah. Selain itu, pengajian rutin juga digelar di kediamannya dan di Langgar Darul Iman Teluk Dalam serta Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin.

Guru Zuhdi sempat menon-aktifkan semua pengajiannya setelah Kalsel mulai berstatus darurat karena pandemi Covid-19. Sejak itu, jemaah mulai jarang mendengar kabar tentang Sang Guru.

Sepekan sebelum meninggal, kabar Guru Zuhdi sedang sakit beredar dari kalangan pengikutnya. Tetapi, tak banyak yang tahu. Sebelum kemudian berita duka datang di pagi hari Sabtu (2/5) itu. Guru Zuhdi meninggal setelah dididiagnosa mengalami kanker paru.

“Seluruh warga di Banua kehilangan pembimbing umat yang selama ini menjadi pelita di tengah kehidupan masyarakat,” ucap Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor.

Dia juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Guru Zuhdi sekaligus mendoakan almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. “Jasa almarhum dalam melaksanakan dakwah serta syiar Islam patut menjadi teladan bagi kita semua,” ucapnya.(ris/mof/lan/ran/ema)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 16 Mei 2020 09:27

Bahan Menumpuk, Puluhan Baju Tak Diambil Pemesan

Pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Hingga kemarin, wabah penyakit mematikan…

Jumat, 15 Mei 2020 12:01

Menjenguk Alwi, Pria 73 Tahun yang Berhasil Lolos dari Keganasan Covid-19

Mengidap Covid-19 di usia ke-73 membuat banyak orang meragukan Alwi…

Rabu, 13 Mei 2020 11:48

Guru Agama Mencari Jalan Berdakwah di Tengah Pandemi: Buka Pengajian Online, Tausyiah Via Youtube

Adanya larangan melaksanakan aktivitas yang melibatkan banyak orang selama pandemi…

Rabu, 13 Mei 2020 10:34

Cerita Penjual Tempe Gembos di Tengah Wabah Virus Corona: Penghasilan Sehari Hanya Cukup Beli Beras dan Sayur

Wabah virus corona Covid-19 di Kabupaten Tanah Bumbu, menyebabkan perekonomian…

Sabtu, 09 Mei 2020 12:48

Sudah Pakai Masker, Tetap Saja Sepi; Nasib Para Penyandang Tunanetra di Banjarbaru Selama Masa Sulit

Di masa pandemi, orang-orang memilih untuk menjaga jarak. Kecenderungan ini…

Rabu, 06 Mei 2020 13:32
Pengalaman ODP Menjalani Isolasi Berkelompok di SKB Bypass Rantau

Dilayani dengan Baik, ODP ini Menyesal pernah Menolak Isolasi

Ada 18 orang warga Kabupaten Tapin yang sebelumnya berstatus orang…

Selasa, 05 Mei 2020 12:36

Jangan Sibuk Mengeluh, Meniru Semangat Sang Badut Jalanan

Dalam keheningan malam, pria 37 tahun itu berjalan tertatih-tatih. Sesekali…

Senin, 04 Mei 2020 11:05

Mengantar untuk yang Terakhir, Kalsel Berkabung Kepergian Guru Zuhdi

Sabtu sore itu hujan turun deras di langit Kalimantan Selatan.…

Senin, 04 Mei 2020 10:21

Sepatu Bekas Dilelang, jadi Paket Bantuan Sembako

Cara penggalangan donasi yang dilakukan oleh sekelompok anak muda Banua…

Sabtu, 02 Mei 2020 11:35

Yang Positif Covid-19 Bukan Jukir, tapi Bos Lahan Parkir; Pengunjung Berkurang 75 Persen

Sejak tersiar kabar seorang juru parkir (jukir) Pasar Sentra Antasari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers